Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Konten


__ADS_3

"Gimana, gimana?" Tanya Tara tak sabar.


"Sstt diem bentar," ujar Prita 


Keduanya sibuk menghindari media yang sejak subuh berderet di depan apartemen mereka. 


Gosip Lintang tentu saja menyeret namanya. Meskipun seribu kali Tara bilang mereka sudah putus namun media terus mengikuti kemanapun Tara pergi.


Terpaksa Prita lagi yang kena batunya. Mau tak mau mereka menyewa jasa keamanan dan menuntut pihak apartemen agar melindungi penghuninya.


"Lah gimana ini, ada penghuni saya yang ikut pindah karena kegaduhan yang kalian buat. Saya juga ikut rugi," ujar Seto petugas yang ditunjuk untuk menangani komplain dari Prita dan Tara.


Meskipun Prita berhasil memenangkan perdebatan mereka. Tetapi mereka juga mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengatasi keributan yang mereka buat. Sudahlah sekarang kalau ingin cepat, uanglah solusinya pikir Tara. Dia tak mau berlama-lama main kucing-kucingan dengan media.


Pihak manajemen artisnya pun sengaja membuat jadwal shooting konten di luar negeri agar artisnya nyaman. 


"Lo di mana?" tanya Tara pada Tedja. Tara mendekatkan ponselnya ke telinga sambil memantau sekeliling tempat parkir.

__ADS_1


"Udah dekat bandara. Buruan!" ujar Tedja.


Tanpa menjawab pertanyaan Tedja, Tara langsung mematikan ponselnya. Topi, masker, hoodie dan celana baggy yang dia kenakan membuatnya terlihat super horrible. 


"Apakah ini fashion jaman batu?" komentar Tara pada Prita.


"Sudah pakai saja, ntar juga sampai di Dublin bakal dingin banget," ujar Prita sok tahu.


Setelah melewati berbagai rintangan dan keribetan, keduanya take off menuju Irlandia. Hari ini pertama kalinya Prita dan Tara menuju Eropa. Selama ini tempat terjauh yang pernah Tara dan Prita datangi adalah negara di wilayah Asia Tenggara.


Tedja dan Kingston yang melihat kelakuan Tara dan Prita hanya bisa mengelus dada. Kedua Pria itu menutupi wajahnya saat Tara dan Prita mulai bertingkah norak di pesawat atau di bandara manapun yang mereka singgahi.


"Habisin duit perusahaan. Udahlah, bikin konten apa kek di sini. Biar Youtube kalian naik dikitlah viewersnya," komentar Kingston.


Tedja akui perusahaan tidak setengah-setengah memberikan pelayanan. Semua akomodasi lengkap. Meskipun tempat tinggal mereka hanyalah rumah sewa sederhana khas pedesaan di Irlandia. Setidaknya jauh lebih nyaman dari hiruk pikuk Jakarta. 


Tedja menyentuh ranjang besi yang ada di kamarnya. Rumah itu terbuat dari bata. Kusen pintu dan jendelanya dari kayu. Rumah beratap rendah itu memiliki pekarangan yang cukup luas, dan kebun sayur kecil. 

__ADS_1


"Hay kalian bisa bikin konten di sini," ujar Prita pada Tedja dan Tara.


Tara tak bisa menolak. Jauh lebih baik melakukan konten di sini dibanding dikejar media di Jakarta. Sudah lama dia tak merasa  damai. Kalau saja Lintang ada di sini, pasti dia merasakan perasaan yang sama.  


Ngomong-ngomong sejak gosip Lintang merebak, lelaki itu tak pernah menghubunginya lagi. Dia menghindari telepon Tara. Bahkan Prita ikut-ikut menghakimi Tara. 


Sekalipun mulut Tara kurang ajar, tetapi membocorkan rahasia Lintang sama sekali bukan gayanya. Prita memang tak percaya karena Tara pernah membuat drama di pelatnas. Tapi hanya itu saja tak lebih. 


"Jadi mau bikin konten apa nih," tanya Kingston antusias. Kingston dan Prita dua makhluk yang paling senang berlibur. Tara setengah antusias sedangkan Tedja  acuh tak acuh.


"Buat konten silent bisa gak sih?" tanya Tara.


Prita dan Kingston tak setuju. Menurut keduanya nilai jual Tedja dan Tara adalah gimmick kemesraan. Bukan konten bisu seperti usulan Tara.


Tedja terkikik geli melihat perubahan raut wajah Tara. 


"Narasinya dibacakan ajalah. Konten bisu juga gak papa. Konten Aesthetic kan maksud kamu?" tanya Tedja.

__ADS_1


Kali ini Tara tak banyak protes.


...----------------...


__ADS_2