
Regata menatap Lintang canggung. Sejak kedatangannya satu jam yang lalu, lelaki itu menolak menatap Regata. Lintang menyapa semua orang di rumah itu, kecuali Regata. Bahkan saat makan siang pun Lintang mengabaikan Regata. Sekarang pria itu membawa Mia berkeliling kampung dengan sepeda ontel milik eyangnya.
Arimbi sang ibu tentu saja tak bisa mencampuri lebih jauh. Bagaimanapun juga, mereka bukan lagi sejoli yang sedang mabuk asmara melainkan orang tua.
Pertemuannya dengan Lintang di Jakarta tentu saja tak terelakan. Menantunya itu mengantongi izin dari Danuh suaminya yang tentu saja tak bisa dibantah Arimbi. Lagipula, saat ini keluarganya sedang dalam kondisi yang tak stabil menghalangi Lintang tentu hanya menambah daftar panjang masalah di keluarga.
"Sana nyusul mereka," ujar Arimbi pada Regata.
Keduanya duduk di pondok yang mengarah ke area persawahan. Tampak Lintang dan Mia berpegangan tangan mengitari area persawahan.
Semakin Regata memperhatikan mereka, semakin terasa kemiripannya. Meskipun secara fisik, wajah Mia bak pinang dibelah dua dengannya Regata tak bisa memungkiri sifat, tingkah laku, gaya bicara Mia selalu mengingatkannya pada Lintang.
Sorot mata kecewa milik Lintang sesaat mengecilkan rasa percaya diri Regata. Lintang mendiamkannya dan Regata tak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena harga dirinya begitu tinggi melainkan karena Regata takut Lintang dan Mia membencinya.
"Ayo pulang, nanti keburu malam," suara Arimbi mengagetkan Regata.
Lintang dan Mia berjalan ke arahnya. Arimbi yang paham segera menggamit tangan Mia agar berjalan lebih cepat. Regata berusaha mempercepat langkahnya, mengejar Arimbi.
"Mau sampai kapan kamu sembunyi," suara serak Lintang terdengar putus asa.
Regata menelan ludah dengan susah payah. Suara Lintang terasa menusuk telinganya.
"Surat itu beneran kamu yang tulis," tanya Lintang lagi.
__ADS_1
Belum sempat Regata menjawab, Lintang menghembuskan nafas frustasi.
"Ya sudahlah," ujar Lintang lemah, sambil mengacak rambutnya.
Lelaki itu mengejar langkah Arimbi dan Mia, meninggalkan Regata yang sesaat termenung.
Regata merutuki kebodohannya. Mengapa otaknya lambat merespon pertanyaan Lintang.
*****
Regata membereskan sisa makan malam. Usai melakukan rutinitasnya, Regata berniat masuk kamar dan tidur.
"Bisa kita bicara sebentar?," tanya Lintang.
Regata mengikuti langkah Lintang, menjauh dari rumah. Kebetulan halaman rumah itu cukup luas, ada rumput
Regata menggeleng.
"Kalau kamu takut, biar aku yang bilang," ujar Lintang tegas.
"Kita berdua telah berkorban banyak hal, waktu, pekerjaan, dan masa depan. Kalau saja kamu bisa menjelaskan lebih awal, mungkin tidak akan sebesar ini masalahnya," cerocos Lintang.
Regata membisu, membiarkan Lintang mengeluarkan unek-uneknya.
__ADS_1
"Selama ini keluargamu menyembunyikan keberadaanmu. Setidaknya sebelum kamu menikah, jelaskan dulu pada Mia. Satu hal yang harus kamu ingat, aku juga berkewajiban menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang ayah. Mia akan tinggal denganku," kata Lintang.
Regata terganggu dengan kata menikah, yang keluar dari mulut Lintang. Kata itu seolah menuduh Regata akan mencari pengganti setelah sekian lama menanti waktu yang tepat bertemu Lintang.
Sementara Lintang, bukan tanpa alasan tuduhan itu keluar dari mulutnya. Selama ini kedatangannya tidak pernah disambut baik di keluarga Regata, tidak ada yang berniat memberikan informasi tentang Regata.
Saat dirinya di puncak karir, Regata muncul bersamaan dengan tuduhan asusila. Karirnya hancur begitu saja, sponsor membatalkan kerjasama, skors dari pelatnas, ganti rugi kontrak iklan, larangan bertanding sementara dan rentetan masalah lainnya. Lintang berusaha ikhlas dengan masalah bertubi-tubi itu, mungkin itu karma yang harus ditanggungnya. Penebusan dosanya pada Mia dan Regata.
Semuanya diambil darinya, tetapi tidak dengan putri semata wayangnya. Hanya Mia satu-satunya yang dapat menyembuhkan Lintang.
"Besok kita kembali ke Jakarta, waktumu hanya tersisa besok. Setelah itu, Mia akan tinggal bersamaku," ujar Lintang.
"Kenapa?" Regata akhirnya buka suara.
Lintang tak mengerti maksud Regata.
"Kenapa kamu berpikir aku akan menikah dan meninggalkan Mia? sepanjang hidupku, selalu dihantui ketakutan bahwa Mia membenciku," isak Regata.
"Takut dibenci? lalu kamu kira menghalangi Mia menjadi atlet membuatnya baik-baik saja? pernah gak kamu sekali saja tanya Mia apa yang dia mau? semuanya bukan tentang Mia tetapi kamu, yang terlalu pengecut," jelas Lintang.
Air mata Regata tak terbendung. Kilas balik masa kecil Mia terulang di benaknya. Lintang sengaja tak mendiamkan Regata, hingga Regata sendiri berhenti terisak.
"Keputusan ada ditanganmu. Nomor handphone ku masih sama, hubungi aku kapan saja," kata Lintang.
__ADS_1
Tangannya terulur membantu Regata berdiri. Keduanya kembali ke rumah. Lintang membaringkan tubuhnya di atas dipan mungil di ruang televisi. Dia merapatkan jaketnya, membiarkan Regata menyelimuti tubuhnya dengan sebuah sarung tipis. Malam ini, pertama kalinya Lintang tidur dengan tenang.
...----------------...