
“Bi Ninaaa…” teriak Mia berlari memeluk Bi Nina. Mia memeluk pinggang Bi Nina erat sembari menyembunyikan wajahnya di balik tubuh wanita paruh baya yang tampak lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.
Senyum sumringah menghiasi wajah Regata sekaligus ada perasaan lega dalam hatinya. Bi Nina kembali bekerja setelah lewat dua minggu merawat suaminya. Mengingat Bi Nina satu-satunya tulang punggung dalam keluarga itu, dia tidak bisa berlama-lama tinggal dirumah tanpa bekerja. Terpaksa Bi Nina membawa keponakannya dari kampung untuk membantunya mengurus suaminya di saat dirinya tidak di rumah.
“Mbak” panggil Bi Nina sambil melihat kondisi dalam rumah.
Lantai yang jelas sekali disapu asal-asalan, sofa, kursi, meja dan perabotan lainnya tampak berdebu. Peralatan dapur ditata tidak pada tempatnya, panci dan wajan yang tampak menghitam di bagian luarnya, yang paling membuat Bi Nina mengurut dada sambil istigfar adalah tumpukan pakaian kusut di keranjang.
“hehe” Regata nyengir tanpa rasa bersalah.
“Maklum Bi, aku sibuk banget sampai lupa ngurusin rumah. Lagian cari asisten yang rajin dan bersih kayak Bi Nina sekarang langkah banget. Yang paling ngeselin kalau asistennya gak jujur” Regata ngeles, sambil menaik turunkan alisnya.
Bi Nina berusaha tersenyum di tengah kegundahan hatinya. Kata jujur menyentil nuraninya. Dia segera pamit pada Regata untuk melanjutkan pekerjaannya.
Regata menggerak-gerakan badannya, berolahraga kecil sambil melihat pekarangan rumahnya yang mulai ditumbuhi rumput liar. Dia harus segera memanggil tukang kebun kompleks agar tamannya kembali indah.
__ADS_1
Hari ini hari Minggu yang cerah, Regata menimbang-nimbang akan liburan kemana hari ini. Ada banyak rencana besar di kepalanya, mulai dari shopping ke pusat perbelanjaan, hingga healing ke luar kota. Setelah menghitung-hitung biayanya Regata memutuskan untuk pergi ke tempat spa langganannya dan shopping. Tak apalah boros sedikit, ini kan tidak tiap hari, jangan pelit sama diri sendiri, batin Regata membela diri.
“Tin..tin..tin” klakson mobil terdengar di luar pagar rumahnya. Regata yang sedang melakukan relaksasi mengalihkan pandangannya.
“Siapa sih pagi-pagi gini udah ribut?” ujar Regata sambil menengok ke luar pagar.
“Belum siap?” tanya Genta heran.
“Emang sekarang udah jam berapa?” Regata bertanya balik.
Genta menunjuk layar ponselnya, pukul 11.45 WITA.
“Daebak” gumam Regata memuji dirinya sendiri.
“Tinnn…”
__ADS_1
Regata mengerjap-ngerjapkan matanya. Raut wajah Genta tidak sabaran menunggu respon wanita di hadapannya.
“Aku belum siap. belum mandi dan dandan. Lain kali saja kita perginya” ujar Regata.
“Sopankah begitu?” tanya Genta dingin.
Regata tergagap, tidak menyangka Genta akan mengajukan pertanyaan semacam itu.
“Siap sekarang, aku tunggu. Buka gerbangnya lebih lebar” perintah Genta.
“Mia, buruan siap, udah ditungguin om Genta” ajak Regata pada putrinya.
Sembari menunggu kedua orang itu siap, Genta mengitari ruang tamu, dapur dan taman rumah Regata. Dia berbincang-bincang dengan Bi Nina tentang keadaan suami Bi Nina hingga keluarga kecil di rumah ini. Entah mengapa, kehidupan Regata sangat menarik bagi Genta. Terlalu dini bagi Genta untuk bertanya langsung pada Regata. Memori Genta kembali pada kejadian awal dirinya dan Regata bertemu. Susah baginya mengalihkan perhatian Regata hingga mereka cukup dekat sekarang. Kalau Genta membombardir Regata dengan pertanyaan pribadi bisa-bisa Regata kabur.
“Ayo berangkat” Regata telah berdiri di belakang mereka, sambil menggandeng Mia.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian ….
Regata telah berbaring di tempat spa ditemani alunan musik. Tubuh dan pikirannya perlahan-lahan mulai rileks, rasa kantuk menyerangnya. Biarkan saja dr. Genta dan Mia pergi kemanapun yang mereka suka yang Regata inginkan sekarang adalah terlelap, tanpa memikirkan apapun.