Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Tadaaa...


__ADS_3

Tara menatap layar ponselnya yang tengah memutar pertandingan final SEA Games. Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum shooting adegannya di mulai. Dia mencari wajah Lintang diantara tim putra Indonesia. Matanya berbinar bahagia saat melihat Lintang duduk di deretan line up tim putra. Niko tampil sebagai pemain pertama melawan Thian Hao. Keduanya melakukan pemanasan. Line up kedua kubu tak berubah, masih mengandalkan duet skuad utama. Kedua tim tentu memiliki pertimbangan matang, tidak menurunkan skuat junior karena ini adalah laga final meskipun skuad utama belum tentu tampil baik. Lintang menjadi sorotan utama hari ini karena kekalahannya di laga kemarin.


Niko dan Thian Hao berada di rekor 8 kali pertemuan di tahun ini dengan dengan total lima kemenangan dan tiga kekalahan untuk Niko. Niko menyadari di level ini semua orang tidak akan berbicara tentang teknik karena mereka mempelajari teori dan praktek sejak usia mereka masih sangat kecil. Sepanjang pertemuan mereka, Niko dapat membaca sosok Thian Hao di lapangan. Power dan serangan yang solid adalah kunci utama Thian Hao. Sepanjang turnamen BWF tahun ini, Thian Hao banyak bertemu pemain rangking lima besar dunia, kemampuannya meningkat pesat.


Niko tampil percaya diri. Dia memainkan netting mengumpan agar Thian Hao mengangkat bola dan diselesaikan Niko dengan smash keras. Thian Hao tidak membutuhkan waktu lama untuk membalikan keadaan. Kini gilirannya memainkan speed dan power dalam pukulannya. Pukulannya tidak dapat dibendung Niko, beberapa kali bola tak berhasil dikembalikan dan sisanya berada di luar jangkauan Niko. Poin sebelum interval 11-7, Thian Hao memimpin.


Pertandingan terus berlanjut. Niko menjaga pikirannya tetap tenang karena lawan terpantau ingin segera mengakhiri babak pertama. Game point 20-18, Thian Hao meminta istirahat sebentar untuk mengelap keringat. Niko tetap berada di lapangan sesekali memainkan raketnya memukul-mukul di udara.


Pendukung Indonesia pasrah jika di babak ini Niko kalah dari wakil Malaysia, karena tumpuan mereka berada pada pemain selanjutnya yang diyakini mampu memenangkan medali emas.


Thian Hao melakukan smash dengan kekuatan penuh, Niko mengembalikan smash dengan sempurna, lawan bersiap melakukan smash kedua namun pukulannya membentur net. Skor Niko berubah menjadi 19. Thian Hao mengumpat kecil dia menoleh kepada pelatihnya yang hanya menatapnya yakin bahwa game pertama adalah milik wakil Malaysia. Niko melakukan forehand service memaksa lawan dalam posisi bertahan dan tidak memiliki kesempatan serangan balik. Thian Hao berlari ke belakang lapangan, dia mengembalikan pukulan Niko dengan teknik backhand. Niko dengan santai membuat sebuah sundulan kecil di depan net, jarak Thian Hao dan bagian depan net cukup jauh sehingga tak ada kesempatan bagi Thian Hao mengembalikan bola.


“Habisin, habisin, habisin” tim putri Indonesia menyemangati Niko.


“Malaysia boleh” teriak tim putri Malaysia menyemangati Thian Hao.


Flick serve Niko menambah angka beruntun bagi Indonesia, 21-20. Pukulan selanjutnya Thian Hao menjadi lebih agresif, memaksa Niko mengangkat bola dan melakukan pukulan lob. Niko meningkatkan pertahanannya, mengantisipasi pukulan kencang Thian Hao.


“Out” teriak wasit garis saat smash ke sisi lapangan yang berlawanan dengan tempat berdiri Niko melebar keluar garis lapangan. Babak pertama dimenangkan Indonesia.

__ADS_1


Babak kedua Niko tetap menjaga ketenangan karena babak pertama sudah ada dalam genggamannya. Dia tak mengizinkan lawan mengejar poinnya. Rasa percaya dirinya semakin meningkat, pertahanannya kuat, kemanapun bola di pikil lawan dia mengejarnya tak peduli berapa lecet yang ada di tangan dan lututnya dia tetap bangun mengejar bola. Thian Hao mengambil inisiatif merubah pola permainan, dia mengurangi speed dan power dalam pukulannya. Niko mengambil kesempatan membangun serangan saat dia merasa kekuatan pukulan lawan berkurang. Niko membatasi serangan balasan lawan, kecepatan dan netting adalah kelemahan lawan. Niko berhasil mengalahkan Thian Hao dengan skor 21-15.


Pertandingan kedua dimulai, ganda putra Indonesia bermain penuh percaya diri begitupun lawan yang tampil dalam performa on fire. Laga ini adalah laga seru yang telah ditunggu semua orang. Kedua tim memiliki gaya permainan yang sama dengan fokus di depan net dan bermain setengah lapangan. Malaysia menggunakan strategi pemain Cina ketika berhadapan dengan ganda Indonesia, ofensif dan defensif. Memblokir bola di depan net dan menarik sebanyak mungkin bola ke back court.


Saling mengejar poin tak dapat dihindari, kedua tim menunjukan kualitas permainan yang imbang. Indonesia hampir kehilangan arah permainan namun Pijar Gilang pemain belakang ganda Indonesia mengeluarkan smash yang paling menakutkan. Beruntung bagi tim Indonesia, eksekusi pukulan back court oleh Malaysia belum sesuai ekspektasi banyak bola melebar di tambah kondisi venue yang berangin pukulannya terkesan enggan dan keluar melewati lapangan.


Babak kedua pemain Malaysia tidak lagi bereksperimen seperti babak pertama, mereka kembali ke gaya permainan mereka yang sebenarnya. Drive cepat tak dapat dihindari, keduanya saling mematikan bola di depan net. Saat permainan semakin memanas Danar sengaja melakukan delay service, lawan pun protes dan Danar mendapatkan hadiah kartu kuning pertama sepanjang turnamen.


Danar menanggapi tepukan tangan kubu lawan dengan senyum jahil, dia tahu mental lawan terganggu bola-bola cepat lawan berhasil dimatikan dalam satu dua kali serangan hal itu membuat komunikasi lawan menjadi buruk, terlihat mereka saling menyalahkan di lapangan. Pijar pun ikut-ikutan berteriak setiap Indonesia mendapat poin di akhir poin lawan membanting raket dan berjabat tangan seadanya.


Lintang bersiap di backstage menunggu gilirannya dipanggil oleh pemandu acara. Dia melangkah menuju tribun, backsound instrumen Dan Bau alat musik tradisional Vietnam membangun suasana merinding di arena itu. Penonton diam mendengarkan instrumen yang mendayu-dayu itu.


Lintang melihat gambaran pemain muda di depannya sama ketika dirinya berusia 17 tahun. Takut menyerang dan terlambat mengambil keputusan karena beban dan ekspektasi masyarakat. Bermain penuh tekanan sungguh melelahkan, badannya berada di lapangan namun pikirannya berkeliaran ke mana-mana.


Lintang tidak perlu mengambil banyak langkah dan hanya perlu mengurangi kekuatan pukulan agar tidak out. Tanpa perlu bersusah payah dia memenangkan pertandingan setelah menggagalkan semua antisipasi lawan dan memberikan serangan serta tipuan shot tanpa jeda. Melihat pemain muda di hadapannya kehilangan semangat dan gairah bermain Lintang memeluknya dan mengeluskan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih dan terus berjuang. Pertandingan berakhir dengan kemenangan sempurna, rekor tim putra tak terkalahkan gaung Indonesia Raya disambut dengan penuh haru dan air mata akhirnya merah putih berkibar lagi.


Tepat di hari yang sama setelah semua pertandingan dan seremoni bulutangkis berakhir pemain tunggal putri nomor satu Vietnam Nguyen Thi Thuy memutuskan pensiun di usia 30 tahun dan mempublikasikan pernikahan sipilnya.


Annisa melihat kamera menyorot pendukung yang kebanyakan berusia paruh baya membawa spanduk, poster dan bendera Vietnam mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya pada Thi Thuy karena dedikasinya bagi tim badminton Vietnam.

__ADS_1


Meskipun kakinya belum sembuh total dan masih sakit, hati Annisa jauh lebih sakit menyaksikan atlet lain pensiun dengan tenang, sedangkan rumor pensiunnya yang bocor ke publik menjadi bahan olok-olokan. Fans mungkin hanya melihat momen ketika dia bertanding dan menang, adakah yang berpikir seperti apa kehidupannya? Di saat semua orang bersantai dia harus berlatih keras. Mengalahkan orang lain yang punya mimpi yang sama untuk berada di pelatnas. Tidak peduli seberapa lelahnya dia, dia terus bekerja keras di tiap menit hidupnya. Annisa paham fans menginginkan permainan bagus dan kemenangan di setiap pertandingan, pemain pun menginginkan hal yang sama tapi apakah mereka pernah mengerti bahwa mereka telah mengerahkan semua kemampuan dan tidak ada kemenangan yang mutlak di tiap pertandingan.


Annisa lelah, perlahan-lahan dia jenuh dengan rutinitasnya dan ingin segera pensiun namun nuraninya menolak. Dia punya mimpi menyumbangkan medali emas bagi beregu putri Indonesia dua kali dia diberi kesempatan dia tidak memanfaatkan itu dengan baik. Seandainya...


“tok, tok, tok” ketukan pintu kamar menyadarkan Annisa.


“Masuk” ujarnya dengan suara serak.


“Tadaaaaaaa.....” tim putri Indonesia berebut masuk ke dalam ruang perawatan.


“Kapten, kita dapat medali perak. Terima kasih untuk kerja kerasnya” mereka bergantian memeluk Annisa. Elfi mengalungkan medali milik Annisa di lehernya. Annisa menatap wajah berbinar timnya yang sibuk berswafoto dengan medali milik mereka, seingatnya dia belum pernah memposting dirinya dengan medali lain selain emas karena malu dan takut dengan hujan orang lain. Mengapa malu dengan kerja kerasnya jika ada yang tak suka mengapa itu menjadi beban baginya?


“Ayo semua ambil posisi, kita foto dengan kapten” ujar coach Naufal.


“Tag dong kalau posting” ujar Annisa pelan, wajahnya menahan tangis.


“Yessss” ujar sorak tim putri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2