Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Rumah


__ADS_3

Regata menginjakan kaki di depan rumah orangtuanya. Rumah itu tampak sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Om Bobby pamit dari semenit yang lalu, ada hal yang harus dia lakukan sehingga Regata harus masuk sendiri.


Regata mengali memorinya tentang rumah minimalis mereka. Rumah lantai dua itu tak banyak berubah. Tanaman di halaman dan keliling rumahnya masih sama, hanya dipangkas ranting dan daunnya.


“Mamaaa” teriakan Mia menggema memanggil Regata.


Mia berlari menghampiri Regata, memeluk erat pinggang ibunya, sosok yang sudah lama dia rindukan. Di belakang Mia tambak Arimbi dan Danu. Arimbi menutup wajahnya, mengusap air mata dengan lengan bajunya sedangkan Danu memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam rumah.


Regata memeluk Mia erat. Menumpahkan kerinduan yang dia pendam selama hampir sebulan. Putri kecilnya terlihat lebih berisi dan putih. Rambutnya mulai panjang dan bertambah tinggi dibanding bulan lalu. Mia tumbuh dengan baik.


“Ma..” Regata memeluk Arimbi sosok yang selama delapan tahun terakhir terus berhubungan dengannya, selalu ada di saat Regata kesulitan mengambil keputusan dan selalu ada di saat dia hampir menyerah menjadi seorang ibu tunggal.


Arimbi mengisyaratkan agar Regata menyusul Danu menuju taman kecil di samping dapur. Danu ada di sana memberi makan burung dan kelinci peliharaannya.


Regata ikut berjongkok di samping Danu, dia mengelus kelinci berbulu abu-abu yang baru saja beranak. Regata belum pernah melihat kelinci di rumah mereka, mungkin saja ayah membelikannya untuk Mia.


Keduanya diam, tak ada yang berniat memulai percakapan terlebih dahulu. Regata terlalu gugup hingga lidahnya kelu, semua kata-kata yang telah disusun rapi di otaknya hilang entah ke mana. Danu pun diam saja, tak tampak merindukan putri semata wayangnya. Regata tak berharap ayahnya akan bersikap baik padanya, setidaknya ayah mengajaknya berbicara atau marah padanya dibanding diam saja seolah tak terjadi apapun.

__ADS_1


Arimbi dan Mia melihat keduanya tak saling bertegur sapa. Arimbi sengaja mengajak Mia menjauh dari dua orang yang masih diam hingga mereka meninggalkan tempat itu.


Regata tak tahan dengan sikap dingin ayahnya. Dia tahu dia bersalah tetapi menghukumnya dengan tak mengajaknya berbicara terkesan kekanak-kanakan. Mereka dua orang dewasa yang seharusnya berbicara dengan kepala dingin. Regata membuang semua egonya, dia memulai percakapan mereka dia siang terik itu.


“Ayah” suara Regata tertahan. Bibirnya bergetar, matanya menatap ayahnya. Menunggu Danu yang sejak tadi sibuk sendiri balas menatap wajahnya, namun Danu tak kunjung menjawab panggilannya.


“Ayah” panggil Regata lagi, kali ini suaranya lebih kencang dari sebelumnya. Suaranya bergetar. Sebelum Regata melanjutkan ucapannya, Danu telah berbalik menjauh meninggalkan tempat itu menuju meja kerjanya.


Arimbi kembali memeluk Regata, mengantar Regata menuju kamarnya.


“Ma, mama baik-baik aja?” tanya Mia.


“Ata, biarkan ayah sendiri dulu. Nanti setelah makan malam kalian bisa bicara” bisik Arimbi.


Regata menatap Mia, putri kecilnya tampak cemberut melihat Regata sedih. Dipeluknya lagi Mia, dibelai wajah putri cantiknya lalu diciumnya berulang kali seolah tak mau kehilangan putrinya.


Sepanjang sore hingga makan malam tiba, hanya Arimbi dan Mia yang beraktifitas normal. Regata dan Danu masing-masing menggurung diri di kamar. Regata bernostalgia dengan sudut-sudut kamarnya yang tak berubah. Barang-barangnya tetap pada posisinya, masih lengkap. Danu pun sama, wajah Regata tak banyak berubah, hanya semakin dewasa dan tampak aura keibuannya. Waktu berlalu begitu cepat.

__ADS_1


Makan malam mereka lalui dalam keheningan. Arimbi berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Mia dan Regata berbicara, tapi tak banyak membantu. Regata hanya menjawab beberapa kata, sisanya hening hingga makan malam usai.


Mia antusias menunjukan kamarnya pada Regata. Kamar itu di design dengan stiker dan poster yang berhubungan dengan badminton. Regata tak kaget, dia sudah menduganya putri kecilnya pasti mengadu pada kakek dan neneknya. Meskipun keberatan, Regata berusaha tak marah pada Mia. Putri kecilnya antusias menunjukan majalah bulanan PBSI yang berisi profil dan wawancara atlet. Majalah ini bukan majalah yang bisa dibaca anak seusia Mia, mengapa orang tuanya memberi majalah yang tak layak baca begini, gerutu Regata sembari membolak-balikan halamannya.


“Ma, lihat ini” ujar Mia bersemangat. Satu set peralatan olahraga merk Yonex tersusun rapi di lemarinya. Regata hanya bisa menarik nafas dan tersenyum kecut. Melihat ibunya tak marah Mia makin semangat menunjukan barang-barang yang lain. Regata hanya manggut-manggut seolah mengizinkan Mia memiliki barang-barang yang mengganggu pandangannya.


Mia meminta Regata membacakannya cerita, hobi barunya sebelum tidur. Saat kecil, Regata sering dibacakan cerita oleh Danu dan sekarang Danu melakukan hal yang sama pada Mia. Mia tertidur di tengah dongeng Cindelaras, Regata bangun pelan-pelan dari ranjang, lalu membetulkan letak selimut. Dia mencium Mia, mengucapkan selamat tidur, mematikan lampu dan menarik pelan pintu kamar.


“Ma, papa di mana?” tanya Regata sambil berbisik pada Arimbi yang setia menunggu Regata menidurkan Mia.


“Di ruang kerja” Arimbi mengantarkan Regata menuju pintu ruang kerja Danu.


Pintu ruangan kerja itu sedikit terbuka. Regata memberanikan diri mengintip ke dalam. Ayahnya tengah duduk di kursi goyang miliknya, bahunya nampak bergetar. Regata mendorong pelan pintunya dan menghampiri ayahnya.


Danu sedang melihat foto di album keluarga, tangannya mengelus sebuah foto di foto itu ada Arimbi, Regata dan Mia yang baru saja lahir. Di bawah foto itu tertulis : wanita hebat ayah.


Regata berlutut, menangis menyembunyikan wajahnya di lutut Danu tak sanggup melihat wajah ayahnya, yang juga berurai air mata.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2