Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Surat Pernyataan


__ADS_3

Prita meneriakan sumpah serapah setelah menerima telepon dari orang tak dikenal, sementara Tara hanya bisa pasrah. Nomor yang sejak tadi dia coba hubungi berada di luar jangkauan, membuatnya frustasi.


“Prit, gimana nih” ujar Tara memelas, matanya berkaca-kaca.


“Kenapa sih nyokap lo gak berhenti bikin ulah?” teriak Prita.


Sejak kemarin ponsel Tara diteror oleh debt collector pinjaman online. Pinjaman sebesar 10  juta dengan jaminan informasi pribadi Tara. Para debt collector tidak hanya menghubungi nomor Tara tetapi juga nomor Prita. Mereka mengancam akan menyebarkan informasi pribadi Tara.


Sudah bukan rahasia lagi kalau langkah selanjutnya para debt collector dan crew pinjol itu akan menghubungi kontak Tara dan pura-pura meminjam uang pada kenalannya. Kalau sampai manajemen artisnya tahu dan merambat kemana-mana bisa makin panjang urusannya.


“Utang lo yang kemarin belum lunas, bayaran lo belum turun. Drama lo yang baru, masih proses baca naskah, belum sampai tahap shooting. Mau jadi apa masa depan kamu kalau kerjamu cuma bayar hutang nyokap lo” emosi Prita meledak tak terkendali.


“Yuk lapor Polisi, ini pemerasan namanya. Bukan kamu yang pinjam, kenapa kamu yang harus lunasin” ujar Prita bersiap menyeret Tara ke kantor polisi.


“Prit, biar bagaimanapun juga dia nyokap gue” Tara mulai menangis.


Kilasan masa lalu berputar dalam benaknya. Setiap Tara menolak permintaan Airin, wanita itu selalu mengungkit Tara harus berterima kasih padanya karena telah membesarkannya di saat ayah kandungnya menolak bertanggung jawab.


”Kamu harusnya bersyukur mama mau ngerawat kamu! kalau gak, kamu gak bisa jadi seperti sekarang ini. Jadi anak harus tahu balas budi, jangan jadi anak durhaka, udah dibesarkan malah gak tahu balas budi!”


Kata-kata itu terngiang dalam benaknya, semua hasil kerja keras yang dia beri kepada mamanya langsung habis tak berbekas. Ibunya gemar berhutang, arisan puluhan juta dengan para sosialita sampai menyewa brondong. Tara tahu kelakuan ibunya namun memilih tutup mata. Itu adalah bentuk terima kasih Tara kepada Airin karena telah merawatnya.


“Mah, aku lagi gak punya uang. Uang yang kemarin aku kasih ke mama aja, aku ngutang ma. Aku belum lunasin cicilan mobil sama apartemen ma” ujar Tara memberi pengertian pada mamanya.


“kamu kan bisa minta sama pacar kamu atau kamu bisa jual diri ke produser-produser kaya” ujar Airin tak acuh.


Setiap mereka bertengkar, kalimat itu yang selalu ibunya ucapkan. Demi gaya hidupnya Tara berusaha hemat. Tidak menggunakan kartu kredit, dia harus berpikir dua kali untuk makan di luar atau beli barang mewah. Tara sebisa mungkin menyempatkan diri untuk masak atau katering bulanan dengan menu biasa agar lebih hemat.


“Total bunganya sudah 30 juta” ujar Prita tak percaya. Prita baru saja bernegosiasi dengan debt collector mereka menolak tunda pembayaran.


Tara kehilangan akal sehatnya, dengan rasa malu bercampur gugup dia menelepon Lintang. Lintang sedang berada di rumah. Dia mendapat libur dua hari setelah kembali dari tour Eropa.

__ADS_1


“Halo” sapa Lintang tegas.


...*****...


Tara, Prita, dan Lintang duduk di sebuah cafe yang nampak sepi. Tara mengenakan kacamata, topi, dan masker hitam menyembunyikan penampilannya yang kacau.


Lintang merasa iba mendengar cerita Tara. Belum pernah Lintang melihat Tara sekacau ini. Kalau saja Tara tak banyak drama dan posesif mungkin Lintang bisa bertahan dengannya. Tanpa banyak syarat, Lintang meminjamkan uangnya dan bilang Tara bisa mengembalikan uangnya kapan saja yang terpenting masalah pinjol harus cepat diselesaikan.


Tara bersyukur Lintang tak bertanya ini itu saat dia menceritakan masalahnya. Dia menyerahkan pembayaran pinjol pada Prita. Prita memintanya istirahat sedangkan dia pergi mengurus pinjol itu, dengan semangat menggebu Prita menuju ruang legal staff di kantor manajemennya.


“Ikut gue bentar” ujar Prita menarik lengan Clinton salah satu legal staff yang sedang merokok.


“Apaan sih!” tepis Clinton sambil membetulkan lengan jasnya yang kusut.


“Gue butuh bantuan lo, cepet aja mumpung jam istirahat” ajak Prita.


Clinton mengabaikan ajakan Prita sambil menghembuskan asap rokok menikmati pemandangan kota Jakarta di siang terik itu.


Anyelin rekan sesama staf legal yang diam-diam ditaksir Clinton. Anyelin sudah punya pacar dan terkenal tegas, nyali Clinton menciut sebelum menyatakan perasaanya.


Clinton mengabaikan ancaman Prita.


“Anyelinnnnn, Clinton nyimpan foto kamu kancing celananya kebuka” teriak Prita.


Clinton segera menutup mulut Prita. Dia celingukan kiri kanan bermaksud klarifikasi pada Anyelin kalau Prita asal bicara. Untunglah di sana tak ada siapa-siapa.


“Gue Cuma latihan aja, nih gue bilangin orangnya” ujar Prita jahil melihat kepanikan di wajah Clinton.


“Berisik lo ya” hardik Clinton.


“Bantu apa, buruan!” ujar Clinton jengkel.

__ADS_1


Prita dengan senang hati menceritakan maksud dan tujuannya. Tak lama berselang Prita, Clinton, dan dua orang bodyguard menuju salah satu tempat karaoke terkenal di kota itu. Sampai di depan pintu ruang karaoke, keempat orang itu saling berpandangan lalu mengangguk seolah tahu apa yang harus mereka lakukan setelahnya.


Prita membuka kasar pintu ruangan itu. Seorang bodyguard berjaga di luar sedangkan satunya lagi ikut masuk bersama Prita dan Clinton. Airin yang sedang bernyanyi ditemani para brondong tampak kaget melihat Prita muncul.


“Bagus ya, anak sibuk cari pinjaman nyonya Airin yang terhormat sibuk bersama para brondong” ujar Prita, sebelah alisnya terangkat. Ekspresi jijik tergambar jelas di wajahnya.


“Keluar kalian” bisik Airin kepada para brondongnya.


“Ngapain lo di sini” tanya Airin memandang ketiga orang itu kesal.


“Saya datang bawa pengacara” Prita memberi kode pada Clinton.


“Anda dijerat dengan pasal pemerasan dan penipuan kepada klien sekaligus talent management artis kami, Tara Widuri” ujar Clinton dingin.


Clinton menjabarkan pasal dan kerugian yang harus Airin bayar kepada manajemen dan polisi terkait pasal yang menjeratnya. Airin yang biasanya nyolot setiap ketemu Prita, diam seribu bahasa. Wajahnya gelisah dan takut, dia tidak menyangka pihak manajemen bertindak sejauh ini.


“Pinjol tempat nyonya Airin terhormat berutang, menghubungi kantor manajemen kami” tegas Clinton.


“Silahkan nyonya, tanda tangan surat perjanjian ini di atas materai kalau kasus ini terulang lagi tiada maaf bagi nyonya, akan segera kami putuskan kontrak secara sepihak dan kami pastikan nyonya akan dipenjara dan membayar kerugian kepada manajemen kami” urai Clinton.


Airin mengatupkan rahang, giginya beradu. Darahnya mendidih namun dia tidak bisa membantah. Jika Tidak bekerja dan mereka dijebloskan ke penjara maka ladang uangnya akan binasa dan dia tidak bisa hidup enak. Manajemen artis yang menaungi Tara juga punya banyak bekingan di pihak kepolisian yang dengan gampang bisa memproses tindak pidana ini.


Airin terpaksa menandatangani surat pernyataan tersebut tanpa berniat membacanya lagi.


Prita tersenyum puas.


“Nyonya Airin yang terhormat, saya peringatkan sekali lagi. Tara punya utang ke bank, ke saya dan juga manajemen karena gaya hidup anda yang tidak tahu diri. Sikap anda membuat kerugian terhadap psikis talend dan juga kerugian bagi manajemen jika anda tidak menghentikan kebiasaan anda sekarang maka akan dipastikan anda tidak akan mendapat jatah bulanan” tegas Prita beradu pandang dengan Airin.


Persetan dengan sikap kurang ajarnya pada mamanya Tara. Perempuan itu tidak pantas di sebut Ibu, apalagi harus dihormati. Sesekali Airin perlu disadarkan sikapnya.


Mereka berempat meninggalkan tempat karaoke itu sesegera mungkin sebelum makan waktu makan siang berakhir.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2