Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Indonesia Bisa


__ADS_3

"Bagaimana pendapat kamu tentang pertandingan tadi" tanya seorang reporter pada Lintang, dalam sesi wawancara usai pertandingan.


"Saya tidak bisa bicara banyak tentang pertandingan ini. Saya dan Keisuke pernah bertemu saat pertandingan level junior. Dia banyak kemajuan" 


"Kalau waktu bisa diulang apa yang anda akan lakukan?"


"Saya tidak ingin mengulang apapun. Biarkan pertandingan hari ini menjadi pelajaran dan pengalaman bagi saya"


"Apa strategi anda selanjutnya?"


"Evaluasi dan berlatih untuk turnamen yang akan datang di Jerman. Terima kasih" 


Lintang mengakhiri sesi wawancara. Dia berjalan menuju kamarnya. Lintang mandi sambil memikirkan pertandingan yang telah berlangsung tadi. Dia menganalisa keunggulan Keisuke dan kesalahan yang dilakukannya.


Setelah mandi, Lintang menemui Koh Toni di kamarnya. Tampak pemain tunggal lainnya dan Pak Himawan ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Duduk" ujar Koh Toni mempersilahkan Lintang duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


"Langsung saja kita mulai. Evaluasi kita berdasarkan pertandingan Lintang melawan Keisuke tadi ada beberapa miss yang pemain kita sering lakukan, dan ini juga menjadi catatan bagi saya bahwa sering terjadi kesalahan di poin-poin genting" ujar Koh Toni menatap Lintang, Niko, Febri dan Ardian pemain tunggal yang ikut dalam tour Eropa.


Niko adalah tunggal putra nomor satu di Indonesia, Lintang berada di urutan dua sedangkan Febri dan Ardian baru di debutkan di level senior sebagai pemain pelapis. Febri dan Ardian bertugas sebagai sparing partner selama tour. Mereka ikut didaftarkan pada Denmark Open dan Jerman Open dengan status daftar tunggu karena rangking mereka belum memenuhi kriteria, kecuali jika banyak pemain rangking atas tidak ikut dalam turnamen.


"Kesalahan pertama, servis goyang dalam artian servis kalian gagal dan poin untuk lawan. Yang kedua kalau tertinggal lebih dari dua poin kalian mulai tertekan dan emosi jadi tidak stabil. Kembalikan bola jadi nyangkut atau out. Ketiga buru-buru matikan bola, ternyata bolanya bisa dikembalikan lawan dengan teknik silang, akibatnya kalian mati langkah" ujar Koh Toni berapi-api.


"Keempat, terbawa alur permainan lawan. Ini yang bikin kalian akhirnya susah keluar dan sudah menunjukan permain kalian. Kalau sudah begini kemana-mana jadinya. Mental dan motivasi juga ikut terganggu" 


Pak Himawan dan keempat tunggal putra mendengarkan dengan serius evaluasi yang dipaparkan Koh Toni.


"Ada diantara kalian yang merasa kurang tinggi jadi pemain tunggal?" tanya Koh Toni.


Keempat atlet itu menggeleng.

__ADS_1


"Bagus! tidak ada hubungan antara tinggi badan dengan kemenangan. Untuk ukuran orang Asia Tenggara 170-173 cm termasuk tinggi. Baik, sekian dari saya. Lupakan pertandingan ini, jangan berlarut-larut sedihnya. Besok kita mulai berlatih untuk Jerman Open"


"Baik coach" ujar mereka berempat.


"Baik itu tadi evaluasi dari Koh Toni. Harap kalian memahami dengan baik, jangan patah semangat, terus berlatih menjadi lebih baik, dan siap untuk dua turnamen yang akan datang" ujar Pak Himawan menambahkan.


"Lintang aman? kalian semua aman?" tanya Pak Himawan.


"Aman pak" ujar mereka berempat.


"Bagus! jangan pikirkan apa yang orang lain katakan. Mereka tidak pernah tahu apa yang kalian rasakan saat bertanding, bagaimana perjuangan kalian untuk bisa sampai ke tingkat ini. Kecewa? tentu yang paling kecewa adalah pemain kalian sudah berusaha hanya belum rejeki yang penting ada usaha untuk berjuang" Pak Himawan mengakhiri ucapannya.


"Sekarang ayo, ulurkan tangan kalian" ujar Koh Toni sembari menjulurkan tangan kirinya diikuti oleh yang lainnya.


"INDONESIA?" ujar Koh Toni menyebutkan jargon PBSI.

__ADS_1


"BISA!" ujar mereka sambil tersenyum.


...----------------...


__ADS_2