
Regata sibuk melayani pasien yang sedang mengantri. Sesekali dia menengok gelisah ke arah jam dinding yang mulai menunjukan pukul delapan malam, yang berarti pertandingan Lintang mungkin saja sudah memasuki babak kedua.
Regata tidak punya cukup waktu meskipun hanya sekedar menengok live skor di twitter. Tangan gatal, hatinya gelisah. Hari ini pasien lebih ramai dari biasanya.
"Ini resep pasien terakhir" ujar dr. Genta menyerahkan resep pada Regata.
Regata menuju apotik. Dia melihat Fahmi sibuk menginput resep apa saja yang keluar hari ini dan memantau obat apa saja yang persediaannya mulai menipis.
"Dokter Genta gak niat nyari asisten apoteker gitu?" tanya Regata sambil membantu Fahmi menyiapkan resep untuk pasien terakhir di malam itu.
"Ini sudah lebih dari tiga kali dokter tanya hal yang sama. Tau sendiri dr. Genta kayak apa" ujar Fahmi sewot.
Regata menggigit bibirnya salah tingkah. Dia bahkan lupa kalau pertanyaan yang sama sudah pernah dilontarkannya.
"Aku bantu siapin resepnya yah, nanti kamu cek lagi" ujar Regata sambil menulis etiket obat tersebut.
Setelah selesai, Regata menggantikan posisi Fahmi. Membantu pria itu menginput sisa resep. Sementara Fahmi melakukan double check, lalu menyerahkan sekaligus menjelaskan obat yang diresepkan dr. Genta pada pasien.
"Sudah setengah sembilan" ujar dr. Genta masuk ke apotik sambil menggendong Mia, yang sudah tertidur pulas di pundaknya.
__ADS_1
"Sedikit lagi dok" ujar Regata dan Fahmi bersamaan sambil menunjukan tumpukan resep yang harus diinput.
Genta mondar-mandir di ruangan itu sambil melihat obat apa saja yang tersusun di rak. Regata sibuk membaca resep yang tersisa agar Fahmi semakin cepat menginput.
Tepat pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, semua pekerjaan telah selesai.
"Ssstt" ujar Genta menghentikan tangan Regata yang bermaksud mengambil alih menggendong Mia.
"Kamu nyetir" bisik Genta sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang berbicara. Genta sibuk mengelus punggung dan tangan Mia sedangkan Regata sibuk menerka-nerka hasil pertandingan Lintang.
"Di mana kamar Mia" tanya Genta saat mereka tiba di rumah Regata.
"Sudah dok" bisik Regata menyadarkan Genta yang masih mematung menatap seisi ruangan itu.
Genta membaringkan Mia dengan hati-hati. Menarik selimut menutupi Mia dan memastikan bahwa posisi Mia aman dan nyaman.
"Makasih dok, udah anterin kami" ujar Regata canggung.
__ADS_1
"Ok. Sampai ketemu besok" balas Genta singkat.
Sepeninggalan Genta Regata segera mengunci pintu pagar dan pintu utama. Dia cepat-cepat memeriksa handphonenya.
Jantungnya berdegup kencang, dan perutnya terasa mual.
Kalah.
Regata merasa darahnya mendesir. Telinganya panas dan kepalanya pening. Perasaan ini… perasaan yang sama Regata rasakan setiap Lintang kalah.
Regata memberanikan diri membaca komentar pada postingan itu. Tiga komentar teratas cukup membuat emosinya naik.
Jika saja Lintang ada di dekatnya dia ingin memeluk erat laki-laki itu, membiarkan Lintang menumpahkan semua perasaannya sama seperti waktu itu. Nyatanya Regata terlalu takut. Takut kehilangan, takut Lintang membencinya.
Tanpa sadar mata Regata berkaca-kaca. Bola matanya panas. Regata menengadahkan wajahnya, menahan air mata yang hampir tumpah.
******
__ADS_1
Lintang memejamkan matanya diantara bongkahan es, di bathub kamar hotelnya. Kilasan pertandingan tadi, silih berganti muncul di kepalanya. Lintang menghela nafasnya berat.
...----------------...