
Pagi buta, Regata dan Bi Nina sudah ribut di ruang televisi. Mereka berdua sibuk menyiapkan keperluan Mia. Hari ini Mia akan berangkat ke Jakarta bersama Pak Hayon guru olahraganya menggantikan guru keseniannya yang sedang ada urusan keluarga.
“sttt” ujar Regata mengisyaratkan agar Bi Nina berhati-hati mempersiapkan peralatan menggambarnya agar tidak membangunkan putri kecilnya yang sedang terlelap.
“Pesawatnya berangkat jam 09.00, jam 07.00 aja dibanguninya” bisik Regata.
Tepat jam 07.00 pagi Bi Nina naik membangunkan Mia yang ternyata sudah merapikan selimutnya. Mia mandi dan bersiap-siap. Hari ini perasaannya senang, sebentar lagi dia akan menginjakan kaki di ibu kota negara Indonesia yang paling penting lomba besok dia harus berusaha sebaik mungkin.
Regata, Bi Nina, Mia, Pak Hayon, dan kepala sekolah berangkat ke bandara. Sepanjang perjalanan Regata berusaha mencairkan suasana sambil mengobrol bersama kepala sekolah, menyembunyikan rasa rindu yang mendadak membuncah di benaknya. Pertama kali sejak delapan tahun berlalu, Mia akan berada di Jakarta selama satu minggu.
“Sudah sampai bandara?” sebuah chat masuk di ponsel Regata.
Regata membaca sekilas pop up yang muncul ponselnya. Pesan dari dr. Genta. Tiga hari yang lalu Genta pamit keluar kota, dia tidak bisa mengantar Mia namun minta dikabari jika Mia akan berangkat.
Mia dan Pak Hayon sudah mendapat boarding pass, sebelum pesawat yang akan mereka tumpangi berangkat, Mia memeluk Regata erat. Dalam pelukan itu, Regata melepaskan semua rasa khawatir dan cemas nya. Dalam sanubarinya, Regata memanjatkan sebait doa kepada yang kuasa agar putrinya selamat dalam perjalanan.
“Tidak perlu menang, cukup kembali dengan selamat” bisik Regata sambil mencium kepala putrinya.
Mia melambaikan tangan kecilnya lalu menghilang diantara lautan manusia di bandara itu. Regata kembali murung, satu minggu kedepan rumahnya akan sepi.
__ADS_1
“Mau naik pesawat Bu” lapor Bi Nina kepada Arimbi, Nenek Mia yang tengah cemas menanti kedatangan putrinya.
Bi Nina bertingkah seolah telepon itu berasal dari keluarganya yang merawat suami di rumah saat Regata mendekat. Bi Nina sudah memantapkan diri membantu majikan kecilnya meraih impian, tentu saja dengan dukungan Arimbi yang berjanji akan mebangun warung kecil untuknya di kampung dan memberikan modal usahanya. Terlepas dari bantuan itu, Bi Nina kembali ke masa kecilnya di mana dia bercita-cita menjadi penyanyi. Cita-citanya mendapat cemoohan dan cibiran dari anggota keluarganya sendiri. Rasa percaya dirinya hilang, impiannya sirna. Bi Nina tamat sekolah menengah atas, menikah, punya anak, dan berakhir menjadi pembantu rumah tangga. Cita-citanya lenyap begitu saja bahkan ditantang nyanyi di kondangan orang pun Bi Nina tak sanggup. Impiannya pernah patah di tengah jalan, dan dia tidak mau Mia mengalami hal yang sama.
****
Mia menjejakan kaki di bandara Soekarno Hatta. Rasa takjub tergambar jelas di wajahnya. Bandara itu sangat besar, lebih besar dari bandara di tempat tinggalnya. Dia melihat orang-orang yang berseliweran di bandara hanya mengenakan pakaian santai, di tempat tinggalnya orang akan berdandan rapi ke bandara. Kenapa orang harus berdandan rapi ke bandara? Pikir Mia ini bukan tempat formal. Baju tidur pun rasanya lebih nyaman. Dia melihat anak seusianya bahkan menggendong boneka.
Pak Hayon memegang tangan Mia erat, agar mereka tidak terpisah. Sedangkan Mia sibuk menoleh kiri kanan nya, memperhatikan keadaan tempat itu.
Papan bertuliskan “Kontingen Lomba Menggambar Penerbit Yasindo” menyambut Hayon dan Mia di bandara. Sudah ada dua guru dan murid yang bergabung bersama mereka. Supir dan perwakilan panitia yang datang menjemput mengatakan bahwa mereka berdua adalah kontingen terakhir sedangkan yang lainnya telah tiba kemarin.
“Tok, tok, tok” sebuah ketukan di pintu kamar menyudahi telepon Mia dan dr. Genta. Mia membuka kamarnya, tampak Pak Hayon dan seorang wanita tua.
“Mia” ujar wanita tua itu histeris sambil memeluk Mia lalu mencoba menggendongnya. Mia sedikit berontak karena tidak ingin digendong.
“Ini Oma sayang, mamanya mama kamu” ujar Arimbi sambil mengusap air matanya dengan tissue.
Mia menatap wanita tua itu wajahnya persis Regata, ibunya.
__ADS_1
Arimbi mengambil ponselnya melakukan video call dengan Bi Nina. Kedua wanita itu bercakap sebentar kemudian sama-sama menangis. Mia bertanya-tanya dalam benak, kenapa kedua orang ini menangis? Tidak ada yang jatuh, tidak ada yang terluka, haruskah mereka menangis?
“Oma” ujar Mia pelan bermaksud menenangkan Neneknya. Arimbi kembali meneteskan air mata mendengar cucu yang telah lama dinantikan memanggil Oma.
“Kenapa menangis?” tanya Mia.
“Karena Oma kangen sayang, setelah sekian lama akhirnya kita ketemu”
Arimbi hampir saja menceritakan kisah Regata, namun mengurungkan niatnya karena cucunya harus bersiap untuk besok.
“Besok habis lomba Oma mau ngajak kamu ke suatu tempat” ujar Arimbi senang.
Mia tentu senang, tidak ada alasan baginya mencurigai wanita ini karena Bi Nina juga mengenal Omanya. Mia tidak sabar menanti besok, lomba dan jalan-jalan.
__ADS_1