
Kepulangan Tim Bulu Tangkis Indonesia ke tanah air disambut oleh Presiden dan Jajaran PBSI. Presiden memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada atlet dan official yang telah mengharumkan nama Indonesia. Presiden menyerahkan bonus melalui Kemenpora. Selesai rangkaian acara penyambutan, awak media berbondong-bondong mewawancarai para atlet dan official.
Koh Toni menarik perhatian awak media karena mengantarkan Lintang memperoleh gelar di All England.
“Apa rahasianya mengalahkan No. 1 dunia coach? Tanya awak media
“Tentu saja ketahanan fisik dan mental, secara teknik tidak ada masalah” ujar Koh Toni
“Apa target selanjutnya?”
Yang pastinya berusaha yang terbaik untuk terus berprestasi. Jujur kami belum puas dengan pertandingan kemarin karena laman tidak berada pada performa terbaiknya. Saya harap masyarakat Indonesia tetap mendukung kami apapun hasil, bukan hanya pada saat kami menang.
Koh Toni mengakhiri wawancara singkat itu, sedangkan Lintang memilih tak berkomentar lebih jauh jawaban Koh Toni telah mewakili keseluruhan pertanyaan. Sesampainya tim nasional di asrama pelatnas, Lintang telah di sambut perwakilan dari PB Axiata, PB yang menaungi bakat Lintang. Lintang diundang secara langsung untuk menghadiri seleksi Axiata muda.
Keesokan harinya Lintang tiba di PB Axiata jam 14.00 WIB, dia tidak bisa menyaksikan keseluruhan seleksi karena ada penyambutan lagi di Kementrian Pemuda dan Olahraga serta pemotretan majalah badminton Edisi juara All England. Kedatangan Lintang disambut antusias oleh peserta seleksi, seperti mengobati sakit hati peserta yang belum lulus seleksi Lintang dengan sabar melayani permintaan foto dan tanda tangan.
Lintang melihat kerumunan manusia di hadapannya, senyum dan teriakan para fans mengobati sakit hati Lintang tak kala haters silih berganti berkomentar buruk di media sosialnya. Lintang menyadari bahwa dia terlalu fokus dengan orang-orang yang membencinya, sampai lupa bahwa diluar sana jauh lebih banyak yang mendukungnya.
“Orang membenci kamu itu di luar kendali kamu. Kamu tidak bisa terus menerus memikirkan itu, dan duniamu tidak hanya berpusat pada orang-orang itu. Kalau kamu kalah karena kebencian itu, maka usahamu, kehidupan pribadimu, waktu bersama keluarga, masa kecil yang telah kamu korbankan akan sia-sia” Lintang mengingat kembali kalimat psikiaternya sebelum dia berangkat ke tour eropa, dia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk terus maju dan tidak akan mengecewakan orang-orang yang mendukungnya.
Lintang sibuk berinteraksi dengan fans yang datang dari luar kota, sekedar menanyakan asal, dan tujuan mereka. Ekor matanya menangkap sesuatu yang tidak asing. Om Danu Atmaja, ayah Regata sedang bersama seorang gadis kecil dalam gendongannya. Lintang mencoba melihat lebih jelas, namun sosok itu tidak lagi berdiri di sana, tertutup oleh kerumunan orang.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Lintang bertanya-tanya siapa gadis kecil yang ada dalam gendongan ayah Regata. Mungkinkah itu cucunya, anak dari Regata? Perasaan Lintang jadi tak karuan. Delapan tahun telah berlalu semenjak dia masuk pelatnas. Usia mereka saat itu dua puluh tahun, di usia yang kedua puluh delapan ini banyak yang berpendapat bahwa dia tidak seharusnya masih di bawah asuhan pelatnas melainkan beralih menjadi pemain profesional. Karirnya juga tidak sepenuhnya mulus, ada pasang surut ada saat di mana dia berjaya dan sesaat berada di titik terbawah karirnya.
Menjadi tunggal putra nomor dua Indonesia menjadi beban tersendiri untuknya. Saat ini dia menempati posisi ke sembilan belas, setelah kejuaraan All England rangkingnya naik menjadi posisi dua belas dunia sedangkan tunggal putra nomor satu Indonesia berada di ranking enam dunia di usia dua puluh lima tahun. Manajemen dan kepelatihan PBSI masih menginginkan Lintang berada di pelatnas sekaligus mengayomi pemain muda. Lintang setuju, lagi pula dia belum berpikir meninggalkan pelatnas.
__ADS_1
“Om Lintang, Dika punya mainan baru” ujar keponakan nomor tiganya yang saat ini berusia tiga tahun. Lintang tersenyum, dia menggendong keponakannya dan mengajarkan cara memainkan mobil-mobilan yang disebut sebagai mainan baru.
Pikirannya kembali tertuju pada gadis kecil yang digendong Danu. Lintang tidak melihat jelas wajah anak kecil itu, dia tidak bisa menerka apa itu anak Regata atau bukan. Otaknya sibuk berpikir, kalau memang Regata sudah menikah kenapa dia pergi tanpa kabar. Apakah terlalu sulit sekedar mengirimkan undangan pernikahan. Orangtua Regata juga enggan memberikan informasi. Delapan tahun.. terlalu naif rasanya bila Lintang berharap Regata masih menunggunya. Regata mungkin saja sudah jadi Dokter yang baik, menikah dan punya anak melanjutkan keturunan karena dia adalah anak tunggal. Apa aku coba bertamu ke rumah Regata, mungkin saja kali ini ibu atau ayahnya akan luluh. Ingatan Lintang kembali pada liburan tahun baru, kedatangan Lintang tidak disambut baik di keluarga itu. Ibunya yang selalu banyak bertanya hanya mengobrol seadanya, ayahnya menolak bertemu dengannya. Lintang cukup tahu diri, segara pamit. Setiap hari dia selalu bertanya dan menerka dalam hatinya, berharap dia menemukan jawaban yang tepat dari kejanggalan hatinya.
Regata, apakah perasaanmu masih sama?
Apakah kamu menemukan pengganti yang tepat?
Apa kamu bahagia?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kamu mau yang mana?” tanya Danu pada gadis kecil yang tak dia biarkan turun dari gendongannya.
“Ini, boleh?” tanya Mia sambil memegang satu slop shuttlecock Yonex.
Arimbi tampak tegang, berkali-kali dia meminta suaminya menurunkan Mia dari gendongan namun Danu seolah tuli. Dia tidak menghiraukan permintaan istrinya. Beruntung Mia tidak keberatan dan tidak rewel dalam gendongan Danu. Mereka bertiga masuk ke salah satu toko perlengkapan anak-anak terbaik di kota itu. Danu meminta Arimbi memilihkan keperluan anak perempuan.
Arimbi sejak tadi takut, menjadi sedikit lega. Dia bersemangat mengitari toko yang memiliki tiga lantai itu. Tibalah waktunya membayar di kasir, Arimbi kelimpungan mencari Danu dan Mia. Bukan karena dia pelit tidak mau membayarkan belanjaan itu, tetapi selama suaminya punya uang kenapa tidak pakai uang itu saja. Ada peraturan tidak tertulis dalam hubungan suami istri, entah siapa yang membuatnya “uang suami adalah uang istri, tapi uang istri adalah milik istri (tanpa diganggu gugat)”
Arimbi menitipkan belanjaan di kasir dan pergi mencari suami dan cucunya. Tampak olehnya kedua orang itu sibuk main mobil-mobilan di space yang disediakan pemilik toko khusus untuk pengunjung yang membawa anak. Arimbi berdiri memperhatikan kedua orang itu tanpa berniat menegur. Sudah lama dia merindukan momen langkah ini. Momen di mana Danu tersenyum dan kebahagiaan tulus terpancar di wajahnya. Persis saat Regata kecil, Danu melakukan hal yang sama. Saat Regata masih bayi, Danu selalu jadi ayah siaga. Rela bangun tengah malam membuat susu di saat orang rumah tertidur lelap, tak jijik menggantikan popok di saat Arimbi kesakitan pasca operasi caesar. Ayah anak itu sangat dekat, memiliki ikatan batin yang tidak Arimbi rasakan. Itulah mengapa Danu sangat marah saat Regata menuturkan pengakuannya hari itu.
Kata-kata sakti itu meluncur saja dari mulut Danu. Danu, suaminya orang yang paling kecewa terhadap putri mereka. Bukan karena reputasi politiknya, melainkan kecewa karena menurut Danu dia telah gagal mendidik Regata. Asisten Danu berbisik padanya di hari kelahiran Mia, Danu seperti orang gila menelpon semua orang penting di rumah sakit itu agar memastikan keselamatan putri dan cucunya. Dia laki-laki pertama yang menangis mendengar tangisan cucunya dan tangisan gadis kecilnya yang kini jadi seorang ibu.
“Omaaaa” teriak Mia sembari melambaikan tangan.
__ADS_1
Danu ikut melakukan hal yang sama. Arimbi membalas lambaian mereka berdua lalu bertepuk tangan.
“Yuk kita turun, oma udah nunggu” Danuh menggendong Mia.
Mereka mengikuti Arimbi yang telah lebih dulu menuju kasir, meminta belanjanya dibayarkan. Setelah itu mereka pulang dan makan malam di rumah. Arimbi dan Danu, dua orang yang jarang makan di luar. Kalau tidak mendesak, sebisa mungkin mereka makan di rumah karena rasa dan kebersihannya lebih terjamin dan kebiasaan itu menurun kepada putri mereka.
“Oma, habis makan aku mau telepon mama” ujar Mia. Dia tidak sabar memberitahu ibunya kemana saja dia seharian ini.
Arimbi dan Danu saling berpandangan.
“Iya” ujar Arimbi
“Kapan pengumuman lombanya?” tanya Danu.
“Besok”
Selesai makan Mia menagih janjinya. Ponsel yang diberikan Pak Hayon sebelum mereka berpisah siang tadi segera diberikan Arimbi pada Mia.
“Halo” sapa Mia.
“Kamu di mana?” tanya Regata dengan nada tinggi. Suaranya terdengar panik.
“di rumah” suara berat Danu menjawab pertanyaan Regata.
...----------------...
__ADS_1