
Regata menikmati kopi sambil mengelus kelinci peliharaan ayahnya. Pagi itu tampak sepi, hanya dua asisten rumah tangga yang mondar-mandir membersihkan rumah. Beberapa hari berada di Jakarta cukup membuatnya bosan, tidak ada yang dapat dilakukan selain makan, jalan-jalan, nonton televisi dan mengutak-atik ponsel. Regata lebih suka keseharian yang melelahkan di rumah sakit.
Arimbi dan Danu telah berangkat pagi buta ke luar kota, ada kunjungan yang harus mereka lakukan sedangkan Mia sudah mendapat personal trainer sekaligus ahli gizi yang akan menghitung dan mengatur asupan gizi yang masuk.
Regata membaca pesan masuk dari ibunya berisi alamat Yayasan Thalasemia milik ibunya dari pada ilmu kedokterannya terbuang percuma ada baiknya dia mengunjungi yayasan itu dan melihat-lihat siapa tahu ada ilmu baru yang didapat.
Regata memarkirkan Rubicon tua milik ayahnya di halaman parkir gedung yayasan. Yayasan ini pasti sangat terkenal, terlihat dari halaman parkir yang dipenuhi mobil mewah dan gedung yayasan yang bagus. Dalam benak Regata, yayasan yang dimaksud hanyalah bangunan sederhana yang mengharapkan belas kasihan donatur, demi berjalannya kegiatan. Regata mulai ragu.
“Ma, ini bener tempatnya?” tanya Regata mengarahkan kamera ke arah gedung.
“Iya, masuk aja. Bilang aja mama yang nyuruh kamu ke situ” ujar Arimbi
“Yakin ma?” tanya Regata memastikan ulang gedung yang akan dimasukinya.
“Yakin!” ujar Arimbi tak sabar.
Banyak pertanyaan dalam benak Regata, ingin rasanya dia bertanya lebih lanjut namun Arimbi yang sedang terburu-buru menahan keinginan Regata untuk melanjutkan pertanyaan.
“Sudah dulu ya, nanti mama telepon lagi” ujar Arimbi mengakhiri video call.
Sebelum turun Regata membubuhkan ulang make over powerstay transparent powder miliknya sekaligus memastikan lip cream shade dainty mengcover bibirnya dengan sempurna. Alisnya rapi, dan bulu matanya masih lentik. Regata merapikan rambutnya memastikan blow di ujung rambut. Regata mengenakan blus navy dan bawahan tailored trousers hitam serta pump heels memberikan kesan formal pada penampilannya.
__ADS_1
Regata melangkah masuk, dia disambut resepsionis yang langsung mengenalinya sebagai anak Arimbi. Regata diantar melihat-lihat gedung yayasan yang menurutnya mirip klinik kecil khusus penderita thalasemia. Gedung khusus thalasemia mayor dan thalasemia minor. Penderita thalasemia minor membutuhkan transfusi darah secara rutin, di tempat ini mereka bisa memperoleh kualitas darah yang bagus dengan harga terjangkau bahkan gratis. Yang membuatnya takjub banyak petugas medis yang bersedia memberikan kontribusi di waktu luang, di luar pekerjaan utama mereka.
“Kamu Regata kan?” sebuah sentuhan halus di pundak Regata refleks membuat Regata menoleh melihat pemilik suara. Seorang wanita cantik berambut pendek sedang mengenakan snelly tersenyum ke arahnya, memamerkan deretan gigi tak rata.
“Kak, Sela!” teriak Regata lalu memeluk wanita yang setahun lebih tua dari umurnya dokter Grasela.
Regata dan Grasela kuliah di universitas yang sama, Grasela satu tahun lebih tua darinya. Regata dan Grasela bertemu saat koas di sebuah rumah sakit di kota Makassar. Jam jaga mereka hampir selalu bersamaan dan berasal dari universitas yang sama membuat mereka semakin dekat. Pembicaraan mereka nyambung tapi Grasela tak pernah cerita mengapa dia koas bersama angkatan di bawahnya.
Keduanya sibuk bercerita dan bertukar kontak. Grasela sudah menjadi dokter spesialis anak dan tahun depan rencananya dia akan mendaftar sub spesialis hemato-onkologi, cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari tentang penyakit kelainan darah dan kanker pada anak. Dokter Grasela juga bercerita keterlibatannya dalam yayasan ini bukan hanya menolong penderita thalasemia tetapi juga mempermudahkan dirinya membuat jurnal, menimba ilmu dari dokter sub spesialis hemato-onkologi yang lebih senior, memperluas jaringan dan yang pasti membantu dirinya mendapat rekomendasi ke universitas pilihannya.
Regata pulang ke rumah, sejak bertemu Grasela dirinya banyak berpikir sebenarnya apa yang dia lakukan selama bertahun-tahun dengan pendidikan dan karirnya. Jabatan paling tinggi yang disandangnya adalah ketua tim jaga saat dinas, sisanya hanya menjadi asisten operasi. Regata selalu menolak saat ditawarkan jabatan yang lebih tinggi, bahkan saat itu dia berpikir dokter umum saja sudah cukup. Sekarang rasa iri menusuk-nusuk harga dirinya. Grasela yang menurutnya tak cukup pintar berhasil menjadi spesialis sambil mengurus klinik anak, suami, dan dua orang anaknya.
“Ata, kamu gak mau jadi spesialis? mumpung umur kamu masih muda sayang kalau cuma jadi dokter umum” ujar Grasela
“Kalau gitu kamu harus cepat putuskan mau spesialis apa dan kampusnya di mana. Setiap kampus aturannya beda lho ada kampus yang mengharuskan kamu buat belasan jurnal, belum lagi ujian spesialis yang susah”
Regata paham, ujian spesialis memang susah dan butuh waktu sekitar satu atau dua tahun untuk mempersiapkan diri, dokumen, dan mempelajari seluk beluk spesial yang akan diambil. Tak jarang Regata mendengar senior-senior di tempat kerjanya tak lulus ujian spesialis dan menjadi gunjingan karyawan lain.
Regata membongkar memorinya, mencari-cari ingatan tentang akan jadi apa dirinya setelah berhasil meraih titel dokter umum. Satu ingatan yang tersembunyi, dirinya bermimpi jadi spesialis ortopedi dan akan melanjutkan subspesialis olahraga dan artroskopi. Saat itu Regata sangat yakin dengan rencananya karena Lintang ada di sisinya melengkapi jalan menuju cita-citanya.
Regata menenggelamkan wajahnya di bantal, berusaha menghilangkan ingatan tentang cita-citanya. Seperti kaset rusak, memori itu terus berputar di kepalanya. Mengapa hidupnya berakhir begitu menyedihkan? Regata menjadikan Mia sebagai alasan dari semua hal yang dia lakukan, membatasi kehidupan sosial, karir, dan pendidikannya namun sekarang apa yang dia dapatkan. Mia baik-baik saja dengan atau tanpa Regata putri kecilnya cukup dewasa menentukan pilihan yang cocok untuk dirinya sedangkan Regata terus-menerus membatasi dirinya, bersembunyi dari ketakutan hingga dia sadar sejak awal dia telah kehilangan segalanya.
__ADS_1
“Ata, ata!” Arimbi menggoyangkan tubuh putrinya yang dari tadi menghentak-hentakan kakinya di udara.
Regata semakin menenggelamkan wajahnya di bantal. Sarung bantal merah maroon itu tampak basah. Sadarlah Arimbi bahwa Regata sedang menangis. Akhir-akhir ini banyak air mata di rumahnya, yang tak mampu dibendung Arimbi. Dia merasa bersalah karena membiarkan putrinya selama minggu-minggu ini, mencurahkan waktunya untuk cucunya tanpa mempedulikan kehadiran putrinya.
Regata tampaknya tak ingin diganggu, Arimbi meninggalkan Regata mengusir dua orang yang berdiri ingin tahu berusaha mengintip ke dalam.
“Mama kenapa?” tanya Mia pada Arimbi.
“Kita makan duluan aja, nanti mama nyusul” ujar Arimbi
Arimbi dan Danu makan sambil membicarakan proyek fraksi yang tadi mereka kunjungi sedangkan Mia sibuk mencerna kata-kata yang kakek neneknya ucapkan.
Tepat pukul 08.45 WIB Mia berjalan menuju kamarnya. Dia menatap pintu kamar Regata yang masih tertutup rapat. Mia memberanikan diri mengetuk kamar Regata meminta izin untuk masuk. Regata masih berbaring dengan posisi yang sama. Rambutnya tergerai menutupi wajah.
“Ma, mama masih marah sama Mia?” tanya gadis kecil itu sambil mengelus punggung ibunya.
Tak ada reaksi.
“Ma kalau mama gak setuju, Mia gak bakal latihan lagi. Mia janji bakal nurutin mama, gak bikin mama sedih lagi” ujar Mia pelan.
__ADS_1
...----------------...