
"Halo" ujar Prita tengah menahan kantuk.
"Aku baru selesai kerja. Tara udah tidur besok harus isi acara jam enam pagi" tambah Prita sambil menguap.
"Capek banget ya?" tanya suara di seberang terdengar khawatir.
"Malam minggu kita jadi kencan?"
Prita memijat kepalanya pelan, sambil memejamkan mata.
"Gak bisa Fen, aku beneran lagi pusing dan sibuk. Tunda aja ya?" ujar Prita pada Fendi kekasihnya.
"Ini sudah satu bulan lho, kita belum pernah kencan. Ketemu pun cuma sebentar" ujar Fendi.
"Fen, aku ni kerja. Kamu tahu lah Tara kayak gimana. Gak mungkin aku ninggalin dia sendirian" protes Prita nadanya meninggi.
__ADS_1
"Lagian kita bisa kencan lain waktu, nanti aku kabari" ujar Prita kesal
Prita mendengar helaan nafas Fendi. Ada rasa bersalah di hatinya karena meninggikan suara, pada pria yang hampir tiga tahun menjalin hubungan dengannya.
"Ya sudah. Istirahat gih, kabari kalau kamu ada waktu" ujar Fendi pelan.
Prita mengucapkan selamat tidur sebelum mengakhiri percakapan mereka.
Prita merebahkan diri di tempat tidur empuknya. Matanya menerawang menatap langit-langit apartemen Tara. Cahaya temaram kamarnya membuatnya larut dalam satu nama, Fendi.
Awalnya kencan mereka berjalan lancar hingga akhirnya Tara memutuskan menyewa sebuah apartemen dan mengajak Prita untuk tinggal bersamanya agar lebih mudah dalam urusan pekerjaan.
Dunia pacaran Prita yang sebelumnya bak negeri dongeng, sirna seketika saat jadwal Tara mulai semakin padat. Prita mulai jarang membalas pesan Fendi bahkan mengabaikan telepon masuk di saat dirinya sedang bekerja atau mulai terlelap.
Hari ini kesekian kalinya Fendi membahas tentang janji kencan mereka dan Prita membatalkan janji mereka. Dia terlalu lelah dengan pekerjaanya. Setiap habis kerja, yang dia lakukan adalah berendam di air hangat lalu tidur.
__ADS_1
Prita memukul-mukul kasurnya berusaha menghilangkan rasa bersalah yang muncul di sela - sela ingatannya. Kembali terbayang wajah sendu fendi, pria semampai yang rambutnya sering dikuncir. Senyum malu-malu, dan wajah tampan Fendi menghiasi ingatan Prita.
Di sisi lain, Fendi sedang membaca pesan Whatsapp antara dirinya dan Prita. Pesan mereka tidak pernah dihapusnya. Saat dia rindu pada wanita itu dia hanya bisa membaca pesan itu, atau memandang wajah Prita yang berderet rapi galeri ponselnya.
Sesekali dia mengecek akun media sosial Prita yang tampak sepi. Tidak seperti kebanyakan manajer artis yang aktif di media sosial, Prita justru sebaliknya. Fendi dapat menghitung dalam satu bulan Prita cuma dua kali membagikan momen-momen bahagianya di story WA atau Instagram.
Ada perasaan bersalah dalam hati Fendi saat menanyakan janji kencan mereka. Fendi tidak bermaksud membuat Prita marah, dia hanya ingin kepastian pertemuan mereka yang telah lama dia tunggu.
Fendi baru saja akan pamit pada Prita bahwa hari Minggu nanti dia harus berangkat ke daerah perbatasan untuk pengambilan gambar film terbaru mereka. Entah kapan mereka akan bertemu lagi yang pasti Fendi tak yakin mereka dapat berkomunikasi dengan baik di antara kesibukan mereka.
Fendi menghembuskan nafas kasar, sambil mengelus rambutnya yang semakin panjang melewati lehernya.
Susah juga pacaran sama manajer artis, banyak tantangannya
batin Fendi sekali lagi melibat foto Prita sedang tersenyum manis, dan akhirnya terlelap.
__ADS_1
...----------------...