
Tara mengipas wajahnya gerah. Kipas portable yang ada di tangannya tak mampu mengusir udara panas di pulau dewata. Syuting outdoor memang ribet tapi wajib dilakoni demi pamor dan bayaran seperti rayuan Prita. Tara sesekali mengibas-ngibaskan tank top longgar di badannya berharap menghilangkan rasa gerah di balik pakaian yang dikenakannya.
“Haduh baju apaan sih, model doang bagus gak cocok dipakai di daerah panas”
Gerutu Tara mengomentari bahan kain tank top yang tak menyerap keringat.
Tedja mendekat ke arah Tara, ikut menulurkan wajah penuh keringatnya di dekat kipas portable yang dipegangnya.
“Heh ngapain lo” hardik Tara tak terima, tangannya lelah memegang kipas sedangkan Tedja enak-enakan menikmati angin dihadapannya.
Tedja memamerkan cengirannya menampakan deretan gigi rata nan putih.
“Numpang adem masa gak boleh” tanya Tedja wajah mulusnya terlihat manyun.
Tara merinding melihat ekspresi Tedja yang dibuat-buat.
“Gak! Sana pakai kipas kamu sendiri” omel Tara.
“Gue gak punya ginian, entar deh gue beli” jawab Tedja cuek semakin mendekat ke arah kipas.
“Ihhh kamu numpang ngadem di mana kek, jangan di sini” usir Tara mendorong tubuh Tedja menjauh dari hadapannya.
“Hay sayang, makin ganteng aja” ujar pria kemayu menyapa Tedja. Tangannya menyentuh dagu Tedja membuat Tedja tersenyum canggung sembari merapat ke arah Tara.
“Eh Mas Berny” tegur Tedja sopan.
__ADS_1
“Aduh jangan panggil Mas dong panggil aja ayang” ujar Berny mengedipkan sebelah matanya genit.
Berny designer bertubuh tambun, merupakan sponsor video klip yang sedang mereka perankan. Kabar angin yang beredar Berny adalah penyuka sesama jenis dan kerap menargetkan bintang baru sebagai mainannya.
Gelagat Berny terlihat jelas di lokasi syuting. Dengan uang dan ketenaran Berny mampu membungkam jagat media yang berani memberitakan orientasi seksualnya. Rumor tentang kedekatannya dengan wanita hanyalah alibi belaka agar masyarakat tidak menghujatnya, dan jualannya tetap laku. Gosip lain yang beredar, siapa pun yang membongkar orientasi seksualnya akan menjadi target Berny terutama para pria. Rumor-rumor ini yang membuat siapun yang melihat tingkah Berny di lokasi syuting memilih tutup mulut, mata, dan telinga demi kelangsungan hidup mereka.
“Sayang sini dong masa jauhan gitu sama aku. Takut ya?” tanya Berny manja sambil menarik pergelangan tangan Tedja.
Tara yang gerah dengan sikap Berny, segera menepis tangan Berny yang berusaha menarik Tedja.
“Lo kepanasan kan? Udah sini ngadem bareng gue, udah mau mulai syuting lho” ujar Tara memaksa Tedja menatap wajahnya.
Berny mendengus kesal. Kali ini Berny masih mengampuni sikap kurang aja Tara karena pertimbangan keuntungan yang akan diraupnya dari video klip ini. Lain kali Tara akan rasakan akibatnya kalau terus cari gara-gara. Berny menandai wajah Tara sebagai rivalnya.
“huft, makasih ya udah selamatin gue” bisik Tedja takut terdengar oleh Berny.
Tedja paham maksud Tara, tapi Berny adalah peringatan besar untuknya. Selama ini Tedja menghindar dari target Berny, sialnya Tedja di notice Berny saat peran Adam mulai digemari masyarakat. Berny diam-diam memberinya mobil dan apartemen baru.
“Ja, mending lo terima aja. Lo tau sendiri kan agensi kita salah satu pemegang sahamnya Berny. Anggap aja itu bonus buat lo. Selama lo gak berulah lo bakal aman dari Berny” ujar Kingston kala itu.
Tedja belum menggunakan kedua barang pemerian Berny. Hati kecilnya was-was terhadap kebaikan Berny, alarm bahaya di kepalanya selalu berdering saat Berny ada di sekitarnya.
“Atau lo hombreng (hom*) juga?” tebak Tara asal.
“Gue straight, Tara” tegas Tedja, tak mau Tara salah paham.
__ADS_1
“Bukannya orang-orang kayak gitu punya radar, bisa mendeteksi sesamanya” ujar Tara sinis.
“Mana gue tau, gue bukan bagian dari mereka. Mungkin aja dia suka semuanya yang berbatang” ujar Tedja kesal.
Tara menyesali mulut sialannya yang berbicara tanpa berpikir. Ada bagusnya juga Tedja terlihat kesal dibanding sikap pura-pura baiknya.
“Gue gak maksud gitu, Cuma nanya aja” ujar Tara ngeles sambil mengusap lehernya.
“No problem. Yuk syutingnya mau mulai” ajak Tedja
Berny memandang Tara dan Tedja dari kejauhan.
“Berapa episode lagi artis miskin itu main film sama Tedja” tanya Berny judes pada Pinkan sohib gosipnya.
“Masih lama nek, baru juga sepuluh episode. Rencananya sih kalau ratingnya naik, bakal nambah jadi 200 episode” ujar Pinkan lebay, memantau reaksi Berny.
Berny nampak geram. Kalau bukan karena investasi besar di CHSP, dia pasti sudah mengobrak-abrik rumah produksi yang tak kompeten itu. Dua ratus episode? apa saja yang diceritakan dalam sinetron itu? Terbayang dalam otaknya adegan mati, hilang ingatan, sakit jiwa dan lain sebagainya. Berny sedikit menyesal berinvestasi pada sinetron tak bermutu.
“Kenapa djeng” tanya Marion pada Pinkan, lelaki kemayu lainnya yang menjadi asisten Berny, ahli membaca pola design.
“Huhhhh PANAS djeng, PANASSS, ” ujar Pinkan mengibaskan jemari lentiknya.
Keduanya cekikikan menyaksikan drama cinta Berny. Tanpa Berny ketahui, mereka berdulah yang menjadi biang gosip di kalangan sosialita. Menebarkan kebusukan Berny gonta-ganti pasangan.
...----------------...
__ADS_1