Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Heran


__ADS_3

Prita pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Air matanya seolah kering, dalam hati dia bertanya-tanya mengapa Fendi semudah itu menyuruhnya menyudahi hubungan mereka, sedangkan Fendi dan wanita itu belum sebulan kenal. 


Prita berlalu begitu saja melewati Tara. Tanpa banyak bicara Prita menuju kamarnya dan mengurung diri di sana. Berkali-kali dia menghembuskan nafas meyakinkan bahwa ini adalah jalan terbaik dari hubungan mereka, meskipun hatinya berat mengakui kenyataan itu namun dia tak tak bisa memaksa Fendi tetap di sisinya. Malam itu malam paling menyedihkan dalam hidup Prita.


"Mimpi apa lo bangun pagi mulu?" tanya Tara sambil mengucek matanya.


"Kenapa emangnya?" balas Prita sambil terus mengayuh sepeda statisnya.


"Heran aja" ujar Tara 


Seminggu berlalu begitu cepat, setelah malam menyedihkan itu Prita mengalihkan pikirannya dengan olahraga dan bekerja meskipun saat tidur dan waktu luangnya Tara mendapati Prita melamun. Tara bertaruh Prita hanya mampu bertahan seminggu pertama, ternyata Prita tetap konsisten hingga akhir bulan. 


"Lo lagi ada masalah?" tanya Tara di suatu pagi.


Prita menggeleng. 


Tara tak puas dengan gelengan lemah Prita. Dia gencar menebak-nebak tingkah aneh manajernya.

__ADS_1


"Gimana hubungan lo sama Lintang?" tanya Prita


Tara cukup terkejut, Prita yang antipati pada hubungan mereka tiba-tiba bertanya.


"Baik-baik saja, utang gue belum lunas jadi gue gak bisa sembarangan bertingkah" kekeh Tara.


"Maksud gue kalian pacaran, LDR atau apa?" 


"Backstreet mungkin" jawab Tara sekenanya tak yakin dengan hubungan mereka saat ini. 


Tara menatap Prita, mata belonya nyaris keluar.


"Lo gak liat gue nangis kayak orang gila gak terima diputusin. Gue teror dia setiap hari" ujar Tara dengan nada tinggi, mengingatkan Prita pada drama putus cinta mereka. Kalau adegan barusan dijadikan film India Prita yakin ekspresi Tara sudah di zoom dari berbagai macam angle.


"Lo putus cinta" tebak Tara


Prita menyipitkan mata sambil mencibir pertanyaan Tara. Membuka rahasianya pada Tara sama saja dengan berbicara di depan awak media, akan heboh dan menyebar kemana-mana. Belum lagi Tara spesialis melabrak, Fendi bisa jadi bulan-bulan Tara.

__ADS_1


"Btw, Lintang baik banget ya kok mau dipinjami duit" tanya Prita heran. Sekarang baru terpikirkan olehnya. Bayangkan saja mantan mana yang sudah di teror dan dimaki-maki masih bisa sabar dan dengan senang hati membantu tanpa menyebarkan aib. 


Atlet memang beda. Kehidupan mereka diisi dengan latihan dan pertandingan, mereka tidak punya waktu mengurusi hal lain yang tidak berguna bagi masa depan mereka. Mungkin juga uang sebanyak itu bukan angka yang fantastis. 


"Eh, jatah bulanan mama udah lo kirim?" tanya Tara.


Prita mengangguk. Airin ada dalam genggamannya sekarang. Dia membuat kesepakatan sebulan Airin hanya dijatah 10 juta yang diberikan setiap tanggal 05 dan 15 dalam bulan itu. Tidak ada jatah tambahan. Kalau Airin ingin gaya hidup yang mewah, dia harus bekerja. Toh anggota tubuhnya lengkap, tak cacat sedikitpun banyak juga pekerjaan halal yang bisa Airin lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mewahnya dan lagi Airin tak perlu sok sosialita  dengan budget menyedihkan. 


"Jangan melamun" senggol Tara pada siku Prita. 


"Gue selalu gak habis pikir sama nyokap lo" omel Prita.


Pembahasan tentang Airin tak pernah ada habisnya. Tara tersenyum kecut, dua hari lagi ulang tahunnya. Tara tak banyak meminta, hanya pesan singkat doa dari ibunya. Pesan seadanya juga tak apa.


"Mandi gih, kita harus tiba di lokasi jam 6" Prita melihat jam tangannya, masih ada waktu 45 menit untuk bersiap.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2