Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Plin - Plan


__ADS_3

Prita menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Fendi mantan pacarnya. Fendi benar-benar brengsek. Belum satu minggu dia mengakhiri hubungan mereka, lelaki itu pamer kemesraan dengan pacar barunya. Caption norak story whatsappnya “She say yes” keduanya berpose saling berpandangan mesra. Prita tak tahu lagi makian jenis apa yang ada di kepalanya, ingin sekali diucapkannya langsung makian itu pada Fendi.


“Buanglah mantan pada tempatnya” tampaknya quotes move on itu tak kunjung membuat hatinya berpindah. Prita sengaja tak memblokir kontak dan media sosial Fendi karena ingin tahu kegiatan lelaki itu setelah mereka putus. Sekarang dia menyesali perbuatan bodohnya, sakit hatinya semakin bertambah tak kala Fendi sering memamerkan kemesraan mereka dan merubah profil WA nya dengan wajah wanita itu.


Prita mengenang pertemuan pertama dan kenangan manis yang telah mereka ukir. Ternyata tak ada yang luar biasa dari kisah mereka, benar pendapat Fendi. Hubungan mereka terlalu datar dan Fendi terlalu banyak mengalah. Sifat dominan Prita membuat lelaki berlesung pipi itu akhirnya menyerah. Sudahlah, mungkin ini jalan Tuhan menunjukan manusia seperti apa Fendi. Lelaki yang hidupnya tampak lurus dan biasa-biasa saja nyatanya menjalin hubungan di belakangnya saat mereka masih berstatus pacaran.


“Prita Randu Santini” teriak Tara menyebutkan nama lengkapnya.


“Pikiran lo masih di sini kan? Pesawat kita udah hampir berangkat, lo duluan aja ngurusin bagasi gue nyusul” ujar Tara sembari mengibaskan tangannya, mengusir Prita agar segera pergi.


Tak lama kemudian awak media mengerumuni Tara dan Tedja yang kini didapuk menjadi model video klip band lawas, yang siap melakukan comeback. Syutingnya berlangsung satu hari di pulau Dewata. Malam nanti mereka akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan terakhir.


Prita mendorong kopernya menuju counter check in, tiga puluh menit yang lalu dia telah melakukan check in online dan harus menunjukan bukti kepada petugas counter agar boarding pass untuk ketiga orang yang ikut bersamanya Tara, Tedja, dan Kingston manajer Tedja segera di cetak.


“bugh” Prita menabrak seorang gadis yang berdiri termenung di hadapannya.


“Eh maaf, maaf” ujar Prita membungkukkan kepalanya berulang kali. Mereka berdua hampir saja jatuh jika Prita tidak menarik tangannya, membuat posisi keduanya seimbang.


Prita segera berlalu meninggalkan wanita itu.


Ngapain sih tuh cewek pakai melamun di bandara


Keluh Prita sambil antri di barisan penumpang dengan tujuan yang sama dengannya. Sesekali dia menoleh melihat wanita yang baru saja ditabraknya.

__ADS_1


“Kita berdua ada syuting video klip di Bali. Doain ya semoga semuanya lancar” ujar Tedja meminta restu pada awak media yang mewawancarai mereka.


Tara memutar matanya bosan melihat senyum palsu Tedja, untung saja dia mengenakan kaca mata hitam jadi tak perlu takut ekspresinya akan menjadi viral di media sosial.


“Berapa lama syuting di Bali” para reporter berebut menyodorkan mike yang hampir menonjok wajah Tara.


Apaan sih ni orang, pakai nyosor segala. Kirain gue patung apa


Tara mundur beberapa langkah, menghindar dari mike yang bisa menghantam wajahnya kapan saja.


“Sehari doang, malam udah balik” ujar Tedja tetap tersenyum ramah.


“Udah mau take off  nih” bisik Kingston


Tedja segera mengakhiri basa-basinya dan meminta doa agar mereka selamat sampai ke tempat tujuan.


Cabin crew sudah memperbolehkan penumpang melepas sabuk pengaman, dan bisa menonton hiburan di gadget yang tersedia di hadapan mereka.


“Gak usah” ujar Tara singkat sambil memasang earphone, mencari film yang cocok ditonton selama perjalanan.


“Muka gue jelek banget ya” tanya Tedja pada Kingston yang duduk di kursi seberang tempat duduknya.


Kingston dan Prita tertawa mendengar pertanyaan Tedja. Ekspresi Tedja tampak jengkel.

__ADS_1


“Lagi PMS tuh biarin aja” ujar Prita jahil.


Meskipun Tara mengenakan earphone, ejekan Prita tetap terdengar jelas di telinganya.


“Nawarin kopi, kayak nawarin racun aja” gumam Tedja.


“Sini!” Prita menarik paksa kopi yang tadi Tedja tawarkan, dalam sekali teguk dihabiskannya kopi itu.


Sikap kasar Tara membuat Prita meradang.


“Ja, lo pindah sini aja” tawar Prita bersiap tukar tempat.


Tedja menggelengkan kepala, dia tak keberatan duduk di samping Tara hingga mereka tiba.


“Lo kenapa sih, sensi banget sama Tedja” tegur Prita, wajahnya tampak masam.


“Dia gak usah sok baik deh! Gara-gara dia gosip kita berdua punya hubungan spesial jadi menyebar. Mana dia sok cool lagi gak mau klarifikasi” cecar Tara, wajahnya tak kalah masam.


“Ya udah bagus dong, pamor lo bisa naik karena gosip-gosip yang gak jelas itu. Lagian lo ngapain baper, kan lo sendiri yang bilang entertain harus profesional, hiiih” Prita makin kesal dengan Tara yang terkesan plin-plan.


Tara kehilangan kata-kata. Dia memutuskan tidak memperpanjang debat mereka, pokoknya nanti dia harus ketemu Lintang dan menjelaskan hubungan dia dan Tedja hanya sebatas lawan main gak lebih. Dia tak mau menyakiti hati Lintang, meskipun sekarang hubungan mereka diujung tanduk.


Diam-diam Tedja menguping pembicaraan mereka berdua. Tinjunya mengepal erat.

__ADS_1


 


...----------------...


__ADS_2