Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Sarira : Pulang


__ADS_3

Drama perselingkuhan itu tidak berlangsung lama, Prayoga rela mengeluarkan ratusan juta sebagai uang damai untuk pasangan suami istri itu. Saat itu ada desas-desus kalau selingkuhan Prayoga tengah mengandung, dan disuruh digugurkan.


Sejak saat itu, Sarira wanita hangat dan penurut itu mulai memikirkan masa depannya dan Genta. Sarira memilih diam, daripada menumpahkan kemarahannya pada Prayoga. Semua rasa sakit hati, sumpah serapah, ditelannya sendiri. 


Sarira mulai menimbang-nimbanh kondisiinya, saat ini pendapatannya masih bergantung pada suaminya. Uang yang dimilikinya belum cukup untuk membiayai dirinya dan Genta. Sempat terpikir olehnya untuk pulang ke rumah orang tuanya di Manado, tetapi kondisi keluarganya juga sangat memprihatinkan. Selama ini Sarira terus mengirimkan uang untuk orang tuanya dan saudara-saudaranya yang lain pun menumpang hidup di rumah orang tuanya.


Rasa kesal, marah, dan kecewa memang membuncah di dadanya. Tetapi Sarira sadar betul, keputusan yang dibuat karena emosi akan membawanya ke neraka. Lebih baik menghindari Prayoga dan menyibukan diri mengurus Genta.


Sarira perlahan memberi jarak dengan Prayoga, kalau lelaki itu sadar dengan perbuatannya harusnya dia meminta maaf. Tetapi tidak demikian, Prayoga bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa pada rumah tangga mereka. Tampaknya Prayoga juga malas berdebat, selama sebagian besar pendapatannya diserahkan ke istrinya tidak ada masalah berarti baginya.

__ADS_1


Berbulan-bulan Sarira memikirkan cara agar tidak bergantung pada penghasilan suaminya. Sarira mulai rajin bergabung bersama anggota PKK Kecamatan tempat mereka tinggal. Ketika ada bantuan yang diberikan untuk kelompok usaha kecil dan menengah, Sarira tidak melewatkan kesempatan itu untuk ikut bergabung. 


Sarira dan ibu-ibu lainnya mulai mengolah panganan lokal yang sebenarnya sudah ada sejak dulu. Entah kenapa, ketika tren pangan lokal meningkat permintaan inovasi pangan lokal juga bertambah. Bermodalkan ide, kreasi, dan dibantu oleh hasil penelitian dari peneliti yang turut membina kelompok pangan lokal usaha mereka semakin dikenal.


"Kalau di saat penghasilan meningkat, sisihkan uang untuk disimpan. Namanya berbisnis ya bu, harga pasar itu tidak selalu stabil, dan pesaing kita akan terus muncul dengan produk serupa. Karena itu ibu-ibu kita harus menjaga relasi dengan pihak yang mendukung bisnis kita," ujar Sarira kepala kelompok usaha binaan PKK. Ia bersyukur karena pernah menjalani usaha dan bangkrut ilmunya bisa dibagikan kepada ibu-ibu.


Meskipun kadang pertanyaan tentang rumah tangga selalu terselip diantara pembicaraan mereka, namun kini Sarira bisa menanggapi secara santai. 


Sarira sedikit khawatir karena pembicaraan ibu-ibu kadang dibumbui gosip dan masalah rumah tangga. Namun Genta selalu menunjukan ekspresi tidak peduli dengan omongan itu. Sekarang putra sudah tidak bertanya-tanya ke mana ayahnya pergi.

__ADS_1


Bagaimana dengan Prayoga? tentu laki-laki keras kepala itu sibuk dengan bisnis dan hobinya. Setelah Sarira merasa hatinya telah ikhlas, dia berusaha membicarakan hal itu dengan Prayoga namun hasilnya nihil. Lelaki itu kadang menghindar ataupun sekedar mendengarkan.


Sepengetahuan Sarira hingga akhir hayatnya, Prayoga tidak pernah terdengar selingkuh atau bersama wanita lain. Entahlah, yang jelas Sarira akhirnya memiliki bisnisnya sendiri, pindah ke Manado membesarkan Genta dan Prayoga menjalankan tugas sebagai ayah yang baik sert memenuhi keinginan putranya menjadi Dokter.


Kalau diingat-ingat, hal-hal kecil seperti itu nampaknya membekas di ingatan Genta. Putranya berualang kali menjalin hubungan dengan wanita, dan berakhir kandas. Dalam lubuk hatinya Sarira merasa seperti orang tua yang durhaka.


"Mikir apa sih ma?," tanya Genta.


"Ayo pulang ke Semarang," ajak Sarira dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2