Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Nenek?


__ADS_3

Mia melalui hari-hari sekolahnya dengan perasaan hampa.


Dia sangat iri melihat teman-temannya diizinkan pulang lebih awal, dan berlatih persiapan perlombaan. Mia tidak lagi menunggu Bi Nina di depan gerbang sekolah saat jam pulang melainkan menonton siswa-siswi terpilih berlatih di halaman sekolah.


“Ayo pulang” ajak Bi Nina sambil menggandeng tangan Mia.


Sesampainya di rumah Mia lalu menuju kamarnya. Saat melewati kamar mamanya, Mia melihat pintu kamar sedikit terbuka.


Mia berjalan ke arah pintu tersebut, berusaha agar langkah kakinya tidak terdengar.


Maksud hati Mia ingin mengagetkan ibunya, namun saat kepalanya muncul di balik pintu, tidak ada siapa-siapa.


“Ma.., mama” panggil Mia dengan suara kecil, memastikan mamanya ada di ruangan tersebut.


Tidak ada jawaban.


Mia meneliti sudut kamar.


Kosong.


Mia mendekat ke arah pintu kamar mandi. Tercium wangi shampoo yang biasa digunakan mamanya dan ada percikan air di celah pintu bagian bawah.


Mama lagi mandi batin Mia sambil berjalan meninggalkan kamar mamanya.


Sebelum Mia menutup pintu kamar mamanya, matanya tertuju pada salah satu benda keramat yang dibiarkan di dekat bantal yang ada di tempat tidur.


Cepat-cepat Mia menuju benda tersebut dan membukanya.


Masukan PIN


PIN yang anda masukan salah.


Sambil mengutak atik ponsel mamanya.

__ADS_1


Mia berpikir keras PIN apa yang digunakan mamanya untuk mengunci hanphonenya. Kesekian kalinya Mia mencoba dan berhasil. PIN nya adalah tanggal lahir Mia.


Hal pertama yang dilakukan Mia adalah mencari kontak yang ada di ponsel tersebut.


Kontak Regata lumayan banyak dan terdiri dari nama-nama dokter, perawat, bidan, farmasi, radiolog dan tenaga kesehatan lainnya.


Regata punya kebiasaan menulis nama kontak dengan menyertakan profesi atau tempat orang tersebut bekerja.


Mia menggeser layar ponselnya mencari nama yang mungkin bisa memberinya petunjuk tentang siapa ayahnya dan keluarga ibunya.


Mia mengingat cara mudah menemukan kontak adalah dengan mencari di fitur searching yang ada di sebelah kanan atas layar ponselnya. Berbagai kata kunci di carinya hanya yang berhubungan dengan ayah.


Coba sekarang ganti kata kuncinya menjadi ibu, batin Mia menekan sambil menekan huruf ibu.


Pencarian tidak ditemukan


Mother


Pencarian tidak ditemukan


Mama


Jantung Mia berdegup kencang. Dibukanya resleting bagian depan tasnya dan diambilnya pulpen.


Mia menggosok tangannya yang berkeringat pada rok seragamnya lalu menuliskan deretan angka tersebut.


“ceklek” kenop pintu diputar.


Mia segera mengembalikan tampilan layar ponsel tersebut kembali ke semula, lalu menekan tombol off dan meletakan ponsel tersebut di tempat semula.


“Sudah pulang” tanya Regata sambil menggosok rambut dengan handuk.


“Iya tadi mau ngagetin mama, taunya mama lagi mandi” Mia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan raut gugup.

__ADS_1


Telapak tangannya kembali berkeringat.


“Semoga gak terhapus, semoga gak terhapus” doa mia dalam hati.


“Ganti baju, cuci tangan, habis itu makan”


Mia segera berlari ke kamar dan mengunci pintunya. Dia segera menyalin nomor tersebut di halaman belakang buku tulisnya.


“Bi Nina, boleh pinjam handphone sebentar?” tanya Mia sambil melihat ke kamar mamanya, memastikan Regata tidak mendengar perbincangan mereka.


Regata berjanji pada Mia saat Mia duduk di sekolah menengah atas Mia baru boleh dibelikan dan diizinkan menggunakan handphone. Selama itu Mia diam-diam diajari bermain game di ponsel Bi Nina, memotret, dan mengetik. Bagi Mia yang merupakan generasi yang lahir di tahun 2000-an tombol-tombol yang ada di ponsel di desain mirip komputer dan mudah digunakan, hanya di ajarkan satu kali saja Mia sudah mulai bisa mengutak-atik ponsel tersebut.


“Makan dulu" tegas Bi Nina.


“Penting Bi, sebentar aja” pinta Mia lagi.


Bi Nina memberikan handphonenya sambil menatap Mia curiga.


“Ada pulsanya gak?” tanya Mia lagi.


“Ada. Kena...” belum sempat Bi Nina


menyelesaikan kalimatnya Mia telah berlari ke samping rumah, ke tempat yang tidak terlihat oleh Regata.


Mia menekan satu persatu nomor yang telah di tulisnya pada sepotong kertas.


Mia menunggu cukup lama sampai akhirnya telepon tersebut diangkat.


“Halo selamat siang, dengan siapa ini?” tanya sebuah suara yang terdengar cerempeng.


Mia diam sejenak.


“Halo?” tanya suara di seberang.

__ADS_1


“Nenek?”


...----------------...


__ADS_2