
Genta dan Regata berada dalam satu mobil menuju Rumah sakit. Sepanjang perjalanan keduanya memilih diam. Regata mengalihkan pikirannya memandang keadaan di sekitar jalan yang mereka lewati. Dia tak berniat memulai percakapan dengan Genta, dia tak ingin percakapan tentang kabar Mia meruntuhkan pertahanan yang dia bangun untuk tak menanggis di hadapan Genta. Lelaki itu sudah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupannya.
Genta POV
Belum pernah Regata terlihat semurung ini. Regata yang dia kenal mudah bersikap cuek dan tak peduli. Orang yang ekspresif namun menyembunyikan banyak luka. Tak seorang pun Regata biarkan tahu tentang kehidupannya bahkan aku harus menggali lebih jauh, butuh waktu yang lama sampai Regata membagi cerita tentang dirinya dan Mia.
Regata Saraswati, kisahnya selalu menarik perhatianku. Tidak ada yang spesial di pertemuan kami. Regata bukan dokter pertama yang merasakan umpatan pedas, tapi hanya Regata yang terus bertahan menjalankan banyak operasi dan menggantikan jadwalku tanpa mengeluh di hadapanku.
Terdengar berlebihan, mungkin saja dia memaki belakangku tapi dia selalu menjalankan tugasnya dengan baik. Teliti, rapi, cermat, dan profesional. Lama kelamaan tanpa sadar aku mulai peka dengan segala hal tentang Regata. Kenyataan bahwa dia memiliki seorang putri jelas menarik atensi. Tak ada seorangpun diantara kami yang tahu siapa lelaki yang berhasil meluluhkan hatinya, dia tak pernah terbuka tapi terluka.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai berpikir serius. Bagaimana caranya menjadikan ayah sambung yang baik bagi Mia. Regata terlalu sulit dijangkau, Mia mungkin bisa jadi penghubung yang kuat antara kami. Pelan-pelan aku memasuki kehidupan Regata, kehidupan yang lebih rumit dari yang ku bayangkan.
Ucapanku mempengaruhi tindakan Regata, menggoyahkan hati wanita itu untuk melepas kepergian putrinya. Betapa bodohnya aku mengejar egoku yang menggebu.
Saat ini wanita itu duduk di sampingku. Terluka dan hancur dalam diam.
__ADS_1
Mereka tiba di parkiran Rumah Sakit. Regata mengucapkan terima kasih tanpa menoleh sedikitpun. Hilang dari pandangan Genta. Genta memukul stir kesal. Sikap diam Regata membuatnya semakin bersalah. Ada rasa sakit dalam dirinya yang tidak bisa didefinisikan dengan ilmu kedokteran yang dipelajarinya, bahkan lebih sulit dari ujian stase bedah.
Apa perlu dia membedah dirinya sendiri, memeriksa organ mana yang terluka?
Bodoh! Saat ini Genta tidak bisa berpikir waras. Baru di awal saja rasanya sesakit ini, kalau dia masuk lebih jauh maka dia harus bisa menerima masa lalu dan rahasia Regata. Genta menghembuskan nafasnya kasar, memutar mobilnya dan melaju menjauh dari rumah sakit.
Genta menuju sebuah perumahan. Dia memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah itu dan menelepon seseorang, minta dibukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar derit gerbang didorong. dr. Wina dan suaminya dr. Frans memberi kode agar Genta memarkirkan mobilnya di garasi.
Pasangan itu membiarkan Genta masuk. Ketiga orang itu sudah akrab sejak masih menjadi dokter umum di Universitas Sam Ratulangi, almamater ketiganya menuntut ilmu.
Wina dan Genta duduk di ruangan terbuka sambil menikmati pemandangan malam di sekitar perumahan itu, sepi dan sejuk. Wina menyodorkan asbak saat Genta menyulut Surya 16 miliknya. Wina paham kebiasaan Genta, saat dia merokok tandanya dia sedang dalam pergolakan batin yang berat.
“Ada apa dengan Regata?” tembak Wina langsung tanpa basa-basi.
“Entahlah” jawab Genta acuh.
__ADS_1
Wina tertawa kecil, sudah lama dia tidak melihat Genta frustasi. Ketika putus dari tunangannya Genta menanggapinya dengan santai, sedangkan Regata dan Genta hanyalah dua orang tanpa status yang jelas. Regata punya dunianya sendiri, sedangkan Genta hanyalah sepenggal kisah dalam perjalanan Regata, begitulah pendapat Wina.
“Bukannya kamu juga tahu, wanita mandiri seperti Regata itu susah. Susah diatur, susah dinasehati, susah dicari tahu rahasianya. Dia hidup di atas prinsipnya selama bertahun-tahun” ujar Wina enteng.
Genta mendengarkan pendapat Wina sembari menghembuskan asap rokok.
Genta setuju, semuanya tentang Regata tidak mudah. Prinsip dan ego Regata sebesar ego miliknya. Genta membayangkan jika mereka berdua bersanding, kemungkinan yang akan terjadi adalah perang ego. Genta sedikit kesal kenapa dia baru memikirkan hal itu sekarang.
“Apapun yang kamu rencanakan lebih baik hentikan sekarang” Wina merasa tak perlu banyak menasehati sahabat karibnya. Mereka sudah dewasa, satu kalimat saja sudah bisa Genta analisa. Sebagai teman yang baik, Wina perlu mengingatkan Genta.
Kadang laki-laki hanya mengandalkan logika dan ego, yang penting keinginan mereka tercapai. Sebelum terlalu jauh, dan makin rumit lebih baik Genta tak ikut campur.
“Aku pulang dulu” ujar Genta mematikan puntung rokok ketiganya.
...----------------...
__ADS_1