Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Menemui Psikolog


__ADS_3

“Permisi Bu” ujar Lintang pada Miranti salah satu psikolog yang ada di di pelatnas.


Miranti sudah dihubungi coach Arifin lewat


pesan whatsapp, kedatangan Lintang tidak membuatnya terkejut.


Tanpa basa-basi Lintang menceritakan maksud kedatangannya dan kronologi


pertengkarannya dengan Tara. Lintang mengungkapkan keluh kesahnya dan meminta petunjuk Miranti tindakan apa yang sebaiknya dia ambil.


Miranti menulis pada kertas poin-poin penting yang Lintang katakan dan mulai menganalisa permasalahan Lintang.


“Mendengar cerita kamu, saya menarik kesimpulan sementara bahwa saat ini kamu sedang berada dalam toxic relationship”.


“Ada macam-macam penyebab toxic relationship  kalau saya dengar dari cerita kamu, penyebab yang hampir pasti adalah keinginan seseorang untuk mengontrol orang lain. Sampai di sini paham apa yang saya bicarakan?” tanya Miranti pada Lintang yang tampak kosong.


Lintang mengangguk paham.


“Kalau hubungan ini dibiarkan berlanjut maka akan semakin beracun dan merugikan kamu. Bisa juga merugikan orang-orang di sekitar kamu. Kamu tidak perlu binggung.


Buat pilihan yang tidak membebani kamu. Jangan terlalu memikirkan perasaan

__ADS_1


orang lain, itu gak akan ada habisnya. Seperti lingkaran setan, kamu akan balik


lagi ke kondisi sekarang ini” Miranti mengingatkan Lintang tentang sifat tidak


enak hati, yang sering kali membuat Lintang mudah dimanfaatkan oleh orang lain.


Kata-kata Miranti memberi angin segar pada Lintang. Kerisauannya terjawab sudah.


Waktu telah menunjukan pukul 14.30 WIB Lintang kembali ke asrama dan beristirahat.


Hal pertama yang dilakukan Lintang adalah memeriksa handphone yang sengaja dia nonaktifkan dan dia tinggalkan di lemari


Notifikasi masuk bertubi-tubi, telepon dari nomor tidak dikenal dan pesan-pesan berisi


ancaman memenuhi pemberitahuan handphonenya. Di antara deretan nomor yang menelepon, Lintang melihat nama ibunya tertera di sana. Cepat-cepat Lintang menghubungi kembali nomor ibunya.


Pada nada dering pertama telepon Lintang diangkat. Lintang mendengar suara isak


tangis yang dia kenal, suara ibunya. Ayahnya mengantikan ibunya berbicara pada Lintang. Kedua orang tuanya sangat khawatir dengan pemberitaan yang beredar. Rumah mereka menjadi incaran wartawan dan media yang haus akan berita, dan ingin tahu reaksi kedua orang tuanya.


Untung saja, kakak pertama Lintang berinisiatif menjemput orang tuanya. Untuk

__ADS_1


sementara orang tua Lintang akan tinggal di rumah kakaknya dan tidak diiznkan


keluar sampai Lintang menghubungi mereka.


Lintang menceritakan kronolisk kejadiannya dengan Tara hingga hasil konsultasinya dengan psikolog di pelatnas.


Ayah Lintang hanya bisa memberikan dukungan moril kepada anaknya dan menyerahkan semua keputusan itu kepada Lintang. Ayahnya yakin Lintang bisa mengatasi masalah ini.


Sebelum mulai sesi latihan sore, Lintang kembali menemui coach Arifin, Koh Toni dan Bu Tien mendiskusikan rencana untuk mediasi. Diskusi berjalan cukup alot karena ketiga orang tersebut memikirkan dampak yang akan Lintang terima setelah mediasi. Sampailah mereka pada suatu keputusan yang secara bersama mereka setujui.


Lintangbsiap menerima segala konsekuensi dari mediasi dan kericuhan yang dia timbulkan.


Koh Toni dan pengurus Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) menyampaikan keputusan Lintang pada forum diskusi darurat mengenai mediasi. Banyak pihak mendukung langkah Lintang untuk segera mengakhiri drama yang semakin menjadi-jadi.


Bagian Humas PBSI menghubungi media partner PBSI dan beberapa media terkenal untuk hadir dalam klarifikasi Lintang besok pagi.


Malam itu Lintang tidak bisa tidur dengan tenang, sembari mempersipkan kata-kata


untuk menghadapi wartawan keesokan harinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2