
Atlet putri dan putra berkumpul di ruang rekreasi masing-masing asrama. Mereka menonton drawing di youtube SEA Games. Karena SEA Games bukan rangkaian tur BWF, maka live drawing disiarkan oleh panitia SEA Games Hanoi. Tampaknya kompetisi tahun ini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Sepuluh negara anggota ASEAN mendaftarkan atlet badminton dari negara mereka, maka panitia memutuskan agar drawing disiarkan secara live. Pemain menunggu sambil harap-harap cemas sambil berdoa semoga Indonesia memperoleh drawing yang menguntungkan.
Kompetisi dibagi menjadi dua grup, A dan B. Drawing pertama adalah drawing beregu putra. Satu persatu hasil drawing keluar dan diurutkan. Indonesia berada di grup A bersama Malaysia, Myanmar, Filipina, Laos. Grup B ada Thailand, Kamboja, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam.
Indonesia tak bisa menghindari rival dari negeri jiran. Grup A dan Grup B sama-sama memiliki kandidat terkuat. Selain Indonesia, Malaysia dan Thailand, Singapura dan Vietnam adalah negara dengan tim kuat lainnya. Vietnam menurunkan pemain veteran yang sudah sering berlaga di level dunia, apalagi saat ini mereka berlaga di kandang sendiri . Drawing beregu putri pun dimulai. Beregu putri Indonesia ada di grup A dengan Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, dan Vietnam.
“Selamat malam semuanya” ujar Koh Toni membuka pembicaraan. Waktu telah menunjukan pukul 21.00 WIB
“Selamat malam Koh” ujar para atlet serempak.
Tadi kita sudah melihat siaran live drawing pertandingan, dan besok akan kami bagikan ke grup hasil drawing dan jadwal pertandingan. Waktu kita tinggal empat hari lagi sebelum berangkat ke Hanoi. Dua hari sebelum pertandingan sudah harus tiba di sana” ujar Koh Toni.
Kedatangan mereka yang lebih cepat dari jadwal pertandingan dimaksudkan agar pemain menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan, dan shuttlecock yang digunakan. Pemilihan shuttlecock harus menyesuaikan dengan suhu udara di tempat pertandingan, karena suhu udara dapat menyebabkan penyusutan pada bagian dasar shuttlecock yang kemudian akan berpengaruh pada laju shuttlecock bisa menjadi cepat atau lambat.
Hari keberangkatan tiba, presiden melepas kepergian atlet yang akan berlaga di SEA Games. Atlet badminton tidak berangkat sendiri melainkan bersama atlet voli, catur, bowling, takraw, dan atlet gymnastic. Mereka adalah kloter kedua yang berangkat dari Indonesia.
Kloter pertama sekaligus kloter yang menghadiri perhelatan akbar pembukaan SEA Games berisi atlet panahan, menembak, angkat besi, dan atlet dari cabang bela diri. Sisanya akan berangkat di kloter selanjutnya karena jadwal pertandingan dilaksanakan di hari yang berbeda, dan di lokasi yang berbeda di Vietnam.
Enam jam perjalanan cukup membuat leher leher dan punggung terasa nyeri. Rombongan itu berbondong-bondong menuju bagasi dan bergerak meninggalkan bandara dengan bus yang disediakan panitia. Setibanya di hotel, official dan atlet diminta menunggu karena resepsionis sedang memeriksa nama dan data diri para atlet yang datang. Sembari menunggu diantar ke kamar, atlet-atlet mengusir rasa bosan dengan bermain game di gadget mereka atau mencoba camilan khas Vietnam yang disuguhkan pihak hotel.
“Lu ngapain?” tanya Lintang pada Bisma, sobat karibnya.
__ADS_1
Bisma sibuk dengan kamera Fujifilm X-S10 miliknya.
“Buat video” jawab Bisma singkat, dia terlihat sibuk mencari angle kamera yang cocok agar bisa menyorot jajanan khas yang tersusun rapi di atas meja.
“Untuk apa?” tanya Lintang heran, kini dia berada di belakang Bisma melihat hasil video yang nampak pada layar kamera.
“Buat vlog, lumayan dapat tambahan kalau banyak yang subscribe dan banyak yang nonton” ujar Bisma.
Vlog sedang tren di kalangan pemain badminton, bahkan beberapa pemain badminton nasional maupun pemain dari negara lain beramai-ramai menjadi vlogger sebagai pekerjaan sampingan di waktu luang mereka. Cukup realistis menurut Lintang, sambil menyelam minum air pertandingan ke luar negeri sekaligus membuat vlog.
Seorang bellboy mendekati Lintang, dengan bahasa Inggris yang terbata dia memperkenalkan diri sekaligus mengajak Lintang mengikutinya menuju kamar. Lintang segera memanggil Bisma, menghentikan kegiatan lelaki itu lalu berjalan menuju kamar yang dimaksud.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Bisma sibuk menyorot interior hotel dengan kameranya sedangkan Lintang berusaha mencuri pandang apa saja yang disorot Bisma.
“Ada caranya juga?” tanya Lintang. Selama ini dia pikir yang penting objeknya bagus tinggal di sorot setelah itu video digabungkan dan jadilah konten siap posting.
Bisma mengejek pengetahuan Lintang tentang video yang diunggah di youtube.
“Di dunia ini ada miliaran orang yang mengunggah konten yang sama. Menurut lo, kenapa orang nonton vlog gue selain karena gue atlet badminton?” tanya Bisma.
“Konten lo” jawab Lintang.
__ADS_1
“Ya makanya itu, jangan sampai penton pergi setelah lihat vlog lo yang apa adanya. Lo harus buat opening yang bagus, konten yang bagus dan punya sisi edukasi, closing yang bagus, editing, bila perlu ada subtitlenya untuk penonton internasional dan juga untuk penonton yang tunarungu” jelas Bisma panjang lebar.
Mereka tiba di lantai enam hotel itu, bellboy membuka kamar mendorong mempersilahkan mereka masuk lalu mendorong koper-koper mereka, menatanya di tempat khusus koper. Dia menjelaskan secara singkat detail ruangan itu, dan menunjukan tempat menu dan nomor yang bisa dihubungi melalui telepon di kamar itu.
Lintang memberikan tips pada bellboy itu namun dia menolak, katanya peraturan di hotel mereka melarang memberikan tips kepada karyawan dengan alasan apapun. Setelah petugas itu pergi, Bisma mengeksplor kamar itu dan berbicara di depan kamera menjelaskan fasilitas hotel dan pemandangan di luar hotel.
Lintang melepas jaket yang dikenakannya dan mengganti celana panjang dengan celana olahraga. Dia duduk di sisi ranjang membongkar satu persatu bawaannya. Selain pakaian dan perlengkapan tandingnya Lintang membawa mie instan, abon, kentang mustofa, dan rendang suwir. Makanan wajib ini disediakan oleh ibunya untuk menghemat pengeluaran meskipun panitia menanggung sarapan dan makan siang, makan malam tidak masuk dalam tangungan panitia alias biaya sendiri. Bisma kebagian tugas membawa rice cooker berukuran sedang, dan beras merah sebanyak yang bisa dibawa. Jadwal mereka sangat padat, tidak memungkinkan mereka pergi ke minimarket atau tempat lainnya untuk berbelanja.
Setelah semua barang-barang ditata, Lintang dan Bisma turun ke ruang makan bergabung bersama pemain lain yang sedang makan. Sambil makan mereka ngobrol santai tentang tempat wisata dan street food di Vietnam. Rujak Vietnam menjadi favorit senior-senior yang sudah lebih dari sekali ke Vietnam.
Lintang mendengarkan cerita mereka dengan saksama, setelah final nanti mereka punya waktu satu hari liburan di Hanoi sebelum kembali ke tanah air, Lintang ingin mencoba rujak yang konon rasanya mengalahkan rujak Indonesia.
“Habis ini kalian punya waktu istirahat 30 menit, sore ini kita ada jadwal latihan di hall yang disediakan panitia. Besok pagi pukul 08.00 kita tim pertama di jadwal uji coba lapangan” ujar Koh Toni membaca lembaran yang diberikan panitia.
“Annisa dan Lintang, saya akan sering koordinir dengan kalian berdua. Begitu juga pemain yang lain, kalau kalian punya keluh kesah, rasa tidak puas, atau saran silahkan sampaikan ke masing-masing kapten tim”
“Siap coach” jawab mereka serempak.
...----------------...
__ADS_1