Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Rutinitas


__ADS_3

Tara duduk dengan nyaman di sandaran kursi pesawat meregangkan otot-ototnya setelah seharian merapalkan mantra "all is well" di kepalanya sambil menghembuskan nafas berulang kali. 


Sementara di sampingnya Tedja sibuk membaca komik One Piece entah seri ke berapa yang jelas hari ini keduanya bekerja sama dengan baik. 


Tara merasakan guncangan di lengannya. Tara mengusap wajahnya melihat ke sekelilingnya, para penumpang mulai melepaskan sabuknya dan membuka bagasi kabin menurunkan barang bawaaan mereka.


"Nih lap dulu," ujar Tedja menyodorkan tissue basah. 


Tara yang salah tingkah segera mengelap bagian mulutnya, tampak bekas liur tersisa di sudut bibirnya.


Setelah tempat itu hampir kosong, Tedja dan Kingsley menurunkan bawaan Tara dan Prita. Tedja berbaik hati membawa tas milik Tara, sedangkan wanita itu mengekori Tedja kikuk.


Sampailah Tara dan Tedja di penghujung liburan mereka.


"Makasih udah bawain tas gue," ujar Tara malu-malu.


Tedja menahan tawa melihat pipi Tara bersemu merah.


"Tidak masalah, sekarang kita satu manajemen. Sampai jumpa," ujar Tedja singkat.

__ADS_1


Entah kenapa, Tara merasa hatinya seperti dicubit saat Tedja mengucapkan salam perpisahan yang singkat. Padahal Tara ingin mendengar kesan mereka selama berlibur. 


Kingsley melambaikan tangannya pada Tara dan Prita tanda perpisahan sedangkan Tedja berjalan tanpa menoleh sedikit pun.


"Kenapa?," tanya Prita dalam perjalanan menuju apartemen.


"Biasa memikirkan rutinitas," jawab Tara singkat.


Prita jelas tahu Tara berbohong. Sekilas Prita melihat ada raut kecewa saat Tedja membalikan punggungnya setelah mengucapkan selamat tinggal. Tara pasti berharap permintaan maaf atau semacamnya dari Tedja karena lelaki itu mengacaukan hampir setengah waktu liburan, pikir Prita.


*****


Keesokan harinya gedung manajemen Tara ramai dipenuhi oleh wartawan yang ingin melihat reaksi Tara setelah pengakuan Lintang. Prita sempat khawatir Tara kehilangan kesabaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengadu domba. 


Tak disangka potongan video wawancara Tara banyak di upload di facebook, tiktok, dan twitter dan sempat trending selama sepekan. Dia mendapat dukungan dari mayoritas warganet perempuan. 


Tawaran podcast di berbagai channel mulai berdatangan mengisi sela-sela waktu berliburnya.


"Tiga bulan kedepan kamu gak dapat jatah libur," ujar Prita. Sebenarnya dia tidak tega melihat dokter yang ditunjuk manajemen datang memberikan perawatan agar Tara tetap bugar. Tak jarang Tara disuntik vitamin C yang katanya untuk meningkatkan daya tahan ditengah aktivitas padatnya.

__ADS_1


"Gue gak papa, selagi trending gue harus kerja keras. Kesempatan ini gak datang dua kali," kata Tara.


Tara meminta agar kelas bisnisnya ditiadakan dulu, diganti dengan pekerjaan. Tara tidur tiga jam bahkan satu jam sehari jika jadwalnya padat, sementara Prita memastikan agar Tara tetap makan yang bergizi dan berolahraga ringan. 


Saat break shooting, Tara berbaring di mobil walau hanya 5 atau 10 menit bagi Tara kesempatan tidur yang minim itu cukup membantunya.


"Giliran lo touch up," kata Prita membangunkan Tara.


Usai berganti baju, tim make up dan hair do membantu Tara merias diri sedangkan Tara mencuri-curi waktu memejamkan mata.


Sebuah botol dingin menyentuh kulitnya, hampir saja Tara berteriak marah. Prita menyodorkan satu liter kopi F*mily M*rt kesukaannya. 


Kopi itu mengingatkan Tara akan pertemuan pertamanya dengan Tedja. 


Duh! kenapa Tedja sih, batin Tara. Wajahnya memanas.


Bicara tentang Tedja, sejak mereka berpisah tiga hari yang lalu tak ada tanda-tanda kehidupan dari Tedja. Setiap ada kesempatan Tara mengecek Whatsapp Tedja memastikan ada tulisan online atau mengetik di sana. Namun nihil. Tedja seolah ditelan bumi.


Tara menyesap kopi itu seteguk demi seteguk.  

__ADS_1


"Buruan, udah giliran lo," tegur Prita. Tara beranjak pergi meninggalkan ruang rias dan sebotol kopi.


...----------------...


__ADS_2