
Euforia kemenangan dan kepulangan tim Indonesia ke tanah air telah berlalu. Pemain yang terlibat mendapat jatah cuti dua hari sebelum kembali menjalani rutinitas. Lintang tak mengunjungi orang tuanya hanya sebuah percakapan singkat dengan ibunya cukup meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja.
Lintang melihat jadwal yang ditulis di kalender ponselnya. Hari ini dia sudah membuat janji dengan salah satu dokter ortopedi yang juga bekerja di pelatnas. Mereka sepakat bertemu sore nanti di tempat praktek.
Lintang duduk di kamarnya, membuka laptop dan memeriksa email masuk. Dia cukup kebingungan menerima banyak penawaran kerja, iklan, sponsor, dan endorse. Lintang melakukan berbagai riset di internet, dia tak mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Jalan terakhirnya dia menghubungi Bisma yang pernah terlibat proyek iklan shampo dan iklan audisi klubnya.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi”
“The number your calling is not active or out of coverage area, please try again in the few minutes”
Lintang membiarkan suara Veronica, asisten virtual layanan provider menyelesaikan kalimatnya tanpa menekan tombol mengakhiri percakapan. Dia sibuk membaca isi email, memilah mana yang akan dia pertimbangkan. Lintang cukup terkejut, ada penawaran iklan yang langsung mengirimnya perjanjian kerja sama tanpa menunggu konfirmasi bersedia atau tidak. Apa yang mereka harapkan dari mengirim peraturan, bayaran, dan sanksi di email pertama. Bagi Lintang terlihat seperti pemaksaan, tanpa membaca isi perjanjian itu dia langsung menekan ikon tong sampah yang ada di samping email.
Lintang memberanikan diri bertanya pada teman-teman lain yang telah lebih dahulu terjun ke dunia iklan. Banyak dari antara mereka yang menyarankan Lintang agar segera mencari manajer untuk mengatur keuangan dan jadwalnya tak sedikit pula yang memintanya belajar dari Tara. Lintang mempertimbangkan saran yang diberikan, belajar dari Tara tampaknya masuk akal tetapi tidak menjamin posisinya akan aman. Hubungan mereka berakhir buruk kalau kembali bekerja sama maka Lintang akan punya utang budi ke Tara begitupun sebaliknya Tara aka memanfaatkan kesempatan ini untuk terus pamer ke publik bahwa mereka masih bersama. Lingkaran setan ini benar-benar mengerikan.
“Manajer?” batin Lintang menyebut kata itu berulang kali. Sepengetahuannya manajer bisa diambil dari orang terdekat, orangtua atau keluarga. Dia tak mungkin memilih ibunya menjadi manajer mengingat dia punya banyak keponakan yang sering dititipkan di rumah ibunya. Belum lagi kalau kakak-kakaknya dinas ke luar kota, ibunya sering diminta menemani menantu, dan mengurus cucu. Akhirnya Lintang hanya membalas pesan penawaran sponsor karena kontrak sponsor yang sekarang akan berakhir.
*****
“Udah mau pesan tiket?” tanya Arimbi melihat Regata mencari rute penerbangan Jakarta – Manado untuk minggu depan.
Regata mengangguk.
“Besok papa mau ngajak kamu ke RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) Santisima” ujar Danu.
__ADS_1
Regata meminta Danu menjelaskan lebih lanjut ucapannya barusan.
Ternyata Danu telah menyiapkan aset untuk Regata sejak sepuluh tahun yang lalu, berarti saat dirinya masih sekolah Danu telah menanamkan 30 persen sahamnya di rumah sakit ibu dan anak. Sekarang sahamnya naik 20% dan dia berniat mengusulkan Regata menjadi bagian dari manajemen rumah sakit. Kalau Regata tak keberatan, dia bisa bekerja sambil melanjutkan sekolah bukan menjadi dokter spesialis melainkan jurusan manajemen rumah sakit yang nantinya dipersiapkan menduduki jabatan Direktur Rumah Sakit.
Bukan tanpa alasan Danu menanam saham di tempat itu, selain karena istrinya mengurus yayasan thalasemia, angka kelahiran dan kematian ibu dan anak menjadi perhatian nasional kala itu. Seiring berjalannya waktu, kasus Regata membuatnya semakin intens membangun rumah sakit karena merasa memiliki kedekatan emosional dengan perjuangan seorang ibu ketika melahirkan.
Regata kagum dengan cara pandang ayahnya. Keinginannya tidak membuatnya buta menentukan sesuatu. Kalau saja ayahnya mau, beliau tidak akan berada di fraksi yang mengurus tentang pembangunan melainkan yang mengurus tentang kesehatan karena kabar angin yang Regata dengar, dana pendidikan dan kesehatan alokasinya sangat besar hingga rentan korupsi. Orang-orang yang bukan bidangnya bergumul di sana. Regata setuju melihat tempat itu, siapa tahu dia bisa menemukan jalan keluar dari kebimbangan hatinya.
*****
Hari beranjak sore saat Regata menjemput Mia. Gadis kecilnya bercerita ada turnamen futures series (FS) di Lithuania yang akan digelar pertengahan bulan depan. Future series adalah kejuaraan internasional bulu tangkis dengan kelas paling rendah. Regata sudah berkonsultasi dengan pelatihnya apakah Mia bisa ikut bergabung ke turnamen itu sebagai peserta mandiri namun pelatihnya menyarankan bahwa sebaiknya Mia berpartisipasi dalam turnamen nasional dulu dan mendaftarkan diri ke klub profesional.
“Kalau berada di klub saya yakin progres Mia akan berjalan cepat, kesempatan bertanding yang lebih besar dan biaya yang dibebankan kepada orangtua tidak sebesar pemain profesional. Kalau bisa lebih baik tinggal di klub yang ada asramanya” saran asisten pelatih Mia karena pelatih Mia sudah lumayan sepuh, semua tanggung jawab konsultasi sudah diserahkan sepenuhnya kepada sang asisten.
“Mia punya waktu satu tahun lagi sebelum audisi” asisten pelatih menyebutkan beberapa nama klub terkenal yang membuka audisi untuk usia dini 11 tahun di mana pada usia 10 tahun calon peserta sudah bisa mendaftarkan diri.
“Om Genta!” teriak Mia girang.
Genta tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya. Mia berlari mendekat ke arah Genta sedangkan Regata berjalan canggung di belakang Mia. Senyum Genta sejenak membuat Regata terhipnotis. Pipi Regata bersemu merah.
“Apa kabar?” tanya Genta. Dia dan Mia saling berpelukan.
“Baik” Regata mewakili Mia menjawab pertanyaan Genta.
__ADS_1
Regata mengamati Genta yang berjalan di hadapannya sambil berpegangan tangan dengan Mia. Wajah Genta semakin berisi, kemeja yang dikenakannya memperlihatkan bahu lebarnya. Garis pinggang dan perutnya tampak ramping. Kemeja yang digulung memperlihatkan otot dan urat-urat yang menonjol di tangannya.
Tunggu sebentar, sejak kapan Regata memperhatikan lawan jenis seintens itu.
“Mamaku ada di dalam, masih di laser” ujar Genta membalikan wajahnya menatap Regata.
“Lama tak ketemu kamu makin cantik” puji Genta.
Kini Regata merasa seluruh badannya semerah Apel. Udara di sekitarnya terasa panas. Regata mengalihkan pembicaraan seputar pekerjaan, rumah sakit dan klinik dia juga menceritakan bahwa pada akhirnya dia mengijinkan Mia mencapai impiannya semua itu berkat nasihat Genta.
Tak lama berselang giliran Mia menjalani perawatan, sambil menunggu Ibu Genta dan Mia. Regata mengajak Genta ngobrol di cafe yang berada persis di sebelah klinik itu. Keduanya larut dalam percakapan hangat masih seputar pekerjaan dan Maia karena hanya itu topik yang membuat mereka berdua tak canggung satu sama lain.
“dr. Edgar udah telpon, mama udah selesai” ujar Genta menginterupsi percakapan mereka.
Keduanya kembali ke klinik. Genta mendorong ibunya yang berusia di awal 80 tahun, wanita tua yang masih tampak cantik itu tersenyum.
“Renata” ujar ibu Genta
“Regata mah” timpal Genta memperbaiki ucapan ibunya.
“Oh iya, maklum sudah tua”
Regata tertawa melihat respon ibu Genta. Mereka sepakat menunggu Mia karena perawatannya tak lama lagi. Ketika semuanya beres, mereka berempat keluar dari klinik itu. Di ruang tunggu klinik itu, nafas Regata berhenti sejenak. Dadanya terasa dipukul keras.
__ADS_1
Lintang berjalan dari arah berlawanan, dia beradu pandang dengan Regata. Wajah datarnya menunjukan sikap layaknya dua orang asing tak saling kenal.
...----------------...