
Satu persatu peserta lomba yang di kumpulkan kemarin maju menyerahkan formulirnya kepada Pak Piter. Mia melihat mereka keluar satu-persatu dengan wajah antusias sambil bercerita sekolah lain yang pernah menang dalam perlombaan olahraga usia dini.
Mia orang terakhir yang menyerahkan formulirnya.
Pak Piter menerima formulir tersebut sambil membolak-balikan kertasnya.
“Mama saya gak izinin Pak” ujar Mia pelan.
“Oh ya sudah. Kalau begitu kamu gak jadi ikut. Formulirnya saya berikan ke orang lain” ujar Pak Piter.
Mia mengangguk dan segera pergi. Sejak tadi malam Mia mogok berbicara sebagai tanda protes kepada mamanya dan Bi Nina. Mia yang ceria dan banyak bertanya tampak murung. Bi Nina menyadari perubahan sikap Mia. Bi Nina mencoba mengajak Mia berbicara namun hanya ditanggapi Mia dengan kata “ya” dan “tidak”.
“Kamu kira dengan mogok bicara kayak gitu mama bakal turutin kemauan kamu” tanya
Regata pada Mia.
__ADS_1
Mia hanya menunduk kesal mendengar pertanyaan mamanya.
“Kalau mau ikut lomba harusnya lomba olimpiade Matematika buka lomba Olahraga. Apa gunanya kamu ikut lomba kayak begitu” Regata tidak habis pikir dengan sikap puterinya.
Mata Mia lagi-lagi memanas mendengar ucapan Regata. Kenapa ibunya tidak juga mengerti bahwa dia benci Matematika dan tidak ingin menjadi Dokter seperti mimpi ibunya. Pembicaraan mereka selalu seputaran itu dan akan berakhir dengan pertengkaran. Sekarang Mia mengerti lebih baik dia tidak menanggapi apa yang Regata katakan.
Regata meninggalkan Bi Nina dan Mia setelah ada telepon dari kamar operasi untuk membantu proses operasi Caesar.
Dokter Mira, Dokter Anak memintanya untuk mengantikan dirinya menjadi Dokter
“Bi Nina tahu gak siapa ayah Mia” tanya Mia pada Bi Nina setelah memastikan suara mobil ibunya menjauh.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” Bi Nina mengerutkan dahi.
“Ayahku masih hidupkan, gak meninggal?” tanya Mia lagi.
__ADS_1
“Bi Nina gak tahu. Kamu gak nanya mamamu?”
“Udah. Katanya papaku di tempat yang jauh. Mama juga pernah menanggis waktu aku tanya, jadinya aku gak tanya lagi”
“Kakek nenekku Bi Nina tahu gak?” tanya Mia lagi.
Bi Nina terkejut, selama kurang lebih delapan tahun dirinya bekerja sebagai asisten di rumah ini, dirinya sama sekali tidak tahu latar belakang majikannya. Pertama kali Regata datang, Regata cuma bilang dirinya baru pindah dari Jawa. Bi Nina pernah sekali lihat KTP Regata dan di sana tertera tempat lahir Regata di
Jakarta.
Bi Nina melihat wajah kecewa terukir di wajah Mia. Satu-satunya dokumen yang pernah Mia lihat adalah raportnya yang tertera bahwa mamanya lahir di Jakarta. Dugaan Mia mereka bukan penduduk asli Manado, karena wajah mamanya dan dialek mamanya tidak seperti dialek orang Manado pada umumnya.
Rumah mereka juga belum pernah kedatangan tamu dari jauh atau keluarganya. Apa di dunia ini satu-satunya keluarga yang Mia punya hanya ibunya? rasanya tak mungkin, dari yang Mia dengar orang – orang selalu mengatakan kuliah kedokteran sangat mahal. Rumah mereka juga lebih bagus dibandingan rumah teman-temannya yang kedua orangtuanya pegawai pemerintahan, semua kebutuhan Mia terpenuhi, dan bisa les di tempat mahal.
Mia berpikir, pasti ada yang ibunya sembunyikan. Mungkin ada petunjuk tentang keluarga ibunya atau keluarga ayahnya yang lain.
__ADS_1
...----------------...