Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Maafkan Mama


__ADS_3

Seharian penuh Regata dilanda cemas. Pak Hayon tidak menjawab teleponnya, ponsel Mia yang dia titipkan pun tak tampak tanda-tanda online. Regata mondar-mandir di kamarnya sambil memijat kepalanya. Dia baru saja pulang dinas malam. Tadi malam mereka kedatangan segerombolan pasien korban tawuran, dan seorang ibu hamil yang ketubannya sudah pecah. Regata sebagai penanggungjawab tim jaga IGD malam itu harus sigap mengurus, dan mengontrol pasiennya satu persatu. Belum lagi tumpukan rekam medis yang harus ditulis dan ditandatanganinya.


Jam 05.00 pagi pasien mulai berkurang, untuk tidur rasanya nanggung karena tepat jam 07.00 nanti mereka harus operan jaga dengan tim jaga selanjutnya. Alhasil pagi ini Regata pulang diantar dr. Wina, spesialis obgyn yang sepanjang jalan sibuk menggoda kedekatannya dengan dr. Genta. Regata tak ambil pusing, yang terpenting dirinya bisa sampai ke rumah dalam keadaan selamat.


Regata terlelap dan bangun saat sore tiba. Dia segera mengambil ponselnya. Panggilan tak terjawab dan dua buah pesan masuk dari Pak Hayon. Segera Regata menelpon Pak Hayon, jawaban yang diterima sukses membuat jantungnya berdegup kencang. Regata ingin menumpahkan kemarahannya pada Pak Hayon, namun itu bukan yang terpenting sekarang. Ponsel Mia tidak menunjukan tanda-tanda aktif. Pesan suara “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” membuat Regata kesal


Orang Tuanya selalu makan malam antara jam 6-7, lebih baik sekarang dia mandi dan menjernihkan pikirannya, lalu makan sambil menunggu Mia menghubunginya.


Setengah tujuh malam ponsel Regata berdering nyaring. Regata yang sedang menyiapkan pakaian dinasnya segera menuju tempat ponselnya berada, secepat kilat dia menjawab panggilan masuk dari Mia.


“Kamu di mana?” tanya Regata, suaranya tidak terkontrol.

__ADS_1


“di rumah” sebuah suara rendah dan berat menjawab pertanyaannya.


Mati aku pikir Regata.


Hening sesaat.


“Mia ada di rumah dengan mama dan papa”


Saat nafasnya kembali teratur. Regata memberanikan diri menyapa lagi.


“H-halo” ujarnya terbata, suaranya bergetar.

__ADS_1


“Halo” ujar Regata lagi.


Tidak ada jawaban.


Dia memeriksa status panggilan. Panggilan itu telah berakhir beberapa menit yang lalu. Regata membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja, tangisnya tumpah. Rasanya sesak, sangat sesak. Dia tidak lagi memikirkan keadaan Mia, melainkan hubungan ayah anak yang tidak pernah terjalin sejak hari itu.


Regata berusaha membuang kenangan buruk dari kejadian itu, nyatanya nihil. Rasa bersalah memenuhi hatinya. Rasa bersalahnya semakin bertambah sejak Mia beranjak dewasa. Dulu Regata pikir semua akan mudah. Dia punya uang, ijazah, dan pekerjaan. Dia dan anaknya bisa tinggal di mana pun mereka mau. Tanpa suami, ayah dan ibunya mereka tetap bisa menjalani hidup. Semakin lama beban moral yang ditanggung semakin berat.


Mia dibesarkan tanpa ayah di lingkungan yang menganggap anak yang lahir tanpa ayah adalah aib. Setiap Mia bertanya Regata tidak punya jawaban yang pasti, rasa percaya dirinya hilang entah kemana. Saat itu air mata dan kesedihannya yang berhasil membuat Mia bungkam. Gadis kecil itu tidak lagi bertanya tentang ayahnya, dan waktu berlalu begitu cepat.


Bukan, bukan karena Mia belum waktunya mendengar kenyataan tentang orang tuanya, melainkan Regata yang tak siap kalau Mia mengetahui kebenarannya dari mana Regata harus mulai menjelaskannya. Bagaimana caranya menjelaskan secara bijak pada putrinya agar tidak timbul kebencian di salah satu pihak.

__ADS_1


Mia ... tolong maafkan mama


__ADS_2