Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Pamit


__ADS_3

"Dok, kayaknya saya gak yakin bakal balik lagi ke klinik" Regata berbicara empat mata dengan Genta setelah jam praktek usai.


Genta paham maksud Regata, kemungkinan Regata kembali sangat kecil. Dari cerita Regata gambaran ayahnya tak jauh beda dengan kedua orangtuanya, konservatif dan berkaca pada zaman di mana mereka di besarkan. Ketika Genta seusia Regata, dia sulit menentukan pilihannya sendiri. Pilihannya didikte oleh orangtuanya seolah mereka adalah boneka yang harus menurut pada kemauan orang tuanya. Ada orangtua yang berhasil, ada yang menyesal, dan ada yang menyalahkan anak-anaknya. Miris memang, tapi itu yang terjadi. Sulit merubah pola pikir yang diajarkan dari generasi ke generasi.


"Tidak masalah, saya minta Jenar menggantikan kamu. Kamu kembali atau tidak, Jenar tetap akan membantu saya kecuali dia sendiri yang mengundurkan diri" janji Genta.


Regata lega. Satu persatu masalahnya dipermudah. Dia mendapat izin cuti dan bersedia gajinya dipotong jika kembali lewat dari batas waktu cuti. Cukup adil, setidaknya mengingatkan dia bahwa ada tanggung jawab utama yang harus dia selesaikan di samping masalah pribadinya.


"Bi, jaga rumah baik-baik ya. Ini rumah hasil cicilan saya. Saya akan kirim gaji Bibi tanggal 05 setiap bulan. Kalau ada yang rusak tolong beritahu saya" pesan Regata.


Bi Nina hanya bisa mengangguk. Setelah enam tahun bersama, mereka harus berpisah membawa rahasia masing-masing. Bi Nina merindukan kebersamaan mereka yang hangat. Perpisahan ini akan jadi perpisahan paling sedih sepanjang pekerjaannya.


Genta, Jenar, dan Bi Nina melepas kepergian Regata dengan lambaian tangan. Regata berjanji akan sering bertukar kabar dengan ketiga orang itu. Regata pun tak tahu akan seperti apa hari-harinya nanti. Bermodalkan dukungan ketiga orang itu dan sedikit keberaniannya dia berhasil menginjakan kakinya Jakarta.


"bug" Regata hampir terjatuh saat seorang wanita dengan sigap menarik tangannya.

__ADS_1


"Aduh, maaf ya saya gak sengaja" ujar wanita yang tampak seumuran dengannya.


"Oh iya sama-sama" Regata menyadari kebodohannya melamun di tengah ramainya bandara. 


Wanita itu berlalu begitu saja sambil menenteng koper pakaian nampak buru-buru. 


Ucapan selamat datang di bandara entah pertanda baik atau buruk yang jelas memastikan diri menginap di hotel yang jaraknya dekat dengan bandara dan jauh dari rumah. Hati kecilnya merasa lebih aman menginap di sekitar bandara meskipun harganya dua kali lipat lebih mahal.


Regata meletakan barang-barangnya di lemari pakaian yang ada di ruangan itu. Hanya pakaian untuk besok yang digantung di hanger, dengan beberapa kosmetik yang dibiarkan berserak di atas meja. 


"tok, tok, tok" ketukan yang cukup keras di pintu membangunkan Regata dari tidur panjangnya. Dia segera mengenakan bra yang sengaja di bukanya agar lebih leluasa bernafas saat tidur.


Ketukan kembali terdengar sedangkan Regata  sibuk memperbaiki kaitan bra yang tak sesuai urutannya. Regata menyerah dan setelah ketukan ke sekian, dia terpaksa berlari kecil ke arah pintu dengan satu kaitan bra yang berhasil sedangkan dua lainnya dibiarkan begitu saja.


Regata membuka pintu, tampak olehnya sosok yang sangat akrab di matanya. Om Bobby, tangan kanan ayahnya yang pernah menjadi penjaganya hingga dia beranjak remaja.

__ADS_1


Wajah Om Bobby tampak lebih tua. Rambut dan jambangnya mulai memutih. Tubuh atletisnya tak menunjukan bahwa pria itu akan memasuki usia kepala lima tahun depan. 


"Om Bobby" sapa Regata tak percaya.


Gadis kecil yang sering mengekorinya kemana-mana, telah tumbuh menjadi seorang ibu. Wajahnya persis Arimbi waktu muda dan watak keras menurun dari Danu ayahnya. Bobby tampak tenang melihat perubahan Regata. Berbanding terbalik dengan Bobby, Regata tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. Pria ini tak pernah menjaganya lagi sejak dia kuliah. Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam di mana Regata mengusir Bobby dan mengadu kepada ayahnya bahwa Bobby membuat calon pacarnya ketakutan. Danu kemudian meminta agar Bobby mengawasi Regata dari kejauhan, memastikan putrinya tetap dalam pengawasan.


"Kemasi barang-barangmu, saya tunggu di bawah" ujar Bobby merujuk pada lobi hotel.


Regata tak bisa mengelak atau melarikan diri. Dia tak bisa menyalahkan pihak hotel yang dengan seenaknya membocorkan informasi tamu dan membiarkan orang datang menemuinya tanpa mengabari lewat telepon kamarnya. Dia meremehkan sikap acuh ayahnya, hingga tak sadar kalau tempatnya sekarang berada dalam wilayah kekuasaan dan pengawasan ayahnya. 


Regata menuruti perintah Bobby, dia mengemasi barangnya lalu mengekori langkah pria tegap itu ke parkiran. Rubicon tua milik ayahnya terparkir manis di basement hotel itu.


Bobby membuka pintu di samping kemudinya, mengisyaratkan Regata masuk. Dia yakin di usia itu Regata bukan anak kecil lagi yang harus dipegang erat pergelangan tangannya agar tak kabur.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Larut dalam lantunan lagu yang di putar Prambors Radio. Regata menikmati senja Jakarta sambil mengenang memori masa kecilnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2