
"Ata are you ok?" tanya Jenar mengguncang bahu Regata. Regata menunduk menyembunyikan wajah sendunya. Sudah kesekian kalinya Regata menangis keadaanya tak kunjung membaik. Sekolah telah memberi kabar kepindahan Mia, raport dan surat pindahnya telah diambil oleh orang yang mengaku sebagai utusan Danu dari Jakarta.
Regata belum juga mengambil keputusan yang tepat. Pekerjaannya terganggu, kehidupan sosialnya juga. Satu-satunya cara yang dia lakukan hanya bercerita pada Jenar sahabat sekaligus rekan kerjanya.
"Pergi aja ke Jakarta, temui ayah kamu" saran Jenar sambil mengelus punggung Regata.
Regata memikirkan saran itu berulang kali namun nyalinya kandung menciut saat dia membayangkan wajah murka Danu. Jenar meyakinkan Regata bahwa ayahnya tak mungkin tega mengusir Regata, walaupun ayahnya marah
itu tandanya Danu masih peduli pada Regata. Pergi selama delapan tahun tanpa kabar, Danu pasti merindukan Regata.
Setiap malam Regata hanya bisa menangis sambil membujuk Arimbi. Tapi Arimbi pun meminta Regata pulang ke rumah, cuti sejenak dari pekerjaannya.
__ADS_1
Regata yang bimbang masih berkutat dengan pertarungan batinnya. Jenar tak kehilangan akal, dia meminta dr. Genta datang menenangkan Regata. Tanpa banyak tanya Genta mendatangi rumah Regata. Ada Jenar dan Bi Nina yang sangat cemas keadaan Regata tak kunjung membaik. Bi Nina menatap dr. Genta sambil memohon agar dr. Genta menemani Regata sekaligus membantu Regata membuat keputusan yang tepat karena sudah sangat lama Regata tenggelam dalam kesedihannya.
"Regata aku memang bukan siapa-siapa kamu, aku peduli sama kamu dan Mia. Pergi, temui ayah kamu. Mia itu hak kamu, kamu bertanggung jawab terhadap hidup dan masa depannya. Tapi sekarang Mia sudah tahu kakek dan neneknya, jangan sampai Mia kehilangan dua orang yang sangat penting dalam hidupnya. Kamu gak mau kan Mia menilai kamu jahat?" ujar Genta panjang lebar.
Regata kembali merenungkan kata-kata Genta. Regata terlalu sibuk memikirkan memori delapan tahun lalu sampai lupa bahwa kini Mia ada di sana penilain Mia tergantung pada sikap Regata.
Regata perlahan menghapus air matanya. Mereka bertiga membantu Regata mengajukan surat cuti besok, sebagai pegawai yang memperbaharui kontraknya setiap tahun Regata mendapat hak cuti selama satu bulan penuh karena selama dirinya bekerja dia belum pernah sekalipun cuti atau mangkir dari tugasnya sebagai seorang dokter.
"Selesaikan masalah kamu. Aku yakin kamu kuat. Kamu lewatin delapan tahun ini sendiri itu bukan hal yang mudah. Kamu harus beri diri kamu penghargaan yang pantas atas pencapaian kamu" ujar dr. Genta sambil tertawa kecil.
Tawa dr. Genta dan Jenar membuat perasaan Regata lebih baik. Sekarang sudah akhir bulan, sebelum jadwal baru keluar lebih baik dia segera mengajukan cuti dan melapor pada kepala dan bagian kepegawaian.
__ADS_1
Semua urusannya berjalan lancar. Berita cuti Regata tak mengundang banyak tanya dari sesama dokter, menurut mereka Regata pantas mendapatkan cuti satu bulan atas dedikasinya selama ini.
"Mau ke mana dok cuti nanti?" tanya perawat dan bidan di IGD ingin tahu kemana Regata saat cuti nanti.
"Pulang kampung" jawab Regata.
"Di mana?" sahut yang lainnya ingin tahu. Selama ini Regata bilang dirinya berasal dari Yogyakarta namun beberapa di antara mereka tak yakin, pasalnya Regata tak medok Jawa dan sering loading kalau ada pasien yang mengajaknya berbicara dalam bahasa Jawa.
"Jakarta" ujar Regata yakin.
Apapun yang akan terjadi nanti, Regata siap menghadapinya.
__ADS_1
...----------------...