Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Link Murahan


__ADS_3

Terik matahari menembus jendela kaca tanpa gorden. Ruangan luas yang nampak mewah itu tampak berantakan. Dua tubuh tanpa busana menggeliat di ranjang, seolah belum puas terjaga mimpi. 


"Udah jam 10" suara serak seorang lelaki memecah keheningan di ruangan itu.


Airin bangun meraih ponsel di mejanya. Lima panggilan tak terjawab terpampang nyata di layar utamanya. 


"Mam gue habis mandi langsung cabut, jangan lupa bayaran gue" lelaki muda itu berlalu ke kamar mandi meninggalkan Airin berdiri setengah telanjang di samping tempat tidur.


"Kenapa?" tanya Airin saat panggilannya dijawab.


"Kalau kamu ulang tahun harusnya kamu tahu diri, kasih mama duit yang lebih banyak!" ujar Airin jengkel.


Setelah puas marah dan bersumpah serapah Airin mengakhiri panggilan itu. Biar saja Tara merasa bersalah dan segera mengirimkan uang ke rekeningnya.

__ADS_1


"Cuma ini?" tanya pria itu bolak-balik menghitung lembaran merah seratus ribuan.


"Heh setan! sesuai kesepakatan kemarin satu hari satu juta. Kalau gak mau sini balikin duitnya" Airin berusaha merebut uang pemberiannya yang langsing ditangkis kasar lelaki muda itu.


"Terus tante kira uang transport, makan, minum, suplemen sama vitamin lainnya bayar pakai daun?" balas pria muda itu nyolot.


"Tau gini mending satu ronde aja langsung cabut. Baru kali ini ada yang pakai jasa gue bayarannya segini" gumam pria itu sambil memakai pakaiannya.


Pria itu segera mengambil semua uang itu, berkemas, tanpa banyak bicara pergi meninggalkan apartemen itu.


"Ini semua gara-gara manajer brengsek" maki Airin. Wajah angkuh Prita terbayang dalam ingatannya. Airin meremas tangannya sambil berpikir cara menyingkirkan si mulut kurang ajar itu. Seribu kali berpikir pun Airin berada di posisi yang tak menguntungkan. 


Sial! setelah ini namanya akan tenar di kalangan gigolo langganannya karena masalah bayaran. Sebelum kejadian surat pernyataan, Airin terkenal sebagai mami loyal. Siapapun yang menemaninya akan dimanjakan dengan barang mewah dan bayaran yang besar. Dia juga berhasil membungkam mulut brondong yang sering menemaninya agar tidak membocorkan bahwa dada, dan bokongnya hasil suntikan silikon di salon ++ tempatnya bekerja dulu.

__ADS_1


Airin tidak pernah membayangkan dia akan bekerja di tempat hina itu lagi. Sudah cukup dia melayani supir angkot, tukang bangunan, dan lelaki dengan pekerjaan sejenis yang usianya lebih tua dari dirinya. Membayangkan kondisinya dulu, Airin bergidik ngeri. Sekarang dia adalah sosialita yang bergaul dengan kalangan elit. Sedikit lagi dia akan diakui disana dan bukan tak mungkin, akan mendapatkan exposure seperti sosialita lainnya.


Airin menghembuskan asap rokok elektrik rasa vanila miliknya. Bau Vanila memenuhi kamar tidurnya. Kuku warna jingga lentiknya menggeser layar ponsel, memeriksa pesan masuk di group Telegram sosialita miliknya. Selain sibuk membahas barang baru entah benda ataupun lelaki, anggota grup sering membagikan link aneh yang katanya bisa menghasilkan uang bagi si pengirim link kalau ada yang mendaftar di website itu.


 "Cih, sosialita miskin" umpat Airin.


Ya, grup ini adalah grup sosialita kelas Z masih ada sosialita yang lebih berkelas. Berteman terbatas, saling mengenal asal-usul keluarga dan bisnis-bisnisnya. Bukan grup OKB alias orang kaya baru kelas rendah, yang isinya promosi dan membicarakan sosialita lain yang kaya sejak lahir. Aduh kalau begini terus, hidupnya tak akan berkembang.


Airin mengklik tautan yang dibagikan anggota grup, peringatan konten vulgar muncul di ponselnya. Ikon internet positif terpampang di layar. 


Dasar link murahan!


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2