
Danu menutup pintu kamar pelan, Mia sudah tertidur pulas sejak beberapa menit lalu. Danu menuju kamarnya, mencari kehadiran sang istri yang ternyata telah menunggunya.
“Pa, bagaimana selanjutnya” tanya Arimbi, pandangannya menatap lurus pada mata suaminya mencari jawaban di sana.
“Mia akan tinggal di sini, ayah akan urus kepindahannya” jawab Danu tegas.
“Terus gimana sama Regata?”
Danu tak menjawab pertanyaan istrinya. Dia sibuk menelpon seseorang meninggalkan Arimbi di kamar.
***
“Mbak, ada Dokter Genta di depan” suara halus Bi Nina menghentikan tangis Regata.
__ADS_1
Regata menatap wajahnya pada pantulan cermin, penampilannya tak karuan. Regata membasuh wajah seadanya lalu pergi menemui Dokter Genta.
“Hai, apa kabar?” tanya Genta basa-basi saat Regata muncul di hadapannya.
“Baik” ujar Regata singkat sambil mempersilahkan Genta duduk.
Genta meneliti penampilan Regata, tak tampak tanda wanita itu akan bersiap ke Rumah Sakit. Orang bodoh pun tahu kabar Regata tak baik-baik saja, tergambar jelas pada wajahnya yang sembab.
“Aku bawa oleh-oleh sekalian mau nganterin kamu dinas”
Hati Bi Nina tak tenang. Melihat Regata sedih membuat Bi Nina goyah. Serasa makan buah simalakama, ingin jujur pada Regata namun mempertaruhkan masa depan Mia. Ingin menolong Mia, harus menyakiti Regata.
“Bagaimana ini bu, Mbak Regata terus menangis sejak sore” Bi Nina mengabarkan Arimbi, setelah memastikan Regata sudah berangkat ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Arimbi pun kebingungan menjawab pertanyaan Bi Nina, awalnya dia hanya ingin bertemu cucunya menghabiskan waktu bersamanya tanpa berniat memisahkan cucunya dari putrinya. Tanpa Arimbi sangka, Danu telah memata-matainya. Nama Arimbi terdaftar sebagai founder Yasindo, dan Danu melacak panggilan telepon istrinya terhubung ke suatu daerah. Tak susah merangkai benang kusut kasus istrinya. Arimbi tak mungkin berselingkuh, Danu tahu betul watak istrinya tapi dia juga tak lupa ikatan ibu dan anak tak akan terpisah begitu saja.
Sejak peristiwa menggemparkan itu, kontak Danu dan Regata terputus. Danu bersikap seolah tak mau tahu dan tak mau nama itu diungkit dalam keluarganya. Tapi rasa penasaran terhadap kehidupan putrinya harus dituntaskan. Arimbi tertangkap basah, menjemput cucunya di hotel dan Danu mencari celah menahan Mia tetap di Jakarta.
Arimbi menyesali kebodohannya. Sikap acuh Danu menurunkan kewaspadaannya ditambah kegiatan Danu yang padat, mereka jarang bertemu, Arimbi pikir aksinya akan berjalan mulus. Puluhan tahun berumah tangga Arimbi tak kenal baik watak Danu. Teliti, cermat, rasa ingin tahu yang besar, dan kritis. Arimbi lupa, saat Danu fokus pada sesuatu saat itu juga dia akan menuntaskan keingintahuannya.
Danu tak mengungkit kebohongan yang selama ini Arimbi sembunyikan tentang Regata dan Mia. Danu yang emosinya selalu meledak bahkan tak marah saat melihat Mia. Tak ada kebencian yang Arimbi rasakan dari sikap Danu, yang Arimbi dapatkan jauh lebih menyakitkan. Danu mengambil alih Mia.
“Bi Nina, sabar aja ya. Jangan bilang apa-apa pada Regata. Kami tak mungkin menyakiti Mia. Saya akan terus berkabar, tolong jaga Regata” Arimbi mengakhiri panggilannya. Dia mendekat ke arah Danu.
“Pa, kita gak bisa ambil Mia tanpa persetujuan Regata. Biar gimana pun juga Regata ibu kandung Mia” Arimbi membujuk Danu.
“Mia juga cucu Papa. Mama jangan coba membela Regata. Papa udah tahu semuanya. Permainan mama cukup sampai di sini, biar papa yang urus selanjutnya” Danu menegaskan kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Arimbi tak kuasa menumpahkan kesedihannya. Dia mencoba menghubungi Regata namun ponsel putrinya tak aktif. Sebaiknya dia tunda hingga esok, saat putrinya tak berkutat dengan pekerjaan.
...----------------...