Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Pernikahan Putri Wali Kota


__ADS_3

Arimbi menitihkan air matanya. Dia tidak mengenal mengenal penelepon diseberang, namun satu kata cukup membuatnya yakin itu adalah suara cucunya.


Arimbi tergagap. Regata selalu berusaha menyembunyikan Mia namun hari ini Tuhan menjawab doa.


“Mia ini kamu nak, cucu oma?” tanya Arimbi.


“Ini mamanya mamah kan, yang ada di hp mama?” tanya Mia yang terdengar membingungkan.


“Iya sayang, ini oma, mamanya mama”


“Oma sudah dulu ya” ujar Mia langsung mematikan teleponnya dan mengantongi handphone Bi Nina.


“Mia, Mia” panggil Arimbi meskipun panggilannya telah berakhir.


"Ada apa mah?" tanya Danu Atmaja suaminya.

__ADS_1


Arimbi hanya menggelengkan kepalanya. Danu melihat mata sembab istrinya namun menolak bertanya lebih lanjut. Diam-diam Danu tahu jika Arimbi masih menghubungi puteri semata wayangnya yang sejak delapan tahun lalu tidak pernah menghubunginya lagi.


Danu meminta isterinya segera bersiap, merek akan menghadiri pernikahan anak Pak wali kota malam ini. Sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Danu wajib menjaga namanya tetap bersih. Danu menyimpan rapat-rapat aib keluarganya dan tidak segan-segan menghukum orang yang berani menyebarkan aib keluarganya.


Arimbi sebenarnya tidak ingin ikut acara-acara seperti ini yang menurutnya kurang masuk akal. Setiap tiba di tempat penikahan atau tempat syukuran kaum elit semua ibu-ibu saling memamerkan harta kekayaan suami mereka dan berlomba-lomba menceritakan prestasi suami mereka.


"Bu Arimbi, hay! lama gak ketemu" ujar Bu Cornelia istri ketua fraksi X yang berdarah Belanda Jakarta.


Arimbi tersenyum kecut menanggapi sapaan Bu Cornelia. Bu Cornelia memeluk Arimbi seolah mereka sangat akrab. Arimbi yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah.


"Kerja di luar kota Bu" ujar Arimbi mulai tak nyaman.


Ibu-ibu lain mulai nimbrung dalam obrolan tersebut. Beberapa diantara mereka cukup kaget karena ternyata Arimbi Sukoco yang pendiam itu memiliki putri seorang Dokter lulisan terbaik Universitas Indonesia.


Arimbi kewalahan menjawab berbagai macam pertanyaan dari kumpulan ibu-ibu sosialita itu. Arimbi memilih menghindar dan menolak secara halus saat salah satu diantara mereka berniat menjodohkan puterinya dengan putera mereka.

__ADS_1


Danu yang sibuk mengobrol dengan koleganya, menatap istrinya yang mulai tak nyaman dalam suasana pesta ini. Sekilas dia melihat wajah sendu Arimbi yang berulang kali memeriksa ponselnya.


Tingkah Arimbi hari ini cukup aneh. Tidak biasanya Arimbi sibuk dengan ponselnya. Danu tahu betul Arimbi termasuk golongan yang gagap teknologi. Di zaman modern ini Arimbi hanya bisa mengunakan Iphone keluaran terbarunya untuk menelepon atau sekedar mengirim chat dan SMS. Di saat semua ibu-ibu di perkumpulannya memiliki akun media sosial Arimbi justru menolak saat Danu menawarkan agar manajemennya yang mengelola akun Arimbi.


"Untuk apa pa? toh setiap kegiatan aku bersama ibu-ibu anggota DPR yang lain" tolak Arimbi kala itu.


Danu menyerah membujuk Arimbi. Salah satu koleganya pernah bercanda bahwa jika Danu memajang foto wanita lain di laman sosial medianya Arimbi pasti tidak akan tahu.


"Ayo pulang" ajak Danu mengalihkan perhatian Arimbi dari ponselnya.


"Acaranya belum selesai pa" ujar Arimbi.


"Yuk, pulang kalau teleponan di sini berisik" ujar Danu lagi.


Arimbi menurut saja saat Danu menggandeng tangannya menuju pelaminan dan berpamitan pada pengantin, wali kota dan menantunya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2