Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Kehilangan Respek


__ADS_3

“woy yang udah balik, dari mana aja lo” sebuah suara dari arah pintu mengagetkan Lintang. Bisma muncul, sambil menggendong sebuah ransel besar. Lintang segera menyisipkan amplop di bawah bantal.


Bisa berabe kalau Bisma tau.


“Biasa dari tempat senior” ujar Lintang pura-pura tersenyum, menyembunyikan raut terkejut.


“Gak pulang?” tanya Lintang heran. Semalam teman kamarnya itu berencana pulang ke Bandung ke tempat kakek neneknya.


“Baru juga dari sana” ujar Bisma sambil meletakan ranselnya di samping tempat tidur.


Bisma menceritakan perjalanannya ke Bandung dan konten-konten yang akan diuploadnya. Lintang mendengarkan sambil diam-diam memindahkan amplop ke dalam keranjang bajunya.


Malam itu terasa panjang bagi Lintang. Dia terus memikirkan isi amplop merah muda. Dia tidur menyamping namun matanya menatap keranjang yang berada di sisi tempat tidurnya, persis merapat ke tembok sedangkan di ranjang sebelahnya Bisma sibuk mengedit video.


Paginya Lintang bangun dengan perasaan campur aduk. Bisma terus menatapnya dengan pandangan curiga seolah ada yang disembunyikan Lintang. Lintang berusaha mengelak namun mata Bisma lebih jeli menangkap kegelisahan di wajah teman akrabnya.


“Kenapa sih?” tanya Lintang risih saat Bisma menatapnya dengan pandangan menyelidik.


Bisma semakin bersemangat dengan reaksi Lintang. Hanya ditatap saja respon Lintang seperti hewan buas. Lantas hal apa yang mengganggu ketenangan Lintang.


“Lo punya gebetan baru?” bisik Bisma.


Mata Lintang membulat sempurna. Alisnya terangkat tinggi seolah mulut ember Bisma baru saja membongkar aibnya. Reaksi Lintang memancing Bisma semakin bersemangat menerka-nerka apa yang membuat sikap Lintang lain dari biasanya. Sepanjang hari hingga keberangkatan mereka ke Korea Bisma terus memantau sikap Lintang. Lintang terpaksa mengurungkan niatnya membaca surat Regata. Surat itu tersisip rapi di antara tumpukan baju di kopernya.

__ADS_1


Kedatangan rombongan Indonesia disambut dengan keindahan musim semi di Korea. Bunga-bunga yang mulai bersemi menghiasi sepanjang jalan menuju tempat penginapan mereka. Aroma musim semi seolah membangkitkan Lintang tentang kenangan akan Regata, wanita yang pernah bermimpi menginjakan kaki di negeri gingseng.


Lintang memotret bunga merah muda yang  yang sedang bersemi di sepanjang jalan, bunga yang Lintang tak tahu namanya itu tak kalah cantik dibanding bunga Sakura. Foto-foto itu sengaja dia simpan di galeri ponselnya menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkannya pada Regata.


*****


Sudah sampai rupanya.


Disela pekerjaannya Regata melihat story Instagram resmi milik PBSI pemain tiba dengan selamat di Korea. Satu sosok yang sekilas terekam di story itu membuatnya rindu. Itulah alasannya kenapa Regata belum rela hidup tanpa melihat isi Instagram.


Hari ini mereka tiba dan berlatih besok siang sudah harus bertanding, Regata melihat jadwal pertandingan pemain. Lawan Lintang di babak penyisihan bukanlah pemain senior ataupun yang selevel dengan Lintang, Regata yakin Lintang mampu melewati babak pertama dengan baik.


Genta memperhatikan Regata yang sibuk dengan ponselnya setelah operasi selesai. Sejak kembali dari Jakarta, Genta melihat beberapa perubahan yang semakin mencolok seperti sering mengecek ponselnya di setiap kesempatan. Padahal Regata bukanlah tipe yang akan mengecek ponsel pribadinya jika sedang bekerja, kecuali ponsel khusus yang disediakan rumah sakit untuk menunjang pekerjaannya di IGD.


“Dok mari saya bawakan” ujar Jenar menawarkan diri membawa Rekam Medis  yang sudah selesai ditulis dan ditandatanganinya.


Genta mengangguk sambil memeriksa empat rekam medis yang sudah diisinya. Pasien Genta termasuk sedikit yang dirujuk ke rumah sakit swasta ini, selain karena ada empat dokter yang menggunakan kamar operasi, alat-alat di ruangan operasi cukup standar sehingga Genta perlu memilih operasi mana saja yang  sekiranya bisa dilakukan di rumah sakit itu. Mengisi rekam medis pun Genta tak hanya sekedar mengisi nya melainkan memperhatikan betul terapi, diagnosa dan beberapa elemen lain yang menjadi persyaratan jaminan kesehatan nasional. Genta tak mau mempertaruhkan kredibilitasnya demi harga diagnosa yang tak seberapa dan dia tak mau bermasalah dengan Tim Fraud (Tim yang memeriksa kecurangan) dan Badan Pemeriksaan Keuangan Negara yang sewaktu-waktu melakukan inspeksi di rumah sakit.


Setelah urusannya selesai, Genta pamit pada seiri rumah sakit. Sekilas ekor matanya melihat Regata masih asyik dengan ponselnya.


“Dok, tanda-tanda vitalnya belum diisi” ujar salah seorang perawat menyodorkan rekam medis pasien yang belum lengkap kepada Regata. Wajah perawat itu tampak masam melihat Regata sibuk menatap layar ponselnya sambil berpangku kaki di kursi kantor beroda yang didudukinya.


Regata segera mengantongi ponselnya lalu memeriksa bagian yang belum diisi. Sepanjang jam dinasnya Regata sudah dua kali lalai padahal hari Minggu pasien lebih sepi dari biasanya.

__ADS_1


“Ada lagi?” tanya Regata santai.


Tim dinas hari itu saling berpandangan. Masing-masing sudah memiliki job desk yang lengkap mengapa Regata tak melakukan pekerjaannya dengan baik melainkan meminta orang lain mengeceknya. Tidak ada yang menanggapi pertanyaan Regata, mereka fokus menulis bahkan ada yang sengaja meninggalkan IGD dan bergosip di unit kerja lain.


“Dokter Regata akhir-akhir ini menjengkelkan. Masa status yang gak lengkap sudah ditandatangani gak diperiksa dulu” ujar salah satu petugas IGD berbisik pada temannya di ruang rawat.


“Oh pantas saja kemarin petugas Rekam Medis marah-marah ke IGD trus ngancam jasanya bakal dipotong kalau masih lalai” timpal yang lainnya.


“Tau sendiri kan udah awal bulan. Statusnya harus diperiksa verifikator JKN biar bayarannya sesuai tanggal kesepakatan. Kalau ditumpuk mah bisa kena denda”


Jenar yang kebetulan lewat sepulang visit di ruangan sebelah, mendengar percakapan itu. Dia menyayangkan sikap Regata yang seminggu ini di komplain oleh rekan-rekan kerjanya. Kemana Regata yang pernah menerima piagam penghargaan karyawan terbaik karena sikap dan kinerjanya.


“Mau pulang bareng?” tawar Regata begitu Jenar tiba di loker IGD.


“Boleh” ujar Jenar yang sehari-hari mengendarai motor ke rumah sakit. Besok keduanya akan dinas bersama jadi Regat menawarkan antar jemput hingga besok pagi.


“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini kayak gak fokus. Tumben banget ngeliatin hp mulu” ujar Jenar saat mereka makan siang di warung seafood langganan Regata.


“Sejak ketemu Lintang sama drama mantan pacarnya, aku jadi kepo sama kehidupan Lintang setelah jadi single” ujar Regata cuek.


Jenar lagi-lagi melihat sisi lain Regata yang kekanak-kanakan. Harus diakui dia mulai muak menasihati Regata bahwa sikapnya akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan di mata semua orang, dan akan kehilangan respek dari rekan kerjanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2