Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Papanya Mia


__ADS_3

“Pak Wahyu!” teriak Mia penuh semangat.


Pria paruh baya itu hendak pulang setelah membeli gorengan di depan tempat les Mia.


Pak Wahyu hanya tersenyum singkat lalu melangkah gontai meninggalkan Mia yang berjalan menghampirinya. Mia tersenyum kecut, dan kembali menuju pintu masuk tempat lesnya.


Selama les berlangsung, pikiran Mia kembali mengingat sikap Pak Wahyu. Mamanya pasti telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hingga sosok pemilik GOR tempatnya dulu berlatih hanya melemparkan senyum singkat tanpa menyapanya.


“Sekali lagi!” teriak Pak Wahyu menyemangati calon-calon pemain muda di hadapannya.


Mia muncul dari balik pintu GOR menatap sekelilingnya canggung. Beberapa anak menghentikan latihannya menatap Mia dengan tatapan dingin. Pak Wahyu menghampiri Mia, mempersilahkan gadis kecil itu duduk di salah satu bangku panjang di pinggir lapangan.


“Kamu sudah izin mama kamu ke sini?” tanya Pak Wahyu.


Mia menggelengkan kepalanya. Mata bulatnya menatap Pak Wahyu dengan ekspresi sedih.


Pak Wahyu menghela nafas sambil menganggukan kepalanya.


“Sebaiknya saya telepon mama kamu, biar kamu dijemput” ujar Pak Wahyu sembari mengeluarkan ponselnya dari balik saku celana yang dikenakannya.

__ADS_1


Berapa nomor mama kamu” tanya Pak wahyu tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Mia tetap diam.


“Terakhir mama kamu datang. Dia terlihat sangat khawatir. Sebaiknya kamu turuti perkataan orang tuamu. Baik atau buruk dia tetap ibu kamu, orang yang melahirkan kamu” ujar Pak Wahyu.


Mia menundukan wajahnya mendengar kata-kata Pak Wahyu, yang diucapkan secara perlahan dan lembut. Kata-kata itu menggelitik hatinya, dengan berat hati dia menyebutkan sederet angka yang sangat dihafalnya.


“Halo selamat sore dok, ini saya Wahyu” ujar Pak Wahyu.


Hening, tidak ada yang membalas sapaanya. Pak Wahyu berpikir Regata mungkin marah atau merasa terganggu dengan telepon darinya maka dia memilih segera memberitahu maksudnya menelepon tanpa jeda.


“Di mana?” tanya suara di seberang sana.


Pak Wahyu mengerutkan keningnya sambil menatap curiga, sedangkan Mia memandang Pak Wahyu penuh rasa ingin tahu. Dia memberikan alamat lalu menutup telepon.


“Tunggu saja, nanti kamu dijemput”


Mia mengangguk. Dia duduk menyaksikan teman-temannya berlatih. Jumlah anak-anak yang berlatih sudah lebih banyak dari saat minggu pertama dirinya berlatih. Ada wajah-wajah baru yang nampaknya usianya satu atau dua tahun lebih muda darinya, sedang ditemani ayah mereka.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian sebuah suara yang familiar menyapa Pak Wahyu.


“Selamat sore, saya Genta rekan kerja mamanya Mia” ujar dr. Genta memperkenalkan diri.


Raut wajah Mia berubah ceria. Pak Wahyu menangkap raut wajah bahagia itu melalui ekor matanya. Genta mengobrol sebentar dengan Pak Wahyu, sambil Pak Wahyu menceritakan pertemuannya dengan Mia. Obrolan sore itu berjalan lancar.


“Halo, papanya Mia ya” tanya istri Pak Wahyu menyela obrolan suaminya dan Genta.


Pak Wahyu kembali menghela nafas mendengar pertanyaan istrinya. Lagi-lagi sifat kepo istrinya muncul. Istrinya memandang dr, Genta penuh minat meneliti dan membandingkan wajah Genta dan Mia.


Genta yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa tersenyum. Tampak semburat merah menggelenyar di telinganya, tanda yang sering muncul saat dirinya tengah dilanda rasa malu. Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan ini, senang sekaligus malu.


Genta berusaha mengendalikan perasaanya dengan bersikap biasa saja. Dalam otaknya dia sedang mengingatkan dirinya untuk tidak kegeeran agar reputasi dan imagenya tidak rusak hanya karena sebuah pertanyaan.


“Saya pamit dulu, masih ada pasien di tempat praktek” ujar Genta menyudahi percakapan mereka.


“Oh ya, silahkan” ujar Pak Wahyu cepat.


“Jangan lupa mampir ya kalau ada waktu”

__ADS_1


“Mah sudah!” cegah Pak Wahyu pada istrinya yang tengah berteriak  sambil melambai-lambaikan tangannya pada Genta dan Mia.


__ADS_2