
Resepsi pernikahan mereka telah berakhir, tersisa crew EO yang sibuk membenahi barang-barang yang akan diangkut.
Sementara itu Regata dan Lintang duduk di beranda kamar pengantin. Jagad media kembali heboh dengan postingan pernikahan Lintang. Bukan hanya Tara saja, tetapi teman-teman Lintang yang lain turut memberitakan kabar bahagia tersebut. Seperti biasa selalu ada pro kontra di setiap postingan Tara.
"Kamu gak papa?," tanya Lintang pada Regata. Wanita yang telah sah menjadi istrinya itu melihat tautan postingan yang menyematkan nama Lintang.
"Gak masalah, toh suatu saat bakal ketahuan juga," jawab Regata cuek.
Keduanya sudah pernah membahas hal ini, Regata tak mempermasalahkan publik mengetahui identitasnya.
Regata melihat postingan-postingan itu dan sampai pada caption panjang yang dibuat Tara. Hatinya sedikit terenyuh membaca kata-kata yang intinya dia beruntung bisa mengenal Lintang dan mendoakan pernikahan kami.
Suasana di tempat resepsi itu masih ramai. Samar-samar terdengar suara Danu yang masih bercakap-cakap dengan beberapa tamunya. Sedangkan mertuanya sudah pamit istirahat di penginapan yang telah mereka pesan. Sedangkan keluarga lainnya sudah pulang.
"Ayah belum tidur?," tanya Lintang.
__ADS_1
"Belum tuh masih ada suaranya. Kata mama itu orang-orang dari Partai," jelas Regata.
Lintang mengangguk paham, lalu membawa Regata ke ranjang. Tidur di sampingnya. Keduanya terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar sambil menautkan jemari mereka.
Apa ini yang dirasakan oleh orang-orang yang sudah memiliki anak? Gairah mereka mencair begitu saja, mungkin efek kelelahan menyiapkan pernikahan.
Malam itu, Lintang dan Regata terlibat percakapan panjang. Membahas kerjaan Lintang, masa depan Mia dan tentu saja karir Regata.
Regata tertawa pelan, hampir lupa kalau dirinya seorang dokter yang pernah bermimpi untuk melanjutkan sekolah menjadi spesialis Anak atau Penyakit Dalam.
"Mia sudah bisa pulang pergi sekolah sendiri. Aku sudah bilang mama, untuk tinggal bersama kita," kata Lintang.
"Kita sekarang sudah menikah. Kamu bisa cerita apapun ke aku, kita bisa berbagi pendapat, dan bisa cari solusi yang pas," kata Lintang.
****
__ADS_1
"Ngomong apa aja sih pa?," tanya Arimbi penasaran usai tamu-tamu Danu berpamitan.
Sejak dulu Arimbi selalu malas bertemu orang-orang partai, satu-satunya hal yang membuatnya sedikit menaruh perhatian pada suaminya yakni kegiatan kemanusiaan dan bakti sosial. Setelah itu, Arimbi memilih menghindar dari pembicaraan tentang politik.
"Kasus papa, katanya Partai bakal menjamin papa agar bisa bebas dari tuduhan," kata Danu gusar.
Arimbi mencibir, saat awal kasus ini mencuat tak ada satu orang pun dari Partai yang menampakan batang hidungnya. Statemen yang muncul di media pun hanya mengatakan menghormati proses hukum, seolah tak ada upaya memperjuangkan kader partainya.
"Pak, ingat gak dulu papa berusaha mati-matian cari suara untuk orang-orang yang katanya harus menang biar Partai bisa tetap dapat kursi dari pusat sampai daerah. Sekarang apa balasannya, papa dapat penghargaan kader terbaik itu apa fungsinya?," omel Arimbi.
Dia tak habis pikir, setelah melewati proses hukum sendirian dan bersembunyi seperti penjahat, di hari bahagia putrinya bisa-bisanya mereka datang dan berbicara tentang politik.
"Udahlah, laporan papa ke Dewan Partai juga cuma ditanggapi sekedarnya. Lebih baik papa persiapkan diri untuk proses selanjutnya. Lagian papa sudah mengaku kan, itu tanda tangan papa karena lalai membaca berkas secara utuh. Berdoa saja semoga bisa meringankan hukuman," ditambah Arimbi.
Suara Arimbi bergetar. Dia menyadari kata-katanya sudah melewati batas. Namun wanita paruh baya itu enggan meminta maaf. Kalau dirinya tidak mengomel dengan kata-kata pedas, Danu pasti terus-terusan membela partainya.
__ADS_1
Sementara itu Danu sibuk berkutat dengan pikirannya, menimbang-nimbang tawaran yang diberikan partainya.
...----------------...