Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Dokter Bedah yang Menyebalkan


__ADS_3

“Regata, mana Regata” tanya Dokter Gentala Spesialis Bedah Vaskuler dan Endovaskuler yang terkenal garang di rumah sakit itu.


“Libur hari kedua Dok, habis dinas malam” ujar Mala salah satu perawat yang berdinas


siang itu di IGD.


“Besok Regata dinas apa?” tanya Dokter Gentala yang akrab disapa dokter Genta.


“Dinas pagi dok”


“Bilang Regata, sore ini saya kirim pasien saya untuk operasi besok. Saya sudah


sampaikan ke kepala rawat inap bangsal bedah, untuk pantau puasa pasien dan cek


lab. Besok pagi Regata harus pantau lagi, sebelum masuk ruang operasi” ujar Dokter Genta.


“Baik Dok” ujar Mala patuh.


Sepeninggalan Dokter Genta, Dokter Iwan dan Dokter Meta yang siang itu bertugas di IGD muncul dari balik ruang tindakan.


“Dokter Genta kemana?” tanya Dokter Iwan.


“Barusan pergi Dok”


“Bilang apa dia” tanya Dokter Meta penasaran.


Mala memberitahukan pesan Dokter Genta pada Dokter Iwan dan Dokter Meta.


“Mampus Regata! baru juga senang-senang di tinggal Dokter Genta, eh sekarang orangnya sudah balik lagi” ujar Meta.


“Memang Dokter Genta cuma cocok sama Regata. Untung bukan aku, bisa ketar-ketir berhadapan dengan Dokter Genta” curhat Dokter Iwan.


Dokter Genta terkenal sebagai salah satu Dokter Sub spesialis yang sangat perfeksionis di rumah sakit itu. Karena sifat perfeksionisnya, tak jarang Dokter Genta


berselisih paham dengan dokter-dokter lain. Dokter Genta juga termasuk tipe yang tidak mudah mempercayai orang kecuali jika orang tersebut adalah orang yang dia yakin sanggup bekerjasama dengannya.

__ADS_1


Semua Dokter di rumah sakit itu tahu tabiat Dokter Genta. Mereka lebih memilih menghindari pertengkaran atau memancing keributan.


“Pantas saja diumurnya yang ke-39 tahun Dokter Genta belum beristri sifanya saja


begitu” sindiran ini adalah hal biasa yang dilontarkan oleh petugas di rumah sakit, mengingat Dokter Genta betah menjomblo setelah dua kali ditinggal nikah mantan-mantannya.


“Halo, selamat sore Dok?” sapa Regata saat panggilan masuk dari Dokter Meta terpampang di layar ponselnya.


“Ata, ada kabar gembira untuk kamu” ujar Dokter Meta tersenyum licik.


“Kabar apa Dok” ujar Regata Kebinggungan.


“Dokter Genta titip pesan pasien operasinya masuk sore ini. Besok pagi sebelum didorong ke ruang operasi kamu wajib pantau pasiennya” ujar Meta.


Mendengar nama Dokter Genta mood  Regata langsung memburuk. Satu minggu ini dirinya terbebas dari omelan Dokter Genta, karena Dokter Genta sedang keluar kota. Lagi pula informasi dari dokter RSUD yang dia kenal, Dokter Genta tidak ada jadwal operasi selama satu bulan, yang berarti kegiatan Dokter Genta di luar kota akan memakan waktu selama satu bulan.


Regata mengakhiri percakapannya setelah mengucapkan terima kasih atas informasi dari Dokter Meta.


“Sialan!” ujar Regata menghentak-hentakan kakinya emosi.


“Mama kenapa?” tanya Mia melihat kelakuan aneh mamanya.


mengingatkan Mia.


Malam itu Regata tidak dapat tidur dengan tenang. Selain dipantau oleh Dokter jaga di


bangsal bedah, Regata meminta perawat yang bertugas untuk menginformasikan


kondisi pasien tiap diobservasi kepadanya.


Satu tahun lalu, saat Dokter Genta menyelesaikan pendidikannya dia pulang ke Manado untuk mengabdi di RSUD karena dia adalah Pegawai Negeri Sipil dan bekerja sama sebagai Dokter Mitra di rumah sakit swasta tempat Regata bekerja.


“Siapa yang pulangkan pasien saya?”


tanya Dokter Genta yang saat itu merujuk pasien dari tempat prakteknya ke rumah

__ADS_1


sakit tempat Regata bekerja.


Seisi IGD diam mendengar pertanyaan Dokter Genta yang dilontarkan dengan nada marah.


Keluarga pasien yang berada di ruang IGD


saling berbisik.


“Dokter siapa yang dinas tadi pagi”


tanya Dokter Genta menuju jadwal dinas yang terpampang di ruang dokter IGD.


Nama Regata berada paling atas pada


jadwal dinas pagi hari itu.


“Telepon Dokter siapa ini namanya, suruh


ketemu saya di poli bedah sekarang” perintah Dokter Genta sambil menunjuk nama Regata, kepada salah satu perawat yang ada di dekatnya.


Regata melajukan mobilnya menuju rumah


sakit tempatnya bekerja. Sebelum ke poli bedah, Regata mampir sebentar di IGD.


“Dokter Genta mau ketemu kamu di poli


bedah. Buruan” ujar Dokter Dona saat Regata datang.


“Ada apa sih, itu Dokter baru ya?” tanya


Regata lagi sambil memperhatikan muka tegang petugas IGD beberapa diantaranya


memilih memalingkan wajah saat Regata menatap mereka.


Dona mengingatkan Regata untuk segera ke

__ADS_1


poli jangan sampai Dokter Genta semakin marah karena menunggunya.


...----------------...


__ADS_2