
Annisa menekuk wajahnya, menahan kecewa dengan keputusan pelatih. Meskipun dia meyakinkan Coach Naufal dirinya dapat bertanding karena kakinya lebih baik dibanding kemarin, Naufal tetap bersikeras Annisa harus dirawat lebih lama. Luka yang masih basah dioleskan betadine itu tampak dibalut rapi dengan perban. Naufal tak ingin cedera Annisa bertambah parah.
“Istirahatlah dan pulihkan kondsimu, jangan pikirkan hal lain selain kesehatan kamu” ujar coach Naufal.
Pesan-pesan dukungan kepada Annisa terus mengalir dari rekan sesama atlet dalam negeri maupun atlet dari negara lain yang prihatin dengan kondisinya. Annisa tak bisa istirahat dengan tenang. Lewat televisi yang ada di ruangan rumah sakit dia melihat jalannya pertandingan sambil berdoa semoga Indonesia beruntung hari ini.
Devitasari naik menjadi tunggal nomor satu Indonesia berhadapan langsung dengan Napasorn Pinpradab atau yang dikenal dengan nama Ice Pinpradab tunggal putri nomor tiga dunia setelah Jepang dan Cina. Laga pembuka Devitasari memimpin dengan skor 4-0. Tim Indonesia mendorong semangat Devita agar melaju lebih jauh. Ice tampak tenang membiarkan Devita mengeluarkan semua kemampuannya hingga memperlebar jarak skor delapan poin. Poin kesembilan Devita berhasil di salip Ice. Smash kencang dana tipuan kecil yang Ice gunakan meruntuhkan keyakinan Devita.
Devita mengerutu kecil saat bola di smash keras ke sisi kirinya dan berada di garis putih. Raut wajah Devita juga menunjukan rasa kesal saat chalengge yang dia ajukan ternyata gagal. Ice terus mengejar ketinggalannya, menyusul skor Devita menjadi dua belas sama.
Skor Ice naik menjadi tiga belas, empat belas dan lima belas. Tiga skor itu berhasil dia dapat dari pukulan Devita yang melempem, membentur net dan pukulan yang keluar arena permainan. Devita tak bisa menahan kesalnya saat pukulan overhead Ice dibalasnya dengan pukulan tangung yang langsung dilibas Ice dengan sentuhan tajam di depan net. Devita yang kesal ingin cepat mematikan bola dan mengejar angka Ice yang kini menuju delapan belas sedangkan skornya berada di posisi lima belas. Tiga skor terakhir Devita kembali melakukan eror saat pertahan Ice tak mampu di tembusnya. Placingnya dinyatakan out dan smash menyilangnya jauth di area out milik lawan. Babak pertama Ice Pinpradab unggul 21-15.
Pertandingan babak kedua Ice tanpa susah payah mengeluarkan teknik dewanya agar permaianan segera berakhir angka 21-10 cukup membuktikan level permaianan mereka. Devita memeluk coach Naufal dengan wajah berderai air mata, kekalahan ini membawa beban besar bagi tim putri.
Pertandingan kedua ganda putri Elfi dan Arum melangkah percaya diri. Intimidasi lawan tidak mereka hiraukan. Sebagai ganda putri nomor satu tanah air mereka ingin membuktikan bahwa ganda putri tidak bisa dianggap remeh. Elfi bermain apik di depan net, dia membuktikan kualitasnya sebagai play maker diamond, julukan untuk play maker berbakat dan Arum bermain solid di lini belakang. Kedua tim saling salip-menyalip skor.
“Awas, awas, awas!” teriak Elfi mengingatkan Arum bahwa bola yang dipukul lawan dipastikan out, tanpa perlu menoleh Elfi telah memperhitungkan jarak, posisi lawan saat memukul, dan arah bola. Arum membiarkan bola itu jatuh dan out. Babak pertama berhasil dimenagkan Indonesia dengan skor 21-19.
Interval babak kedua telah berakhir, Elfi dan Arum kembali ke tengah lapangan melanjutkan permaianan. Kali ini Thailand bermain lebih agresif di depan net. Elfi sesekali menghindari adu drive dan mengangkat bola ke belakang dengan tujuan agar lawan melakukan smash. Bak gayung bersambut bola lambung itu dimanfaatkan lawan untuk melakukan smash, sayangnya cuaca panas membuat shuttlecock bergerak lebih lambat, Elfi dan Arum sigap mengembalikan bola ke arah yang berlawanan.
__ADS_1
Adu serangan terjadi. Keduanya sama-sama menyerang hingga akhirnya Elfi memukul bola ke tengah, lawan yang binggung dan miskomunikasi membiarkan bola lolos dan masuk ke area in, satu poin bertambah untuk Indonesia.
“Fi, yang pendek sering mati langkah. Coba flick serve” bisik Arum pada Elfi yang hendak melakukan servis. Elfi mengangguk patuh, dia percaya pada intuisi partnernya. Mereka sudah empat tahun berpasangan segala jenis lawan dan pertandingan sudah mereka ikuti waktunya bagi mereka untuk mengasah naluri atletnya.
Elfi melakukan flick serve, lawan mengira bola out. Saat wasit menyatakan masuk mereka protes, menurut lawan servis yang dilakukan Elfi tidak sah. Penonton Indonesia menyoraki lawan yang protes karena tidak ada kecurangan dalam servis dan flick serve adalah salah satu teknik servis yang sering dikira perbuatan curang. Dua kali flick serve Elfi dinyatakan masuk, keuntungan besar untuk Indonesia. Servis ketiga Elfi tak mau coba-coba dia memilih melakukan servis biasa dan berhasil dikembalikan dengan sempurna oleh lawan, Arum yang berlari mengejar bola yang jatuh di areanya terpeleset, bola mendarat mulus di area in poin bertambah bagi Thailand.
Arum mengangkat salah satu tangannya meminta agar wasit membiarkan petugas membersihkan keringat yang menempel di lapangan. Elfi dan Arum memanfaatkan momen itu untuk berdiskusi.
“Fi, kaki gue sakit banget" keluh Arum sambil mondar-mandir di sisi lapangan.
"Gue panggil tim medis" respon Elfi cepat.
"Ayo bisa" teriak pelatih sambil bertepuk tangan. Arum dan Elfi menoleh, lalu mengangguk paham maksud pelatih.
Arum mengamati papan skor, 17-15 tinggal empat angka menuju kemenangan. Thailand melakukan servis Elfi mengembalikan servis lawan posisi badannya menghadap ke depan namun dia menjentikkan raket ke arah kanan, posisi yang saat ini kosong dengan memutar pergelangan tangan. Jentikan lemah itu tak berhasil dijangkau lawan. Kock menyentuh bibit raket dan masuk.
"Trini Sofia Arum do the serve" ujar wasit mengingatkan Elfi agar berpindah posisi di poin genap.
Arum menahan sakit di kakinya, berusaha menyrimbangkan tubuh saat memukul kock. Servisnya gagal dan poin bagi lawan 16-18.
__ADS_1
"Gapapa Rum" Elfi menyentuh punggung Arum dengan ujung raketnya.
Lawan melakukan low service, melakukan pengembalian silang mengecoh lawan. Elfi mengembalikan bola melakukan umpan agar lawan mengembalikan bola lambung dan diselesaikan dengan jumping smash oleh Arum.
Arum meringis kecil. Poin bagi Indonesia namun kakinya seperti ditusuk jarum. Dia meminta waktu mengelap keringat dan Elfi meminta ganti shuttlecock.
Skor 16-19 tinggal dua lagi. Elfi mencoba spin service ke dua namun dapat diantisipasi lawan. Pengembalian menukik berhasil dipukul lawan ke arah Arum. Elfi terlalu sulit diterobos, jadilah Arum sasaran baru lawan. Gerakan Arum menjadi lebih lambat, sambil melakukan lob-lob panjang dia bertukar posisi dengan Elfi lawan dapat membaca keduanya kelelahan, atau salah satu mulai cedera. Bola kembali diarahkan pada Arum namun langkah Elfi lebih cepat mengcover bola dan kembali ke posisi semula, menjaga bagian lapangan yang kosong. Elfi bertukar posisi dengan Arum, lawan semakin sering melakukan pukulan pendek di depan net. Meskipun bukan playmaker, refleks Arum di depan net terbilang bagus, jangkauan pukulannya mampu mencetak poin ke 20 bagi Indonesia. Poin ke 21 disumbang oleh lucky ball Elfi jatuh tipis di daerah lawan.
"Whoaaaaa" respon penonton kagum.
Pertandingan ketiga Gita memasuki lapangan. Lawannya adalah tunggal putri nomor tujuh dunia. Penampilan apik Gita kemarin membuat tim Indonesia yakin jika konsistensi permainannya dijaga maka dia bisa melampaui lawannya. Sayangnya angan-angan berbanding terbalik dengan kenyataan. Gita tak mampu mengatasi rasa gugup dan intimidasi lawan. Psywar lawan berhasil menghancurkan mentalnya, semua teknik dan persiapan yang dilakukan hilang begitu saja. Penampilannya lebih buruk dibanding Devita.
Thailand cuma butuh satu kemenangan menuju medali emas. Ganda putri pelapis dibebani keharusan memenangkan pertandingan. Sepanjang permainan keduanya terus menyumbang poin bagi tim lawan karena human error berkelanjutan. Kalah di babak pertama dan jarak 9 poin dengan tim lawan di babak kedua membuat penonton berbondong-bondong meninggalkan tribun, tak ada harapan lagu Indonesia raya berkumandang bagi tim putri.
...----------------...
__ADS_1