Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Lintang dan Regata (2)


__ADS_3

Regata memeluk eyang dan keponakannya. Mata eyang berkaca-kaca. Tiga bulan lamanya rumahnya dipenuhi dengan canda tawa, dan hiruk pikuk. Mulai besok dan seterusnya akan kembali sepi.


Arimbi memeluk eyang erat. Pelukan erat itu adalah pelukan terima kasih, dan rasa bersalah. Berkat eyang, mereka punya tempat tinggal. Meskipun mereka jarang berinteraksi dan merepotkan, namun wanita renta itu senang dengan kehadiran keluarganya. Penglihatannya memang kabur, tetapi eyang mampu merasakan hawa di sekitar rumah itu berubah. Sudah lama dirinya tak merasa seperti itu.


Meski begitu, hidup harus berputar. Eyang mengiringi kepergian keluarga kecil itu dengan lambaian tangan, diiringi tembang teluk bayur dari radio tuanya.


Lintang mengemudi mobil yang disewanya menuju Bandara Internasional Kulon Progo. Mereka berempat menuju Jakarta di atas pesawat, Lintang memilih duduk di sebelah Mia, sedangkan Arimbi bersama Regata.


Regata tentu iri melihat kedekatan ayah anak itu. Lintang dengan sabar mendengar celoteh Mia. Sesekali Regata melihat Lintang fokus pada luka di dagu Mia. Ada rasa bersalah dalam di hatinya.


Arimbi mengusap punggung Regata pelan. Mengisyaratkan Regata agar membiarkan Lintang dan Mia menghabiskan waktu bersama.


"Ma gimana caranya bilang ke Mia," bisik Regata.


"Coba kamu ngobrol dengan Lintang. Mama yakin kalian pasti punya solusi terbaik. Regata, mama harap kali ini kamu lebih terbuka ke Mia. Kamu selalu ingat kan yang mama bilang kalau anak akan mencontoh orang tuanya? jadilah orang tua yang jujur," pesan Arimbi.


Regata mendengar pesan ibunya dalam diam. Pikirannya berkecamuk. Beberapa kali Regata menghembuskan nafas, berusaha menetralkan rasa gugup dan sesak di dadanya.


Setelah melalui perjalanan panjang, mereka tiba di Jakarta. Kali ini Regata minta agar dirinya yang menyetir. Lintang duduk di sebelahnya, menunjuk arah paviliun tempat Arimbi tinggal. Mereka tiba di paviliun yang menurut Regata cukup sederhana. 


Mereka masuk dan meletakan barang-barangnya. Regata meneliti tiap sudut ruangan yang ada di paviliun.

__ADS_1


"Ayah kapan kita mulai latihan?" tanya Mia membuat Regata tersedak.


Regata melirik Lintang yang tersenyum senang.


Wajah Mia yang berbinar membuat Regata kehilangan kata-katanya. Arimbi sengaja masuk ke kamar, merapikan barang-barang membiarkan Lintang, Regata dan Mia duduk di ruang tamu.


Lintang dan Mia saling berpelukan. 


"Mia kamu gak boleh gitu ke om Lintang," ujar Regata sambil membisikan kata 'om'


Lintang tentu tak terima dirinya disebut om. Padahal jelas-jelas Mia memanggilnya ayah.


"Kakek bilang om Lintang ayah kandung Mia," jawab Mia cuek.


"Kapan kakek bilang begitu?," tanya Lintang seolah menunjukan pada Regata bukan dirinya yang memberitahu Mia.


"Sudah lama, waktu latihan," jawab Mia singkat sambil gelendotan di lengan Lintang.


Regata diam seribu bahasa, sedangkan Lintang menunggu wanita itu bersuara. Kekecewaan kembali terpancar di wajah Lintang saat Regata memutuskan meninggalkan ruang tamu.


Kenapa Regata bersikap seperti itu? 

__ADS_1


Pikir Lintang. 


Arimbi yang melihat Regata masuk ke kamar segera mencegah gadis itu.


"Kamu perlu ngobrol sama Lintang. Ini bukan soal kamu ataupun Lintang, tetapi Mia. Mau sampai kapan nduk begini terus. Kemarin kamu khawatir Mia akan menolakmu, sekarang malah menghindar," ujar Arimbi pelan.


Regata menghembuskan nafasnya kasar. Persetan jika Lintang ataupun Mia mendengar helaan nafasnya. Ibunya benar, Regata tak perlu sembunyi lagi.


"Bisa bicara sebentar?," tanya Regata mengenghentikan Lintang dan Mia yang sedang bermain Blossom Blast Saga di handphone Lintang.


"Ma, titip Mia sebentar," ujar Regata.


Arimbi mendekat ke arah Mia yang sedang asik bermain game, tidak terganggu dengan percakapan orang dewasa di sampingnya. Lintang membiarkan Mia memonopoli handphonenya.


Lintang dan Regata menuju McDonald's tempat favorit Regata. Mereka memilih duduk di meja yang ada di sudut ruangan. Siang itu suasana cukup sepi. Hanya ada beberapa pengunjung dan alunan musik memenuhi ruangan itu.


Lintang menatap wajah Regata, sementara Regata sibuk menghindar dari tatapan laki-laki itu. 


"Apa kabar?," tanya Lintang setengah berbisik.


Kata sederhana itu sukses meluluhlantakkan perasaannya. 

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2