
Arimbi duduk di depan meja rias sambil mengutak-atik ponselnya. Dia baru saja berganti baju dan membersihkan wajahnya.
"Halo" seseorang di seberang menjawab telepon Arimbi.
Suara itu terdengar asing. Suara perempuan tapi bukan Regata ataupun cucunya.
Arimbi mengerutkan keningnya mencerna suara yang ada di ujung telepon.
"Halo?" ulang suara di seberang.
"Halo ini siapa ya?" tanya suara di seberang.
"Oh, anu .. saya Arimbi ibu dr. Regata. Tadi siang cucu saya telepon lewat nomer ini" ujar Arimbi jujur.
"Waduh maaf Bu. Saya Nina, asisten rumah tangga di tempat tinggal dr. Regata. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Bi Nina sopan.
Arimbi dan Nina saling bertukar kronologi perihal Mia yang meminjam ponsel dan menghubungi neneknya.
__ADS_1
Setelah kurang lebih satu jam mengobrol Bi Nina pamit karena waktu menunjukan pukul sebelas malam di Jakarta, yang berarti pukul dua belas malam di Manado.
Arimbi membuka aplikasi transportasi perjalanan di handphonenya. Dia mengecek tiket Jakarta-Manado. Tanganya ragu-ragu menekan tombol "pesan sekarang"
Arimbi membiarkan ponselnya tergeletak di meja rias. Dia memegang rambutnya dengan kedua tangan sambil menekukan kepalanya.
Arimbi memikirkan kejutan untuk cucunya. Arimbi mempertimbangkan banyak rencana di otaknya namun terbentur kenyataan bahwa suaminya pasti akan langsung mencegahnya. Regata akan menghindarinya, atau yang lebi menyakitkan gosip ini akan tersebar luas di semua kalangan.
Arimbi mengusap wajahnya frustasi.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Danu sambil menurunkan kacamatanya.
"Tapasha meninggal?" tanya Danu yang akhirnya hafal semua nama pemeran dan jalan ceritanya yang sering diceritakan Arimbi.
"Tapasha siapa?" tanya Arimbi
Danu menatap wajah istrinya beberapa detik. Nada bicara Arimbi seolah tidak mengenal Tapasha.
__ADS_1
"Ohhh, bukan" ujar Arimbi cepat setelah loading sekian detik.
Akibat memikirkan perjalanan menemui cucunya Arimbi jadi kehilangan fokus.
"Mikir apa sih kok serius gitu?" tanya Danu sambil bersandar di ranjang dengan ponsel di tangannya.
"Nggak mama cuma gak habis pikir sama ibu-ibu sosialita. Gak kenal aja, kayak udah akrab" ujar Arimbi berbohong menyembunyikan keresahannya.
Arimbi tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Suaminya bisa marah besar. Nama Regata tidak pernah di sebut di rumah itu. Sejak kepergian putrinya, Arimbi menyimpan semua foto Regata agar tidak memancing kemarahan suaminya.
"Ya namanya juga istri pejabat. Eksis di perkumpulan itu hal biasa. Lagi pula karir suami juga bergantung pada sikap istrinya".
ujar Danu sambil mengecek berita partai politik terbaru di akun-akun politik.
Arimbi tidak menanggapi suaminya. Dia memilih mengalihkan pembicaraan.
"Pa, mama tidur dulu. Kalau papa udah mau tidur ,jangan lupa lampu kamar sama lampu kamar mandi dimatikan. Bulan ini tagihan listrik membengkak" ujar Arimbi sembari menarik selimut dan tidur membelakangi suaminya.
__ADS_1
Danu hanya menggelengkan kepalanya. Sifaf hemat istrinya sangat tidak masuk akal. Danu adalah anggota DPR dan punya beberapa bisnis. Hanya tagihan listrik tentu saja sanggup.di bayarnya. Bulan lalu Arimbi marah-marah karena tagihan yang semula Rp. 350.000,- naik menjadi Rp. 500.000,- kalau Arimbi ketemu teman-temannya yang menghabiskan berjuta-juta untuk tagihan listrik mungkin Arimbi bisa pingsan.
...----------------...