Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Tawaran


__ADS_3

Regata tiba di rumah pukul 04.30 WITA. Regata menenggok puterinya di kamar, masih tertidur pulas sambil memeluk bantal guling kesayangannya. Regata membiarkan puterinya tertidur. Regata mencabut pesan yang di tempelnya di kulkas lalu membuangnya di tempat sampah.


Hari ini dinas shift siang, Regata memutuskan untuk melanjutkan tidurnya setelah Mia berangkat sekolah karena shift siang mulai pukul 14.00 WITA. Regata melihat-lihat tanaman hias yang di tanam Bi Nina dalam pot dan digantung di jendela dapurnya.


Regata meggambil gelas, mengisinya dengan air dan menyirang tanaman gantung yang berjumlah empat buah tersebut.


Di pekarangan rumahnya Bi Nina menanam beberapa bunga yang tidak Regata ketahu namanya selain Kamboja dan Gelombang Cinta yang kini mulai menumbuhkan tunasnya.


“Ini bunga Gelombang Cinta Mbak, lagi hits di facebook” ujar Bi Nina bersemangat ketika Regata pulang sambil membawa bunga tersebut, yang merupakan hadiah dari pasien VIP milik Dokter Genta yang luka operasinya di rawat Regata.


“Mahal ini mbak” ujar Bi Nina histeris saat Regata asal-asalan menaruh bunga tersebut.


Kening Regata berkerut tanda tidak percaya dengan apa yang Bi Nina katakan. Bagi Regata bunga seperti itu tumbuh liar di hutan. Mungkin saja butuh effort yang lebih untuk membawa bibit bunga tersebut dari hutan ke kota untuk di perjual belikan.


Diam-diam Regata mencari kebenaran informasi tersebut melalui pencarian Google dan apa yang dikatakan Bi Nina ternyata benar. Ada klaim yang mengatakan bahwa tanaman tersebut mampu menghilangkan senyawa berbahaya di udara. Entah bagaimana cara kerjanya yang jelas Regata tidak merasa rugi membiarkan tanaman tersebut tumbuh.


“Di bawa pulang aja Bi, nanti di sini gak ada yang rawat” ujar Regata melihat ketakjuban Bi Nina.


“Jangan Mbak, nanti hilang kalau di taruh di rumah” ujar Bi Nina yang takut bunga mahal tersebut di curi orang.


Regata membiarkan Bi Nina merawat bunga tersebut hingga sekarang tumbuh menjadi sangat besar.

__ADS_1


Ponsel Regata kembali berdering “IGD is Calling”


“Hallo” sapa Regata.


“Dok, ini saya Dokter Genta pagi ini ada operasi segera datang ke OK (kamar Operasi)”


“Baik Dok” ujar Regata Patuh.


Setelah mengakhiri panggilannya Regata segera meluncur ke garasi rumahnya.


“Lho Mbak udah mau berangkat?” tegur Bi Nina yang sedang memarkirkan motor di luar gerbang rumahnya.


“Ada operasi Bi, saya duluan” ujar Regata setengah berteriak.


Operasi Varises pagi itu berjalan dengan lancar. Dokter Genta tidak marah seperti biasanya. Ajaibnya hari ini suara Dokter Genta lebih halus dan beberapa kali tersenyum saat operasi.


Coba saja tiap hari begini, kan enak operasinya tidak perlu perang saraf setiap hari, batin Regata mengamati wajah Dokter Genta yang semakin bersinar ketika tersenyum.


“Regata sudah punya pacar” tanya Dokter Genta sambil mengisi status pasien setelah operasi.


“Belum Dok” ujar Regata yang kagok setelah sekian lama ada yang menanyakan punya pacar atau tidak. Mungkin saja dirinya tidak kelihatan seperti ibu satu anak.

__ADS_1


“Lho kenapa belum” tanya Dokter Genta lagi.


“Sibuk urusin anak dok” ujar Regata mantap.


Dokter Genta berhenti menulis. Dia menatap wajah Regata mencari kebohongan dalam sorot mata Regata.


“Suami kamu Dokter juga” tanya Dokter Genta lagi.


“Bukan Dok, kami sudah lama pisah” ujar Regata mulai tak nyaman.


“Kalau kamu kerja anak kamu siapa yang ngurusin?”


“Ada asisten rumah tangga Dok”


Dokter Genta diam sejenak sambil menyelesaikan tulisannya pada status pasien dan berakhir dengan bubuhan tanda tangan pada kolom dokter penanggungjawab pelayanan.


“Begini saya mau tawarin kamu jadi asisten saya di tempat praktek. Saya gak akan nawarin kamu kalau saya rasa gak cocok, kerja sama saya. Gajinya lumayan” Tawar Dokter Genta.


Regata menolak secara halus tawaran tersebut. Regata tidak mau waktu luangnya digunakan untuk mendengar omelan Dokter Genta. Kerja satu rumah sakit saja sudah membuat kepalanya pusing apalagi setiap hari harus berada di ruangan yang sama, bisa mati muda Regata.


“Ok saya anggap penolakan kamu sebagai tanda bahwa kamu masih mikir-mikir” ujar Dokter Genta santai.

__ADS_1


Regata menatap Dokter Genta dongkol.


...----------------...


__ADS_2