Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Arimbi (2)


__ADS_3

Siang itu Arimbi duduk di kamarnya sambil harap-harap cemas menunggu kabar dari Bi Nina. Suaminya telah sampai di Balikpapan dan Arimbi hanya punya waktu satu minggu menghubungi Bi Nina secara intens.


Arimbi sadar sikapnya membuat Bi Nina kurang nyaman, tapi Arimbi tidak tahan dengan informasi bahwa Mia mulai ogah-ogahan belajar sedangkan Regata semakin sibuk. Arimbi takut sewaktu-waktu Regata bisa saja kelelahan dan stres lalu melampiaskan pada cucunya.


Arimbi mentransfer sejumlah uang ke rekening Bi Nina sebagai tanda terima kasih atas bantuan dan informasi dari Bi Nina. Dia harus menyusun rencana untuk menyelamatkan cucunya.


Arimbi menghidupkan PC yang ada di meja kerjanya. Dia mencari sebanyak mungkin ide untuk membawa cucunya kembali ke Jakarta.


Arimbi menulis-nulis ide yang muncul di otaknya pada notes miliknya. Arimbi sempat berpikir terbang langsung ke Manado sebelum suaminya pulang dan langsung membawa cucunya pergi. Setelah menimbang-nimbang Arimbi ragu bahwa keputusan yang diambil berdasarkan rasa cemas dan buru-buru bisa menjadi bumerang bagi dirinya di masa depan. Arimbi mengurut kepalanya pelan. Dia mencoret rencana membawa paksa Mia. 


Arimbi mengingat-ingat informasi yang diberikan Bi Nina. Selain suka badminton, cucunya suka menggambar dan mewarnai. Arimbi tahu bakat itu menurun dari Almarhum ayahnya yang adalah seorang seniman, beliau bahkan pernah menggambar sekaligus memahat langit-langit salah satu museum di pulau Jawa. Regata pun memiliki bakat menggambar, sekarang cucunya. Darah Sukoco benar-benar kental dalam diri putri dan cucunya.

__ADS_1


Manado, kota itu benar-benar asing bagi Arimbi. Dia kembali mengingat dan mencari teman sekolah atau kenalan nya yang berada di kota itu. Hasilnya nihil. Dalam ingatannya hanya satu teman kuliahnya asal Gorontalo dan setelah dia telusuri lebih jauh jaraknya memakan waktu tempuh 9-10 jam lewat jalan darat.


Usia cucunya saat ini 8 tahun, kalau saja Mia tetap diizinkan berlatih Mia sudah bisa didaftarkan ikut seleksi di klub bulutangkis nasional. Saat Lintang seusia Mia, dia sudah terdaftar sebagai salah satu calon atlet di salah satu klub bulutangkis terbesar di Indonesia. Sebelum terlambat dan menyesal, Arimbi ingin melakukan sesuatu untuk cucunya.


Satu minggu kemudian….


Regata datang menghadap wali kelas Mia di ruang guru. Wali kelasnya menyodorkan sebuah undangan lomba menggambar dan mewarnai usia tingkat usia dini. Kepala sekolah merekomendasikan Mia karena dia berhasil menjuarai lomba menggambar se kecamatan tempatnya tinggal.


Regata menggenggam undangan itu lalu meletakkannya begitu saja di kursi samping kemudinya.


Regata tiba di rumahnya. Keadaan rumahnya sepi. Jam sudah menunjukan pukul 13.27 WITA. 

__ADS_1


Regata meneriakan nama Bi Nina berulang kali ke dapur, ruang laundry, jemuran bahkan Mia tidak ada di kamarnya. 


Kemana Mia dan Bi Nina pikir Regata. Dia mengeluarkan ponsel dari tas selempang yang dipakainya. 


"Astaga!" ujar Regata segera menuju kamarnya.


Ponselnya mati total. Dia segera melakukan pengisian daya lalu berusaha menghidupkan ponselnya.


Sesaat setelah ponselnya dihidupkan muncul notifikasi bertubi-tubi, dari pesan dan panggilan masuk dan notifikasi ini membuat layarnya mati hidup. Touchscreen ponselnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya sekalipun Regata mencoba menyentuh layarnya berulang-ulang.


...-------------...

__ADS_1


__ADS_2