
Babak kedua dimulai. Lintang bermain agresif di poin-poin awal. Thian Hao yang kaget dengan perubahan ritme permainan segera memutar otak. Caranya hanya dua, mengimbangi lawan atau memaksanya bermain seperti di babak pertama.
Thian Hao kehilangan momentum di awal babak kedua, namun segera menyusul skor Lintang. 10-11 break, Lintang memimpin.
Pertandingan kembali di lanjutkan. Kali ini Thian Hao mengimbangi permainan cepat Lintang. Kedua tunggal putra ini jatuh bangun mengejar bola. Tak jarang kedua pemain itu melakukan diving.
Lintang memberikan umpan silang ke sisi kanan Thian Han. Thian Hao lengah, dia tidak menyangka prediksi Lintang akan melakukan smash keras justru digantikan menjadi dropshot ke bagian kanan depan. Thian Hao mengejar bola, kaki kananya terlambat melangkah disusul raketnya. Alhasil kedua lutut Thian Hao mendarat di pinggir lapangan. Tempat Thian Hao jatuh rusak dan lutut kanannya berdarah.
Thian Hao mengangkat tanggan kanannya meminta pertandingan diberhentikan sementara. Wasit segera memanggil tim medis dan petugas perbaikan lapangan. Luka Thian Hao diobati. Pelatih Malaysia mulai khawatir. Wajah Thian Hao menahan sakit saat lukanya dibersihkan. Tim medis dengan sigap membalut luka Thian Hao.
Perasaan Lintang campur aduk. Di sisi lain dia senang pertandingan dapat dihentikan sementara, dia bisa beristirahat dan menyeka keringat. Dia juga merasa kasihan melihat wajah memelas Thian Hao. Setelah berbincang Thian Hao menyanggupi untuk melakukan pertandingan.
Lintang melihat papan skor, 13-14 dirinya masih unggul. Permainan kembali berjalan, Thian Hao kini berbalik mengungguli Lintang setelah melakukan dua kali smash keras ke badan Lintang. 15-14. Lintang lengah, rasa kemanusiaannya membuat pertahanan dan ritme bermainnya menjadi lambat.
"Sial!" maki Lintang dalam hati. "Sabar Lintang, sabar, masih ada enam angka lagi sebelum 21" Lintang menggumam sendiri sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Thian Hao telah melakukan service, namun Lintang menahannya sebentar untuk memulihkan konsentrasinya. Bola yang sudah dipukul masuk, dikembalikan kepada Thian Hao dan Lintang mendapat peringatan wasit agar fokus.
"Out" teriak wasit. Thian Hao protes, menurutnya servicenya out karena delay yang dilakukan Lintang membuanya kehilangan konsentrasi dalam melakukan service kedua. Tribun pendukung Malaysia ricuh dengan keputusa wasit.
Pertandingan kembali berlanjut, setiap Lintang memperoleh poin lawan terus meminta mengganti shuttlekock namun Lintang menolak, begitu pun saat lawan memperoleh angka dia akan langsung meminta wasit agar lantainya di pel. "Lihat, siapa yang delay sekarang batin Lintang berjalan-jalan kecil sambil mengatur nafasnya.
Pertandingan kedua berakhir penuh drama di mana Lintang unggul 21-19. Kedua pemain mulai terengah, bukannya mengendor namun semangatnya semakin menggebu. Babak ketiga Lintang menyerang tanpa ampun, dia tidak akan tertipu lagi dengan permainan lawan. Thian Hao melakukan hal yang sama berkali-kali pukulannya out. Angka demi angka Lintang kumpulkan hingga skor menjadi 7-11.
Jarak empat angka cukup membuat Lintang yakin dan percaya diri bisa mengambil angka 21 lebih awal. Thian Hao tidak tinggal diam, meskipun jalannya terseok dia masih mampu melancarkan serangan dan berusaha menerobos pertahanan Lintang.
"Wow" sorak sorai penonton dan tepuk tangan menggema di lapangan setelah Thian Hao berhasil menyamakan kedudukan dari angka yang tertinggal cukup jauh 13-18 menjadi 19 sama.
__ADS_1
Lintang merutuki kebodohannya. Dia terlalu terburu-buru mengakhiri pertandingan. Umpan drive yang diberikan Thian Hao di sambarnya begitu saja, bolanya justru tersangkut nett.
Thian Hao lagi-lagi meminta lantai di pel. Hal ini tentu saja membuat Lintang kesal namun apa mau di kata, lantai yang licin bisa menimbulkan kerugian besar bagi pemain.
"Tetap tenang dan konsentrasi" teriak Koh Toni. Lintang hanya mengangguk sambil melihat papan skor. Poin 13-18 lawan adalah kedalahan Lintang. Human error hal yang bisa terjadi kapanpun dalam pertandingan.
Pertandingan kembali di mulai. Giliran Thian Hao melakukan service. Bola berhasil menyebrang net dan di terima dengan baik oleh Lintang.
"ctak" sebuh smash keras menghantam punggung Lintang. Dua puluh sembilan belas, penonton bersorak di tribun.
Lintang merasa sakit bukan karena kock yang mendarat tajam di punggungnya, tetapi karena satu angka lagi Thian Hao akan mendapat tiket final.
"I am, sorry" ujar Thian Hao dari seberang lapangan dengan senyum mengejeknya. Lintang sekali lagi hanya mengangguk.
Service berikutnya akan dilakukan saat semua pemain siap, Thian Hao mengatakan ada keringat yang berceceran di service areanya jadi dia meminta waktu untuk menggesek-gesekan alas sepatunya di bekas keringat itu agar tidak licin.
Thian Hao kembali melakukan service di kembalikan oleh Lintang jauh ke belakang, Thian Hao menyambar bola dengan backhand smashnya dan bersiap melangkah ke arah kirinya namun Lintang menarima bola dan memukul ke arah kanannya.
"Out" teriak wasit garis Thian Hao kegirangan, lututnya yang semula sakit tidak dipedulikan, dia melompat-lompat di lapangan.
"Challenge" teriak Lintang di hadapan wasit utama.
Challenge Lintang di terima wasit karena sepanjang pertandingan Lintang baru kali ini meminta challenge.
Thian Hao protes namum wasit memintanya tetap tenang karena layar akan menampilkan hasil challenge.
Bola terlihat jatuh di luar garis putih. Ketika gambar di perbesar ada titik kecil garis putih yang bersinggungan.
__ADS_1
"Challence succsesful, twenty all. Play" ujar wasit utama.
"Yes", pekik Lintang dalam hati. Rahangnya mengeras. Dia masih diberi kesempatan melanjutkan pertandingan.
"It's out, it's out. Line judge say out" ujar Thian Hao pada wasit utama.
Sempat terjadi adu mulut antara lawan dan wasit karena menurut lawan keputusan wasit garis sah dan tidak perlu dilakukan challenge. Wasit utama mengeluarkan yellow card untuk Thian Hao. Thian Hao protes namun diancam akan ditambahkan nilai kepada lawan dan kartu merah. Pelatih Malaysia dengan sigap melerai Thian Hao dan meminta untuk tenang dan melanjutkan pertandingan.
Lintang tentu tidak ambil pusing dengan insiden itu. Semua saksi ada di lapangan dan mereka percaya penuh pada teknologi mutahir itu.
Sebelum belakukan service Lintang terang-terangan memberikan senyuman mengejek pada Thian Hao. Thian Hao yang tersulut emosi, kembali mengadu pada wasit dengan alasan Lintang tidak profesional. Wasit tidak melihat Lintang melakukan sesuatu yang tidak profesional, namun tetap memanggil kedua pemain itu, lalu menegur mereka agar bersikap profesional dan tidak menggulur waktu.
Service Lintang menyebrang net dan diterima dengan baik oleh Thian Hao, bola lambung Lintang memanfaatkan bola itu untuk mematikan serangan dengan smash tajam, namun smashnya masih bisa di kembalikan Thian Hao. Lintang menerima bola itu dan membalasnya dengan pukulan-pukulan pendek mendekat ke arah net.
Thian Hao memprediksi Lintang menantangnya adu nett. Thian Hao yang tak mau kalah menyambut adu net Lintang. Lintang memukul bola ke sisi lain net, tanpa memindahkan posisi tubuhnya hanya tangan dan ayunan raketnya yang berubah arah.
"Twenty one, twenty" ujar wasit.
Thian Hao masuk kedalam jebakan netting Lintang. Tujuan utama Lintang bukanlah adu drive melainkan trick shot.
Muka Thian Hao merah padam. Kali ini Lintang tidak mengejek saat melakukan service, melainkan mengelap keringat di saat lawan dalam posisi siap bertanding. Lalu Lintang melakukan flick serve, secepat kilat di terima Thian Hao.
kock mengarah tajam ke bagian atas net. Lintang berlari cepat ke depan bersiap memukul kock. Kock mendarat di atas net dengan sempurna berputar kecil dan jatuh ke lapangan Thian Hao.
"Yeeeeeeyyyyy" terompet, hentakan kaki, dan suara penonton Indonesia menggema di tribun Utilita Arena, Birmingham. Bendera dan tulisan Indonesia berkibar di sana.
Tangan Lintang gemetar, menahan gemuruh di dadannya tanpa sadar nayal api di dalam dirinya mulai berkobar. Tanpa selebrasi, dia memeluk Koh Toni lalu kembali ke lapangan mengucap terima kasih pada lawannya. Thian Hao menyambut tangan Lintang seadanya, pergi tanpa menatap mata Lintang.
__ADS_1
...----------------...