
Regata mengamati interaksi putrinya dan Genta di kantin Rumah Sakit. Interaksi ini tentu saja menyebabkan desas desus tak enak di lingkungan kerja. Kedekatan mereka menjadi trending topic selama sebulan. Dokter Wina yang antusias dengan kabar itu, selalu menggoda Regata setiap bertemu.
Regata berusaha menghentikan laju gosip itu, namun dia kesal. Genta tampak tak terganggu dengan gosip itu. Sialan! bagaimana bisa seorang Genta yang temperamen, diam saja mendengar gosip tidak benar tentang hubungan mereka tanpa berusaha meluruskan gosip itu sedikitpun.
"Kali aja dr. Genta mau jadi papa sambung Mia" kata-kata Jenar terngiang di telingan Regata. Ucapan Jenar tidak sepenuhnya salah. Regata pun merasa perlakuan Genta berbeda. Hati kecil Regata tergelitik, bolehlah dia sedikit geer dengan perhatian Genta namun kepalanya menolak.
"Ingat Regata, jangan terpancing dengan hal yang bukan-bukan" Regata mengingatkan dirinya agar tetap fokus pada kerjaan dan keluarganya. Waktu lomba semakin dekat, Regata mempercayakan Mia pada guru pembimbingnya juga Genta yang selalu meyakinkan Regata bahwa Mia pasti bisa menyelesaikan lomba itu dengan baik.
...****************...
Lintang menepuk-nepuk kock, pemanasan baru saja dimulai. Petang ini adalah laga semifinal. Lintang melawan peringkat ke 4 dunia, Lim Thian Hao tunggal putra asal Malaysia.
Lintang tak mampu memungkiri gemuruh dalam dadanya, darahnya mendesir. Entah kenapa, tiap kali negeri jiran disebut, ada api kecil dalam dirinya yang menyala-nyala.
__ADS_1
Rivalitas abadi kedua negara di cabang olahraga terutama di tingkat Badminton Asia Tenggara, dan entah sejak kapan dan siapa yang memulai rivalitas ini, yang jelas Malaysia adalah salah satu pesaing Indonesia. Skil dan kemampuan atlet kedua negara ini setara, juga pelatih Indonesia sudah banyak melatih atlet negeri jiran, bahkan berhasil menyabet gelar di turnamen BWF.
"Ready to play, ready to play" ujar wasit.
Thian Hao melompat-lompat kecil di lapangannya. Padangannya mengarah tajam kepada Lintang. Sikap itu seolah menunjukan intimidasi kepada lawan.
Lintang menatap datar Thian Hao. Permainan psikis, salah satu trik dalam badminton. Lintang mengigatkan dirinya agar tidak mudah terpancing privokasi lawan. Siapapun pasti ingin menang di turnamen ini.
Pertandingan telah berjalan sepuluh menit awal, skor 4-0. Perasaan Lintang tak tenang, sedangkan Thian Hao terus melakukan selebrasi provokasi di tiap poin yang didapatnya.
"Hey, it's fault!" teriak Lintang memprotes keputusan wasit. Ujung raket Thian Hao menyentuh nett, poin harus diberikan pada Lintang karena lawan melanggar peraturan.
Wasit menggeleng, pertanda keputusannya mutlak. Lintang mengangkat bahu dia mengarahkan pandangannya ke tribun penonton, meminta keadilan di sana. Penonton Indonesia yang berada di tribun menyoraki wasit.
__ADS_1
Wasit memanggil Lintang, dan menegurnya karena telah menyebabkan delay pertandingan. Dengan berat hati Lintang melanjutkan pertandingan. Sekilas Lintang melirik pada Koh Toni, beliau mengangguk meminta Lintang menghormati keputusan wasit.
Perasaan Lintang mulai berantakan, pertahanan yang baru saja dia bangun seolah rapuh. Lintang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memusatakan pikirannya pada jalannya pertandingan, semifinal baru saja mulai dia tidak akan kalah.
Lawan melakukan servis, dari posisi dan ayunan raktenya Lintang dapat membaca jangkauan bolanya. Lintang mundur selangkah. Kock jatuh tepat di pinggir garis bagian luar.
"Out" teriak wasit. Satu angka untuk Lintang.
Kini giliran Thian Hao yang menolak keputusan wasit. Dia mengajukan challenge. Kedua pemain itu beristirahat sejenak. Sambil minum dan menyeka keringat, mereka melihat layar menampilkan titik jatuh bola, yang terbaca lewat teknologi hawk eye yang dipasang di lapangan.
"Challenge unsuccsesfull, one challenge remaining" ujar wasit. Pertandingan kembali berjalan. Babak satu berjalan sangan alot dan berakhir dengan skor 21-12, Malaysia memimpin pertandingan.
"Jangan mainin netting dulu kalau gak yakin. Dia kidal nih, pukul bolanya sesekali kasih ke kanan dia susah terima bola yang kekanan. Servisnya goyang, manfaatin itu. Bolanya jangan terlalu diangkat, servis dia lumayan kencang" ujar Koh Toni memberi arahan di awal babak kedua.
__ADS_1
Lawan yang kidal ini tahu betul kelemahannya, dia mencegah bola yang menuju sisi kanan. Gerakannya cepat dan deffencenya tidak mudah tertembus. Lintang menganalisa lawan, kondisi pertandingan, dan masukan pelatihnya. Babak kedua ini apapun yang terjadi Dia harus menang.
...----------------...