
#Jerman#
Kesehatan Arsya semakin membaik. Tifani pun merasa senang. Namun, Arsya tidak bisa mengingat siapa keluarganya. Arsya hanya mengingat masa lalunya.
Tifani pun mengajak Arsya untuk bergabung di kantornya. Arsya pun setuju dengan tawaran omnya itu. Sebelum masuk ke kantor, Tifani terlebih dahulu mengajari Arsya tentang bisnisnya.
Tifani sangat kagum dengan kemampuan Arsya. Karena Arsya dengan cepat dapat memahami semua yang diajarkan oleh Tifani. Tifani berfikir Arsya memang mengalami amnesia, tetapi hati kecilnya tetap menuntun Dia menuju ke jati diri yang sebenarnya.
Tifani berharap Arsya bisa segera pulih kembali. Dan mengetahui siapa jati dirinya. Tifani melihat kelincahan Arsya dalam mempelajari bisnisnya. Tifani pun bertepuk tangan dan menepuk pundak Arsya.
"Arsya, kamu sungguh luar biasa dalam berbisnis. Kamu hebat." Arsya merasa malu dengan pujian omnya.
"Aku kan baru lulus kuliah om.. Mana mungkin Aku sehebat itu." Mendengar pernyataan Arsya, Tifani merasa sedih. Sepertinya Arsya menganggap dirinya baru menggelar sarjana. Tifani hanya tersenyum dan mengiyakan perkataan Arsya.
Tifani tidak ingin jika penyakit Arsya kambuh lagi. Untuk sementara waktu, tifani mengikuti jalan pikiran Arsya dulu. Ini semua demi kebaikan Arsya. Jika terus dipaksakan, maka Arsya akan hilang ingatan untuk selamanya.
Tifani dikagetkan oleh Arsya dalam lamunannya. Arsya kemudian tersenyum dan meledek Tifani. Arsya memandangi Tifani baik-baik. Seperti ada yang disembunyikan oleh Tifani.
"Om mikirin apa sih?" Tanya Arsya penasaran. Tifani seperti gugup dan bingung menjawab pertanyaan Tifani.
"Oh tidak, Om hanya kagum saja sama kamu. Om tidak menyangka, kalau kamu dengan mudah bisa memahami bisnis ini. Padahal kamu kan baru lulus dan belum terjun ke dunia bisnis." Kata Tifani berbohong. Arsya pun percaya saja apa yang dikatakan oleh Tifani.
Tifani pun melanjutkan untuk mengajari Arsya bisnis. Sebenarnya Tifani tidak perlu mengajari dia seperti ini. Karena dia sebenarnya seorang pemimpin perusahaan besar. Tetapi semuanya kini berbeda, Arsya harus menjalani ini semua karena keadaan.
...****************...
Kota berlin memanglah sangat indah. siapa yang tidak mengenal kota tersebut. Perusahaan Tifani terletak di pusat kota berlin. Arsya dan tifani mulai berangkat ke kantornya. Setelah sampai, Tifani memarkirkan mobilnya. Dan Arsya pun turun dari mobil.
__ADS_1
Arsya turun dari mobil dengan menggunakan jasa hitam dan dan sepatu hitam. Penampilan yang sangat rapi dan perfect. Arsya memasang gaya cool. Dan Arsya pun menjadi pusat perhatian semua orang. Semua mata tertuju kepada Arsya.
"Wow, He is very handsome.." Kata salah satu karyawan.
Tifani pun memperkenalkan Arsya kepada semua orang-orang kantor. Dan Tifani menempatkan Arsya sebagai manajer di kantor Tifani. Jelas saja Arsya langsung kaget. Arsya pun menolak tawaran itu. Karena Arsya ingin memulainya dari bawah terlebih dahulu.
Tifani tetap pada pendiriannya. Karena Tifani tahu kalau Arsya adalah seorang CEO di perusahaannya sendiri. Tetapi Tifani tidak berkata demikian kepada Arsya.
"Om, ga salah? Aku baru kerja di kantor Om loh. masak iya sih, Aku langsung jadi manager?" Kata Arsya kaget.
"Arsya, kamu itu sangat pintar. Om yakin kamu bisa. Sudahlah jangan nolak, Om tahu kok, karakter kamu. Om percayakan semuanya sama kamu." Tifani sambil menepuk pundak Arsya kembali. Arsya pun menunduk dan mengangguk. Akhirnya Arsya setuju dengan tawaran Tifani.
Arsya pun mulai menjalani pekerjaannya sebagai manajer. Tifani pura-pura mengajari Arsya apa saja tugas seorang manajer. Arsya memandangi Tifani dengan seksama.
"Om yakin menempatkan Aku sebagai manajer?" Tanya Arsya seperti tidak yakin dengan kemampuan dirinya.
Arsya dengan mudah memahami tentang apa yang diajarkan oleh Tifani. Tifani tidak merasa kesulitan mengajari Arsya. Sudah Tifani duga bahwa Arsya akan mudah memahami ini semua ini.
Jam makan siang pun telah tiba. Tifani mengajak Arsya untuk makan siang di sebuah restoran. Arsya dan Tifani pun makan siang bersama.
Sambil makan, Arsya dengan iseng membuka sosmed. Lagi-lagi Arsya menemukan berita tentang Sofia. Kini berita tentang Sofia semakin tersohor. Sofia semakin sukses dalam meniti karirnya. Arsya semakin merasa kagum dengan pebisnis satu itu.
"Kamu lihat apa Sya?" Arsya kaget dan langsung menutup HPnya. Arsya kembali normal seperti semula.
"Enggak kok Om, Aku cuma lihat sosmed saja.." Kata arsya berbohong kepada Tifani.
"Oh, Ya sudah makannya dilanjut. Sayang loh kalau ga dimakan." Kata Tifani. Sebenarnya Tifani tidak ingin ikut campur tentang urusan pribadinya Arsya. Biarlah hal itu menjadi urusan Arsya asal membuat Arsya senang.
__ADS_1
Tifani hanya ingin Arsya cepat sembuh dan kembali ke dunianya yang sebenarnya. Tifani dan Arsya pun kembali lagi ke Kantornya. Tifani dan Arsya mulai melanjutkan pekerjaannya.
Tifani sedang fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba saja seorang sekertaris mengetuk pintu ruangan Tifani. Dan Tifani pun mempersilahkan masuk kepadanya.
"Excuse me Mr. I want to tell an information, 3 pm later there will be a meeting." Kata sekertaris tersebut memberitahu.
"It's ok, you prepare everything." Jawab Tifani. Sekertaris Tifani pun mengangguk
"It's ok Mr." Kemudian Sekertaris Tifani keluar dari ruangan Tifani.
Tifani juga memberitahu Arsya tentang meeting pada jam 3 sore. Tifani meminta Arsya untuk mempresentasikan di depan klien. Arsya sangat ragu sekali, tetapi Tifani tetap memberinya semangat.
Klien pun sudah datang, dan acara meeting pun dimulai. Tifani meminta Arsya untuk mempresentasikan di depan. Arsya pun memberanikan diri untuk presentasi di depan klien.
Arsya dengan lancar berbahasa Inggris pun berhasil mempresentasikan di depan klien. Klien sangat kagum dengan presentasi Arsya.
Arsya pun juga tidak menyangka jika dirinya bisa presentasi selancar ini. Tifani juga sangat bangga terhadap Arsya.
"Apa Om bilang, kamu pasti bisa." Kata Tifani. Arsya hanya menunduk sambil tersenyum malu.
"Itu semua karena Om yang mengajari saya. Terimakasih Om, Om sudah mempercayai saya." Tifani sekali lagi menepuk pundak Arsya.
Tifani juga memberitahu bahwa besok akan ada pertemuan dengan Mr. Akio yang dari Jepang. Tifani juga meminta Arsya untuk ber presentasi juga di depannya. Tentu saja Arsya merasa gugup. Tifani tetap saja memberinya semangat.
Tujuan Tifani melakukan ini, supaya Arsya bisa mengingat jati dirinya secara perlahan. Tifani terus berusaha untuk membantu Arsya supaya ingatannya bisa pulih kembali.
Di rumah, Tifani sedang duduk termenung. Ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Dia memandangi sebuah foto laki-laki dan perempuan. Yaitu anak dan istrinya.
__ADS_1
"Mirna, Bintang, dimana kalian sekarang? Aku sangat merindukan kalian." Tifani berbicara sendiri. Iya merindukan keluarganya setelah puluhan tahun tidak bertemu.