PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 43


__ADS_3

"Bahas kerjaan kok di cafe? Cafe ini bukan tempatnya membahas pekerjaan, tetapi cafe ini tempatnya orang pacaran. Tempatnya saja romantis seperti ini." Kata-kata Pak Arsya membuat Aku mengernyitkan dahi.


"Ini kan waktunya istirahat pak, lagian kalau bahas kerjaan disini sambil ngopi juga tidak masalah." Kataku kepada Pak Arsya. Mungkin karena tidak enak, Radit pamit untuk kembali ke kantornya.


"Sekarang kamu masuk kantor, Aku kasih kamu hukuman." Aku mengernyitkan dahi Aku karena tidak mengerti. Sejak kapan ya, peraturan kalau tidak boleh minum copi di cafe.


Karena kelamaan berfikir, Pak Arsya menarik tangan Aku. Dan ga enak juga dilihatin oleh karyawan lain. Bahkan ada karyawan yang senyum-senyum sendiri. Bahkan berbisik, pasangan Cinderella dan Pangeran sedang salah paham.


Kenapa sih para Karyawan kok malah cekakak-cekikikan, melihat Aku dan Pak Arsya. Pak Arsya malah membawa Aku ke ruangan Aku.

__ADS_1


"Sebagai hukumannya hari ini kamu harus suapi Aku makan." Hukuman Pak Arsya sangat aneh. Biasanya hukuman itu kan kalau ga ditambahkan tugas pekerjaan, potong gaji, atau diskors. Ini kok malah minta di suapi.


Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Pak Arsya lalu mengagetkan ku.


Aku pun menyuapi Pak Arsya. Dan mengambilkan minum untuknya.


"Dan masih ada lagi hukuman yang ke dua, selama satu bulan kamu tidak boleh berbicara dengan laki-laki lain selain Aku, dan kamu berangkat ke kantor sampai pulang dari kantor, tidak boleh pulang sendiri harus nunggu jemputan dari Aku. Paham?" Kata Pak Arsya yang membuat Aku tertawa geli. Enak banget ini hukuman. Tapi yang membuat Aku kesulitan adalah tidak boleh berinteraksi dengan lawan jenis.


"Maksud Aku laki-laki selain mereka." Kata Pak Arsya dengan geram. Aku jadi tertawa sendiri dengan hukuman Pak Arsya yang diberikan. Mungkin Pak Arsya mengira bahwa Aku telah membicarakan dia dari belakang. Aku ingin menjelaskannya kepada Pak Arsya tapi Pak Arsya tidak ingin mendengarnya.

__ADS_1


Aku pun menyuapi Pak Arsya dengan perasaan ingin tertawa. Pak Arsya pun mengernyitkan dahinya melihat Aku senyum-senyum sendiri. Lalu Pak Arsya menyentuh dahi Aku yang tidak panas.


"Kamu masih waras kan?" Tanya Pak Arsya khawatir.


"Iya, Saya masih waras Pak, kenapa pak?" Tanyaku heran kepada Pak Arsya.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Pak Arsya bertanya serius.


"Ga apa-apa pak, cuma Bapak lucu aja." Mendengar itu, pak Arsya kemudian menggelitik Aku, dan membuat Aku jadi geli. Aku dan Pak Arsya main kejar-kejaran sampai kami bercanda dan tertawa. Sejenak rasa capek Aku hilang.

__ADS_1


Tidak terasa Waktu pulang telah tiba. Dan Pak juga mengantarkan Aku pulang. Hubungan Aku dan Pak Arsya kini semakin dekat. Di perjalanan pulang, Aku tidak sengaja melihat sosok perempuan yang Aku kenal yaitu Marsha. Iya sedang berbicara dengan laki-laki lain.


Dan Aku juga minta untuk turun sebentar kepada Pak Arsya. Diam-diam Aku mendekati Marsha dan mendengar pembicaraan mereka. Mataku terbelalak mendengar rencana licik Marsha. Ternyata Iya telah mengkhianati Albert dan ingin menghancurkan Albert dari dalam.


__ADS_2