PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 86


__ADS_3

"Kalau kamu merasa kehilangan, mana hasilnya? Buktinya sampai sekarang, tidak ada titik terang dengan tentang Aarav kan? Itu karena kamu ga becus jadi Ibu." Arsya kemudian langsung pergi begitu saja. Sofia hanya terdiam, dengan geram sambil mengepalkan tangannya.


Sofia langsung pergi ke kamarnya dan menyandarkan badannya di pintu yang sudah tertutup. Sofia menangis dengan membungkukkan badannya di atas lutut. Sofia menangis sejadi-jadinya. Sofia merasa bersalah atas hilangnya baby A.


Tetapi, tidak sepantasnya Arsya memperlakukannya seperti itu. Sofia tidak habis pikir dengan suaminya. Selama ini Sofia berusaha untuk mencari titik terang tentang keberadaan anaknya. Sementara Arsya hanya bisa menyalahkan dirinya tanpa membantu sedikitpun.


Tiba-tiba Sofia mendapat telfon. Dan ternyata itu adalah dari polisi. Sofia diminta untuk datang ke kantor polisi sekarang juga. Sofia segera menghapus air matanya. Dan segera beranjak untuk pergi ke kantor polisi. Sofia berharap segera ada titik terang tentang anaknya.


Sofia segera menancap gas dan melajukan mobil. Setibanya kantor polisi, Sofia masuk dan menemui polisi. Sofia langsung bertanya apakah ada jawaban dengan hilangnya anaknya?


"Bagaimana pak? Apakah ada titik terang?" Tanya Sofia penasaran.


"Begini Ibu Sofia, Kami menemukan jejak sepatu dan gelang ini Bu,?" Polisi tersebut memberitahukan kepada Sofia gelang tersebut. Dan gambar jejak sepatu itu.


"Kira-kira berapa ya pak ukuran sepatu Itu?" Sofia bertanya lebih jelas.


"Ukuran sepatu itu kira-kira 38 Bu." Melihat gelang itu, sepertinya Sofia pernah melihat gelang tersebut. Sofia mencoba mengingat kembali tentang gelang itu. Kemudian Sofia ingat sesuatu. Bahwa Tantenya Arsya, yaitu tante mirna pernah memakai gelang seperti itu.


"Boleh saya lihat lebih detail gelangnya pak?" Pinta Sofia, polisi itupun memberikan gelang itu kepada Sofia. Dan Sofia pun melihat gelang itu dengan teliti. Sofia ingat-ingat kembali tentang keberadaan gelang tersebut.


Sofia kemudian ingat bahwa tante mirna pernah memakai gelang itu. Sofia tidak ingin berprasangka buruk terlebih dahulu sebelum ada bukti yang jelas.


"Ini kan gelang limited edition. Ga semua orang punya bisa punya gelang seperti ini. Arsya juga pernah bilang, kalau tante mirna itu suka hal yang berbeda. Apa ini ada hubungannya dengan tante mirna? Ah, ga mungkin tante mirna ada kaitannya." Gumam Sofia. Lalu Sofia pun meminta polisi agar tetap mengusut tuntas kasus ini. Sofia juga menceritakan tentang gelang tersebut.

__ADS_1


Tapi ini hanya dugaan sementara saja. Sofia juga tidak ingin gegabah. Kemudian Sofia pamit untuk pulang. Sebelum sampai rumah, Sofia berhenti di sebuah restoran, Sofia ingin membelikan makanan untuk suaminya. Sofia berharap suaminya senang.


Secara tidak sengaja, Sofia memergoki Arsya sedang makan siang dengan seorang perempuan. Sofia memandangi mereka berdua. Arsya dan perempuan itu kelihatan sangat akrab. Sofia pun mendekati mereka.


"Mas Arsya," Arsya dan perempuan itu menoleh ke arah Sofia. Arsya terlihat sangat gugup ketika Sofia berada di dekatnya.


"Ngapain kamu disini mas? Dan siapa perempuan ini?" Arsya hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari Sofia. Kemudian perempuan yang bersama Arsya juga bertanya.


"Siapa Dia Arsya?" Tanya perempuan itu. Arsya hanya diam saja. Sofia pun juga menjawab pertanyaan dari Arsya.


"Saya istrinya, istri yang sah secara agama dan hukum." Perempuan itu kaget dan langsung berdiri memaki Arsya.


"Arsya kamu bilang belum punya istri. Pembohong kamu." Perempuan itu menyiramkan air ke wajahnya Arsya. Arsya hanya terdiam. Perempuan itu pun langsung pergi begitu saja.


"Sofia kamu tidak apa-apa kan?" Arsya yang melihat mereka seperti sebuah drama. Arsya tertawa sinis melihat mereka.


"Kalian memang cocok." Rafa merasa geram dengan tingkah Arsya dan tiba-tiba Rafa melayangkan sebuah tonjokan ke wajahnya Arsya. Sofia langsung kaget dengan kejadian itu. Langsung saja Sofia memegang suaminya. Namun, dihempaskan oleh Arsya.


"Rafa, kamu apa-apaan? Kenapa kamu mukul Mas Arsya seperti itu?" Meskipun Sofia telah disakiti, Sofia tetap saja membela suaminya.


"Kamu lihat Arsya, Sofia tetap membela kamu. Meskipun kamu telah menyakitinya." Arsya tidak menjawab perkataan dari Rafa. Langsung saja Arsya pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Rafa pun menarik tangan Sofia dan membawa masuk ke dalam mobilnya. Rafa meminta Sofia untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sofia menundukkan kepala. Sofia bercerita semua kejadian dari awal sambil menahan tangis. Air mata Sofia tidak bisa terbendung lagi. Sofia bercerita dengan air mata yang mengalir di pipi.

__ADS_1


Rafa yang melihat Sofia menjadi tidak tega. Rafa memperhatikan Sofia kini lebih kurusan. Rafa pun memberikan sapu tangan supaya air matanya bisa dihapus. Rafa juga tidak habis pikir dengan si Arsya. Harusnya Iya membantu dalam pencarian anaknya. Tetapi Arsya malah seenaknya, bahkan menyalahkan Sofia.


Sofia juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Rafa juga sedih dengan hilangnya baby A. Karena baby A sudah Rafa anggap sebagai keponakan sendiri. Rafa tidak mengerti siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini.


"Kamu tenang saja ya, Aku akan berusaha untuk membantu kamu mencari Aarav." Sofia sedikit mengulas senyum mendengar Rafa akan membantunya. Sofia menjadi salut dengan Rafa. Seharusnya suaminya yang membantu dalam kasus ini. Ini malah orang lain yang bukan siapa-siapa yang membantunya.


"Terimakasih Rafa." Rafa juga tersenyum kepada Sofia. Rafa meminta agar Sofia tidak menangis lagi. Rafa sebenarnya tidak bisa jika melihat perempuan menangis. Apalagi yang menangis adalah Sofia.


Sofia adalah perempuan yang kuat, dan Sofia tidak mudah untuk menangis. Berarti sakit yang dirasakan oleh Sofia sangatlah dalam. Rafa tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Sofia. Dengan tidak ragu-ragu, Rafa memegang tangan Sofia. Jelas saja Sofia merasa kaget dan melihat ke arah Rafa.


"Sofia, kalau kamu ga kuat, kamu boleh menangis. Jangan dipendam sendiri, nanti kamu bisa sakit. Kamu boleh sedih, kamu boleh menangis, tapi jangan berlarut-larut." Sofia mengulas senyum kembali kepada Rafa dan mengangguk pertanda mengerti apa yang diucapkan oleh Rafa.


Seketika Sofia dikagetkan dengan tangisan bayi. Sofia seperti mengenal suara bayi itu. Sofia pun segera keluar dari mobil dan mencari sumber suara tersebut.


"Aarav... Dimana kamu nak? Mama disini. Aarav.." Rafa juga turun dari mobil mengejar Sofia.


"Sofia tunggu." Rafa terus mengikuti Sofia.


"Rafa, kamu dengar tangisan bayi kan? Itu suara Aarav Rafa." Rafa mengira bahwa Sofia sedang berhalusinasi. Karena Rafa tidak mendengar suara tangisan bayi tersebut. Karena tidak ingin menyakiti Sofia Rafa pun berusaha untuk menenangkan Sofia.


"Sofia, itu bukan Aarav. Kamu salah dengar," Kata Rafa. Namun, Sofia tetap ngotot kalau itu adalah suara Aarav.


"Rafa, Aku tahu benar bahwa itu adalah suara Aarav." Rafa pun segera membawa Sofia masuk ke mobil. Sofia terdiam sejenak, Rafa menjadi tidak tega dengan Sofia. Rafa kemudian membawa Sofia untuk balik pulang.

__ADS_1


__ADS_2