PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 106


__ADS_3

#Berlin city#


Kantor Tifani juga kedatangan Mr. Akio. Sekertaris Tifani memberi tahu Tifani bahwa Mr. Akio telah tiba di bandara. Tifani bersiap-siap menyambut kedatangan Mr. Akio. Arsya juga dilibatkan oleh Tifani untuk menyambut kedatangan Mr. Akio dari Jepang.


Selang beberapa waktu kemudian, Mr. Akio telah tiba di kantor Tifani. Dengan segera sekertaris memberitahu Tifani.


"Excuse me sir, Mr. Akio arrived atau our office." Mendengar Mr. Akio telah tiba di kantornya, dengan segera Tifani dan Arsya menyambutnya dengan baik.


"Konnichiwa Mr. Akio.." Sapa Tifani sambil berjabat tangan dengan Mr. Akio. Mr. Akio pun membalas jabatan tangan Tifani.


"Konnichiwa." Arsya juga ikut berjabat tangan dengan Mr. Akio. Tifani, Arsya dan Mr. Akio pun berjalan sambil ngobrol. Hingga sampai tiba di ruang meeting.


Arsya mulai mempresentasikan tentang pembangunan proyek sebuah hotel. Mr. Akio juga sangat kagum dengan kehebatan Arsya. Mr. Akio memberikan plus kepada Arsya, Mr. Akio benar-benar dibuat takjub oleh Arsya.


"Mr.Tifani, 彼はCEOに値する."


Mr. Tifani, Kare wa CEO niataisuru.


Mr. Akio mengatakan bahwa Arsya lebih pantas menjadi CEO. Arsya sangat malu ketika Mr. Akio berkata demikian. Tifani juga tersenyum mendengar perkataan Mr. Akio.


Seandainya saja, Mr. Akio tahu bahwa Arsya adalah seorang CEO besar di perusahaan ternama, sudah pasti Mr. Akio akan mengajak kerjasama juga dengannya.


Mr. Akio juga menceritakan seorang CEO cantik dan muda yang berasal dari Indonesia. Selain cantik, Iya juga pintar dan baik. Dan sopan. Mendengar cerita tentang wanita tersebut, Tifani merasa penasaran dengan wanita itu.


"彼のお名前は?"


"Kare no onamae wa?" Tifani menanyakan nama perempuan yang diceritakannya.


"彼女の名前はソフィアです.."


"Kanojo no namae wa Sofiadesu.." Mendengar nama Sofia, Arsya langsung teringat perempuan yang dia lihat di berita sosmednya.


Entah mengapa hati Arsya merasa damai ketika nama perempuan itu disebut. Arsya pun juga ikut berbicara tentang Sofia. Tifani pun melirik Arsya seketika.


"Arsya, kamu tahu darimana tentang Sofia itu?" Tanya Tifani penasaran.


"Arsya sempat membaca berita tentang Dia om." Jawab Arsya. Tifani melihat ada yang berbeda dengan Arsya. Setelah mendengar nama Sofia.

__ADS_1


Tifani tidak akan membicarakan tentang kepribadian Arsya di depan Mr. Akio. Mereka pun melanjutkan pembahasan tentang proyek mereka.


Setelah selesai meeting, Mr. Akio juga mengundang perusahaan Tifani ke kantor Mr. Akio yang berada di Jepang. Mr. Akio juga memberikan undangannya.


Tifani merasa dihormati oleh Mr. Akio karena telah mengundangnya untuk show di perusahaannya. Siapa yang tidak kenal dengan Mr. Akio. CEO yang terkenal di seluruh mancanegara.


Setelah selesai meeting Mr. Akio pun langsung segera kembali lagi. Tifani dan Arsya mengantar Mr. Akio sampai di depan pintu luar kantornya.


" Mr. Akio, ご協力ありがとうございます.."


"Mr. Akio, Go kyōryoku arigatōgozaimasu.."


Mr. Akio pun tersenyum kepada mereka. Dan Mr. Akio pun tidak lupa melambaikan tangan kepada mereka. Tifani dan Arsya membalas lambaian tangannya.


Tifani dan Arsya kembali masuk ke kantornya. Tifani ingin bertanya sesuatu yang penting kepada Arsya.


"Arsya, apakah kamu mengenal Sofia yang diceritakan oleh Mr. Akio tadi?" Arsya pun heran dengan pertanyaan Omnya kemudian tersenyum.


"Bagaimana mungkin Aku mengenalinya Om, sementara untuk bertemu saja Aku belum pernah. Aku cuma tahu tentang Dia hanya dari sosmed saja." Kata Arsya kepada Omnya itu.


"Arsya, kelihatan kamu ceria sekali mendengar nama itu." Arsya tersenyum malu setelah tercyduk oleh omnya.


...****************...


Sebuah mobil mercy berhenti di depan kantor Tifani. Dan dengan elegan nya Iya memarkirkan sendiri mobilnya. Seorang perempuan bertubuh seksi dengan gayanya yang cool turun dari mobil.


Perempuan yang berkulit putih dan berambut panjang sedikit ikal dan terurai, serta mengenakan dress sedikit di atas lutut, dengan menggunakan kacamata hitamnya.


Berjalan dengan langkah yang berdamage. menjadi pusat perhatian semua orang. Semua orang yang ada di kantornya Tifani tersebut dibuat tercengang oleh kehadiran perempuan itu.


Perempuan tersebut memasuki ruangan Tifani tanpa ijin. Tifani pun menoleh ke arah perempuan itu. Dan Tifani juga dibuat tercengang olehnya.


"Rani?" Perempuan yang dipanggil Rani itu tersenyum kepada Tifani.


"How are you uncle?" Perempuan itu dengan reflek memeluk Tifani.


"I am fine, and you?" Sapa balik Tifani.

__ADS_1


"I am fine, thank you.. My Uncle."


"Rani, You more beautiful." Puji Tifani. Rani semakin besar kepala dikatakan cantik.


"Oh, thank you my uncle.." Rani memeluk omnya lagi.


Rani adalah salah satu keponakan Tifani yang baru datang dari Australia. Iya baru lulus S2 dari Australia. Rani merupakan anak dari adik istrinya yang telah meninggal.


Tifani telah menikah lagi dengan wanita asal Jerman. Istrinya Tifani yang asal Jerman sudah meninggal dunia. Mereka belum dikaruniai anak. Namun, Tifani sudah menganggap Rani seperti anaknya sendiri.


orang tua Rani berpisah, ayah Rani telah menikah lagi dengan wanita asal belanda. Sementara Ibu Rani, sudah meninggal dunia. dan Rani pun dititipkan kepada Tifani dan istrinya.


Tifani dan Istrinya membesar Rani dengan penuh kasih sayang. Setelah Rani berusia 15 tahun, barulah istri Tifani meninggal dunia karena penyakit kankernya. Tifani membesarkan Rani sendirian. Hingga Rani tumbuh dewasa. Dan Tifani juga yang membiayai Rani hingga S2.


Tidak heran jika Rani begitu dekat dengan Tifani. Rani tumbuh menjadi anak yang baik dan sopan. Tetapi Rani juga bersikap manja seperti gadis pada umumnya.


Lalu Arsya tiba-tiba saja masuk ke ruang Tifani. Dan Arsya pun melihat Rani di ruangan itu. Rani juga melihat Arsya tidak berkedip.


"Who is he, uncle?" Tanya Rani kepada omnya.


"He is Arsya." Jawab Tifani singkat. Rani pun mengangguk-angguk. Rani sesekali melirik Arsya sambil senyum-senyum sendiri.


Arsya yang merasa tidak nyaman pun akhirnya segera keluar dari ruangan Tifani. Rani terus saja memandangi Arsya hingga Arsya keluar dari ruangan itu.


" He is very handsome, uncle.." Kata Rani membuat Tifani kaget mendengar ucapan Rani.


"Do you Like it?" Tiba-tiba saja Tifani bertanya.


"No, I don't like it. Because I don't recognize it." Kata Rani. Tifani pun mengangguk.


"Nice thought, I hope you don't have feelings for him." Kata Tifani memberi peringatan kepada Rani. Rani pun heran mengapa omnya melarangnya untuk menyukai Arsya.


"Why I can not have feelings for him?" Mendengar pertanyaan Rani, Tifani pun menjelaskan siapa sebenarnya Arsya. Tifani sangat memohon kepada Rani.


"We don't know, does he have children or


wife," Rani pun mengangguk dan mengerti maksud Tifani.

__ADS_1




__ADS_2