
Pak Arsya mengatakan sangat bangga terhadapku. Perusahaan Radit saat ini sedang bermasalah dengan keuangannya. Pak Arsya sudah mengetahui itu semua. Dan Pak Arsya juga bangga karena caraku ini telah membantu orang lain dalam kesusahan. Pak Arsya mengucapkan good luck di telingaku.
Aku merasa senang karena ada dukungan dari pak Arsya. Aku sangat bersyukur karena Aku bisa dipercaya oleh Bos. Lalu sekertaris mengetuk pintu, kemudian Aku menyuruhnya masuk. Dan Sekertaris bilang, bahwa ada tamu yang ingin bertemu. Aku menyuruh sekertaris, supaya menunggu di ruang pertemuan.
Dengan segera Aku menemui orang itu. Sudah Aku duga ternyata yang datang adalah Radit. Radit menyapaku sambil tersenyum. Aku membalas sapaannya. Dan Aku sudah tahu maksud dan tujuan Radit datang kesini.
"Setelah Aku pelajari dan pahami, Aku telah menandatangani surat kontrak kerjasama ini, dan Aku juga tertarik dengan tawaran Anda." Sekarang rasanya semua terasa berbeda. Raditya Laksamana hanyalah sekedar masa lalu bagi Aku.
__ADS_1
Aku menerima kontrak kerjasama, semata-mata bukan karena sekedar tertarik dengan tawaran Radit. Tetapi karena ingin menyelamatkan karyawannya. Kasihan Mereka, mereka menopang hidup dengan gaji mereka. Semoga semuanya menjadi berkah Aamiin.
"Sofia, bolehkah kita berbicara sebentar? Ada suatu hal yang ingin Aku tanyakan sama kamu." Radit mengajakku berbicara, Radit mengajakku berbicara di cafe depan kantor sambil ngopi. Aku pun mengangguk tanda setuju. Mungkin ada hal penting yang ingin Radit bicarakan.
"Apa yang ingin anda bicarakan?" Aku memulai pertanyaan sambil menunggu pesanan kopi datang.
"Sofia, kenapa kamu mau menerima kontrak kerjasama dengan kantorku? Padahal keuntungannya bagi kamu hanya sedikit." Radit bertanya serius kepadaku. Sebelum Aku menjawab pertanyaan Radit, terlebih dahulu Aku menyeruput secangkir kopi yang telah disediakan oleh pelayan cafe.
__ADS_1
"Sofia, tapi kan dulu Aku pernah membohongi kamu, pernah nyakitin kamu." Radit membahas masa lalunya denganku. Ketika Aku masih duduk di bangku SMA. Aku hanya tersenyum geli mendengar ucapan Radit. Ternyata dari dulu tidak berubah sifatnya yang lebay.
"Radit, ini urusan kerja. Saya tidak pernah mencampur adukkan antara urusan pribadi dan urusan kerjaan.Apalagi itu hanya masa lalu, dan saya sudah lupa dengan masa lalu itu. Sudah tidak ada hubungannya dengan saya." Penjelasan ku membuat Radit tidak bisa menjawab apa-apa. Dan Radit hanya tertunduk diam.
Dan dari kejauhan Pak Arsya sedang menghampiri Aku. Lalu duduk di dekatku dan memesan kopi yang sama denganku. Dan melihat Pak Arsya datang, Aku dan Radit malah diam.
"Kenapa pada diam? Ayo dong ngomong, kepo nih." Nada bicara Pak Arsya tidak enak dan seperti orang yang lagi sensi. Membuat Aku dan Radit terdiam.
__ADS_1
"Kita ini lagi ngomongin masalah kerjaan pak," Aku menjelaskan kepada Pak Arsya supaya tidak salah paham. Aku takut jika Pak Arsya mengira Aku sedang membicarakan dirinya.
"Bahas kerjaan kok di cafe? Cafe ini bukan tempatnya membahas pekerjaan, tetapi cafe ini tempatnya orang pacaran. Tempatnya saja romantis seperti ini." Kata-kata Pak Arsya membuat Aku mengernyitkan dahi.