
"Sudah tidak apa-apa mbak.. Lagian Aarav anak pintar kok.. Dia anteng di pangkuan saya." Ujarnya.
Aarav dan Rafa seperti memiliki ikatan batin. Aarav seperti nyaman ketika bermain dengan Rafa. Ketika menangis pun Aarav langsung diam nangisnya.
Sofia tidak bisa melarang mereka untuk dekat. Sofia hanya memandangi mereka berdua.
"Sayang, Aarav ga kangen ya sama mama?" Aarav menggelengkan kepalanya. Dan Sofia pun tercengang. Dan Sofia mengelus pipi Aarav.
Sofia merasa kasihan dengan Rafa. Sofia tahu kalau Rafa pasti sangat lelah. Kemudian Sofia mengambil Aarav dari pangkuan Rafa. Jelas saja Aarav menangis karena tidak ingin dipangku orang lain termasuk mamanya sendiri.
"Sayang, om Rafa capek.. Biarin Om Rafa istirahat ya.. Besok Om Rafa kesini lagi." Sofia pun menyuruh Rafa untuk pulang dan segera istirahat. Dan Sofia mengantar Rafa sampai depan pintu.
"Oh iya, rencana kamu.. kapan akan ke Jerman?" Sofia menghela nafas.
"Mungkin secepatnya Rafa." Rafa hanya bisa mengangguk. Kemudian Rafa pun memegang kedua tangan Sofia. Sofia melihat tangannya yang dipegang oleh Rafa.
"Sofia, Aku janji akan selalu membantu kamu. Dan Aku akan selalu ada di samping kamu." Sofia mengangguk dan mengucapkan Terimakasih kepada Rafa. Dan Rafa pun pulang.
Sambil menggendong Saran, Sofia sambil merenung sejenak. Sofia kembali galau karena teringat terhadap suaminya. Sofia teringat kebersamaan bersama Arsya.
"Ya Allah, kembalikanlah suamiku kepadaku." Doa Sofia. Sofia tidak sengaja melihat foto Arsya bersamanya. Dada Sofia terasa sesak. Rasanya Sofia ingin sekali memeluknya.
Rasa rindu Sofia semakin hari semakin dalam. Babysitter yang melihat Sofia merasa tidak tega. Babysitter itu kemudian mengambil Saran dari pangkuan Sofia.
"Nyonya kangen dengan tuan Arsya ya?" Sofia pun mengusap air matanya.
"Nya, kalau nyonya mau nangis tidak apa-apa nyonya.. Biar saya bawa Aden Aarav bermain kebelakang ya nya.." Sofia tetap tersenyum.
"Enggak apa-apa mbak.. biar Aarav sama saya saja. Lagian saya juga kangen dengan Aarav." Babysitter itu merasa kasihan dengan Sofia.
Sofia pun membawa Aarav ke taman belakang. Babysitter itu diam-diam menelfon Rafa. Dan mengadukan bahwa Sofia sedang menangis.
HP Sofia bergetar. Sofia melihat layar hpnya ternyata dari Rafa. Rafa mengirimkan sebuah video lucu. Video kiriman Rafa berhasil membuat Sofia tertawa ngakak.
__ADS_1
"Nah, gitu dong tersenyum.. Jangan sedih-sedih terus.." Sofia yang membaca pesan dari Rafa tersenyum.
"Terimakasih Rafa.." Balasan Sofia.
Sofia pun masih tertawa karena video yang sangat lucu. Sampai-sampai Sofia lupa dengan kesedihannya. Rafa memang selalu membuat Sofia tersenyum dan melupakan kesedihannya.
"Ini anak, memang selalu bisa buat Aku tertawa." Kata Sofia berbicara sendiri.
...****************...
Setelah pulang dari Jepang dapat beberapa hari, Sofia memutuskan untuk berkunjung ke Jerman. Dan Rafa pun menemani Sofia untuk ke Jerman.
"Sofia, kamu siap?" Sofia mengangguk.
"Aku siap." Kata Sofia.
Sofia berharap, rencananya kali ini akan berhasil. Sofia juga membawa Aarav ke Jerman. Semua urusan perusahaan Sofia serahkan kepada sekertaris kantor.
Sofia pun berangkat ke bandara bersama dengan Rafa.
DI tengah jalan, Sofia dihadang oleh seorang wanita. Sontak saja Rafa kaget dan langsung rem mendadak. Sofia pun turun dari mobil Rafa dan menghampiri perempuan itu. Sofia pun kaget, ternyata wanita itu adalah Zoya.
"Zoya, ngapain kamu menghadang jalan kami?" Tiba-tiba saja Zoya menampar pipi Sofia kanan dan kiri.
"Aw." Sofia sambil menyentuh pipinya yang sakit karena tamparan.
"Mau kamu itu apa sih, Zoya?" Tanpa menjawab pertanyaan Sofia, dengan brutal Zoya malah menjambak rambut Sofia. Rafa yang melihat itu, langsung saja turun dari mobilnya.
Rafa berusaha merelai mereka. Dan Rafa pun juga memarahi Zoya. Zoya berniat ingin mendorong Sofia ke jalan. Beruntung saja Rafa menarik Sofia terlebih dahulu. Dan Zoya terhempas ke jalan. Dari dekat ada sebuah Zoya pun berteriak, motor tersebut menabrak kaki Zoya dan Zoya pun mengerang kesakitan.
Sofia berlari dan langsung menolong Zoya. Awalnya Zoya menolak bantuan Sofia. Namun, Sofia tetap bersikeras untuk membawa Zoya ke rumah sakit terdekat. Beruntung saja waktunya masih mencukupi.
Sofia pun menghubungi papanya Zoya. Sofia dan Rafa, menyerahkannya ke pada perawat. Sofia dan Rafa tidak bisa berlama-lama di rumah sakit. Karena mereka akan segera ke bandara.
__ADS_1
Sofia dan Rafa pun bergegas untuk ke bandara. Rafa dan Sofia merasa lega dan bersyukur akhirnya mereka tiba di bandara tepat waktu.
"Untung saja waktunya masih bisa mencukupi." ujar Rafa.
"Iya, alhamdulillah.."
"Aku ga habis pikir dengan itu cewek. Maunya dia sebenarnya apa sih?" Rafa merasa sedikit kesal dengan Zoya.
"Sudah-sudah, memang dia seperti itu dan selalu berbuat ulah. Udahlah jangan dipikirkan, toh kita ga terlambat kan?" Kata Sofia. Tetapi Rafa masih saja kesal dengan Zoya.
Menurut Rafa, perbuatan Zoya sangatlah membahayakan. Seandainya Rafa tidak menarik Sofia tadi, mungkin Sofia yang akan celaka. Rafa tidak bisa membayangkan kejadian tadi. Apalagi Sofia dengan posisi menggendong Aarav.
Sofia dan Rafa telah memasuki pesawat. Dan Sofia lagi-lagi duduk berdampingan dengan Rafa. Demi Sofia Rafa rela menemaninya melakukan perjalanan jauh. Rafa menyerahkan urusan perusahaan kepada sekertaris kantornya juga.
Selama di dalam pesawat, Rafa pun ngerjain Sofia. Rafa selalu bertingkah yang berbeda jika di depan Sofia. Sofia pun tersenyum dengan kelakuan Rafa.
"Kamu itu ya, bisa aja ngerjain orang." Rafa pun tertawa. Sofia juga tertawa ngakak.
Mereka terus saja bercanda dan Sofia juga tidak merasa lelah karena harus terbang jauh. Rafa selalu membuat Sofia tersenyum. Rafa selalu menghibur Sofia agar Sofia tidak lagi bersedih dan selalu ceria.
Aarav memandangi Rafa dan Sofia dengan polosnya. Rafa yang melihat Aarav sedang memandanginya itu. Akhirnya dipangku oleh Rafa. Aarav sangat senang jika dipangku oleh Rafa.
"Sayang, memangnya kamu ga bosan apa sama om Rafa terus?" Kata Sofia.
"Ya enggak dong mama, soalnya om Rafa ganteng.." Jawaban Rafa mewakili Aarav. Sofia pun mencibir Rafa
"Pede banget sih.. Memangnya siapa yang bilang kamu ganteng?" Ujar Sofia
"Ya kataku lah.. Banyak kok cewek yang tergila-gila sama Aku." Kata Rafa dengan percaya diri.
Sofia hanya tersenyum menggelengkan kepala. Sofia tidak habis pikir dengan temannya yang satu itu. Tapi Sofia sangat bersyukur karena memiliki teman seperti Rafa.
Sofia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika tidak ada Rafa. Orang yang selama ini menguatkannya. Mungkin, jika tidak ada Rafa Sofia akan frustasi atau pun stres.
__ADS_1
Sofia mengerti perasaan Rafa yang menyukai dirinya. Sofia juga salut terhadap Rafa, karena Rafa tidak pernah memaksakan perasaannya.
"Terimakasih Rafa.." Ujar Sofia dalam hati.