PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 64


__ADS_3

Sofia ingin sekali bekerja seperti dulu lagi, karena Sofia sadar bahwa Sofia sekarang bukanlah Sofia yang berada di rumah suaminya. Meskipun dalam keadaan hamil muda tetapi Sofia bukanlah perempuan yang manja. Sofia harus tetap semangat.


Setelah Rafa pulang dari kantor, Sofia memberanikan diri untuk menemui Rafa. Sofia pun langsung mengetuk pintu kamar Rafa. Kemudian Rafa menyuruh Sofia masuk.


"Ada apa Sofia? Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rafa. Dan Sofia bingung harus memanggil apa sama Rafa. Sebelum memulai suatu pembicaraan, Sofia tarik nafas terlebih dahulu.


"Rafa, bolehkah Aku minta bantuan kamu?" Tanya Sofia ragu.


"Bantuan apa?" Tanya Rafa penasaran.


"Boleh tidak, kalau Aku melamar kerja di kantor kamu?" Tanya Sofia malu-malu. Rafa tersenyum lebar hingga terlihat giginya.


"Sangat boleh, kebetulan juga kantor Aku lagi membutuhkan seorang manager. Manager saya yang di kantor baru saja meninggal dunia." Kata Rafa menjelaskan.


"Turut berdukacita atas meninggalnya manager kamu." Kata Sofia merasa ikut sedih mendengarnya.


"Kalau kamu bersedia, Aku bisa menjadikan kamu sebagai manager Aku langsung." Kata Rafa memberikan tawaran.


Sofia pun menerima tawaran Rafa dengan senang hati. Dan Sofia kembali ke kamarnya. Sofia sangat bersyukur, karena dirinya masih beruntung. Sofia mengelus perutnya dan berbicara dengan calon buah hatinya.


"Sayang, meskipun kita diusir dari rumah, kita masih beruntung karena masih ada orang baik yang menolong kita. Orang baik itu namanya om Rafa. Semoga Dia selalu dilindungi oleh Allah ya sayang.." Kata Sofia berbicara sendiri. Sofia tidak menyadari kalau Rafa mendengar perkataannya. Dan Rafa jadi tahu kalau Sofia sedang hamil. Dan Rafa akhirnya merasa iba dengan Sofia.

__ADS_1


Di pagi-pagi buta, Sofia sudah bangun lebih awal. Dan Sofia pun mulai masak sendiri, karena sebagai tanda rasa terimakasih kepada Rafa. Jam sudah menunjukkan pukul 6. Sofia pun segera siap-siap untuk berangkat kerja sebentar lagi.


Sofia diajak Rafa untuk sarapan bareng. Rafa mencicipi masakan dari Sofia, dan Rafa sudah tahu kalau itu Sofia yang masak. Karena diberi tahu oleh pembantunya. Rafa pertama mencicipi masakan Sofia langsung cocok di lidahnya. Rafa pun memuji masakannya tersebut.


"Hari ini adalah hari pertama kamu kerja sebagai manager di kantor ku. Nanti, kamu akan diajari oleh petugas kantor tentang apa saja yang harus kamu kerjakan. " Kata Rafa kepada Sofia.


"Baik," Jawab Sofia dengan senyum.


"Sofia, tapi kamu jangan terlalu capek. Kasian calon bayi yang ada dalam kandungan kamu." Kata Rafa, dan membuat Sofia heran. Darimana Rafa tahu kalau dia sedang mengandung.


Rafa menjelaskan kalau Dia sedang mendengarkan perkataannya semalam. Rafa juga tahu kalau Dia diusir dari rumah dalam keadaan hamil. Sofia pun kembali menunduk, dan Rafa dengan respek memegang pundak Sofia. Rafa memberi semangat terhadap Sofia.


Rafa mengajak Sofia untuk berangkat bareng. Namun, karena menjaga etika, Sofia menolak. Bagi Sofia tidak mungkin satu mobil dengan pria lain sementara dirinya masih berstatus Istri orang. Sofia lebih memilih untuk naik taksi saja. Namun, Rafa melarangnya Rafa khawatir kalau Sofia naik taksi, takut terjadi apa-apa dengan bayinya.


Dari balik kaca mobil, Rafa terus saja melihat raut wajah Sofia yang syahdu. Sepertinya Rafa benar-benar kesemsem dengan Sofia. Andai saja Sofia masih gadis atau berstatus janda, Rafa pasti akan mendekatinya tanpa ragu. Sayangnya Dia masih istri orang.


Sofia dan Rafa sampai telah sampai di kantor. Rafa belum tahu siapa Sofia, Rafa mengira bahwa Sofia hanyalah perempuan biasa seperti pada umumnya. Petugas, mengajari Sofia. Namun petugas yang mengajari Sofia sangat kagum. Sofia dengan mudah mengerjakan apa yang disuruh petugas.


Dan hal ini dilaporkan kepada Rafa, bos baru Sofia. Kemudian Sofia dipanggil di ruang rapat. Dan Sofia diminta untuk memberikan Solusi pada suatu pembangunan sebuah proyek.


Siapa sangka kalau Sofia memiliki pemikiran yang sangat genius. Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut kagum dengan cara berfikir Sofia, termasuk juga Rafa. Rafa pun berfikir siapa sebenarnya Sofia ini. Rafa berfikir bahwa Sofia adalah wanita biasa seperti pada umumnya.

__ADS_1


Namun, Rafa kali ini benar-benar terhipnotis dengan kegeniusan Sofia. Selain cantik, Sofia juga orang yang sangat cerdas. Rafa tidak salah pilih, memilih Sofia menjadi manager.


Jam pulang kantor telah tiba. Sofia pun pulang bersama Rafa. Sampai di sebuah Mall, Sofia meminta Rafa untuk berhenti sebentar. Sofia ingin membeli sesuatu untuk keperluan Ibu hamil.


Disaat Sofia membeli perlengkapan Ibu hamil, Sofia berpapasan dengan suaminya. Sofia dan Arsya saling pandang. Sofia memberikan senyum kepada suaminya. Namun Arsya tidak membalas senyum itu. Sofia sangat merindukan Arsya. Tapi apakah Arsya juga merindukannya?


Sebagai rasa hormat seorang istri Sofia ingin mencium tangan suaminya. Namun, Arsya malah menepisnya. Namun, Sofia masih memberikan senyum manis kepada suaminya meskipun hatinya sangat sakit.


"Apa kabar mas? Aku harap kamu baik hari ini. Aku tahu kamu sekarang sangat membenciku. Tapi ketahuilah mas, kalau Aku akan selalu sayang sama kamu." Kata Sofia dengan memberikan senyum. Kemudian Sofia pergi dari tempat itu.


Arsya hanya termangu menatap kepergian Sofia. Tapi, karena keegoisan Arsya, hatinya pun tertutup untuk mengetahui suatu kebenaran. Dalam mobil, tidak terasa air mata Sofia menetes, dan Sofia pun mengusap air matanya. Rafa yang memperhatikan Sofia yang sedang menangis akhirnya memberhentikan mobilnya.


Kebetulan Rafa berhenti dekat pantai. Lalu Rafa membuka pintu mobil dan menyuruh a Sofia turun. Sofia menjadi heran terhadap Rafa. Rafa menyuruh Sofia untuk memandangnya lekat-lekat. Sofia dan Rafa saling bertatapan. Rafa memandang mata Sofia lekat-lekat. Rafa paham kalau ada kesedihan yang mendalam di hati Sofia.


"Sofia, Aku siap meminjamkan punggung Aku untuk kamu. Menangis lah Sofia, agar kamu lega. Jangan sedih terus-menerus, ingat calon bayi yang ada dalam kandungan kamu." Kata Rafa kepada Sofia. Sofia pun dengan reflek menempelkan kepalanya di punggung Rafa. Sofia tidak tahu lagi kepada siapa dia harus bersandar sekarang.


"Menangis lah sepuas kamu Sofia, setelah ini jangan pernah menangis lagi." Kata Rafa juga ikut sedih.


Setelah lega, Rafa menanyakan hal yang membuat dirinya sedih. Sofia pun bercerita sedetail-detailnya. Rafa ikut emosi mendengar cerita Sofia.


"Dasar laki-laki brengsek. Bisa-bisanya dia percaya terhadap fitnah orang lain." Kata Rafa dengan emosi. Kemudian Rafa bertanya lagi. kenapa bisa Dia difitnah seperti itu. Dan Sofia menceritakan hal yang sebenarnya.

__ADS_1


Perlahan-lahan Rafa mencoba untuk mencerna perkataan Sofia. Rafa berfikir, jangan-jangan, ada orang yang sengaja menjebak Sofia.


__ADS_2