
Marsha dan Radit sangat tidak rela jika melihat rumah tangga Sofia dan Arsya adem ayem, baik-baik saja. Marsha dan Radit ingin rumah tangga mereka hancur.
Radit dan Marsha mulai menyusun rencana baru. Marsha mempunyai rencana yang sangat licik, dan Radit telah menyetujui rencana tersebut. Radit dan Marsha ingin menjebak Sofia.
"Aku yakin, rencana kita kali ini pasti berhasil." Kata Marsha tersenyum licik.
"Ide yang sangat brilian Marsha." Puji Radit.
Marsha tidak rela jika rumah tangga Sofia dan Arsya baik-baik saja. Marsha dan Radit ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Marsha dan Radit pun mulai menjalankan aksinya.
Radit menyuruh orang untuk menelfon Sofia, Radit menyuruh orang itu untuk mengelabuhi Dia. Orang suruhan Radit pun melakukan apa yang diperintah oleh Radit. Orang itu bilang, kalau suaminya si Arsya mengalami kecelakaan dan sedang kritis. Sofia percaya dan sangat panik.
Sofia pun mulai keluar rumah, dan ingin bergegas untuk ke rumah sakit. Tetapi tidak sampai di rumah sakit sebuah mobil melaju dengan kencang dan berhenti di dekat Sofia. Dua orang turun dari mobil dan langsung menculik Sofia. dua orang tersebut membius Sofia dan Sofia pun tidak sadarkan diri.
Sementara Marsha bertugas untuk mengelabuhi Albert. Marsha menelfon Albert untuk minta bertemu dengannya karena sangat penting. Awalnya Albert tidak percaya, tetapi lama kelamaan Marsha berhasil mengelabuhi Albert. Albert juga bergegas untuk menemui Marsha.
Tetapi hal yang sama dengan Sofia pun terjadi. Albert dibius orang tidak di kenal hingga Albert tidak sadarkan diri. Kemudian meletakkan Albert dan Sofia di satu ranjang. Kemudian mereka di rekayasa seolah-olah Mereka selingkuh. Radit pun mulai menjalankan aksi selanjutnya.
Radit dan Marsha menyuruh orang untuk memfoto mereka berdua. Setelah itu mereka memerintahkan untuk mengirim foto tersebut kepada Arsya.
Di kantor Arsya sedang sibuk meeting dengan klian. Dan tiba-tiba Arsya mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenal. Arsya membuka pesan tersebut. Dan Arsya membulatkan matanya Arsya sangat terkejut dengan pesan yang telah dikirim orang tersebut. Dan Arsya pun sangat emosi, tetapi Arsya tidak menunjukkan emosinya di depan para klian.
Setelah selesai meeting Arsya segera pulang dalam keadaan marah. Sementara Sofia dan Albert dikembalikan ke rumahnya. Rencana Marsha dan Radit telah berjalan mulus.
__ADS_1
Melihat suaminya datang, Sofia langsung memeluk suaminya. Sofia senang, Karena melihat suaminya baik-baik saja. Tetapi Arsya tidak membalas pelukan tersebut. Arsya mulai menunjukkan kemarahannya kepada Sofia.
"Pergi kamu dari sini! Pengkhianat." Kata-kata Arsya membuat Sofia bingung. Namun, Sofia menganggap Arsya sedang bercanda dengannya.
"Mas, Kamu bercanda kan?" Kata Sofia dengan memasang wajah senyum.
"Pergi sekarang juga!" Bentak Arsya yang membuat Sofia sangat kaget. Tanpa basa-basi lagi, Sofia ditarik oleh Arsya hingga terhempas dan hampir jatuh.
Lalu Arsya masuk rumah dan menutup pintu. Sofia pun mengejar Arsya dan meminta ingin dibukakan pintu.
"Mas, buka mas... salahku apa? Aku ga pernah mengkhianati kamu mas.." Kata Sofia sambil menangis
Dari kejauhan, Marsha dan Radit melihat mereka berdua yang sedang berantem. Mereka tersenyum bahagia karena rencana mereka berhasil.
"Yes! Rencana kita berhasil Radit.." Kata Marsha sambil melakukan tos tangan dengan Radit.
Sofia mencari tempat untuk berteduh. Sofia sangat ketakutan mendengar suara petir yang menggelegar. Sofia menangis, dan tidak mengerti dengan keadaan saat ini. Sofia tidak tahu akan pergi kemana saat ini. Sofia terus berjalan di tengah hujan yang sangat deras.
Sofia merasa kedinginan dan sudah merasa tidak kuat. Akhirnya Sofia pun pingsan di tengah jalan. Beruntung saja ada sebuah mobil yang lewat disitu. Dan mobil itu langsung berhenti ketika melihat ada orang yang tergeletak.
Seorang pria turun dari mobil dan langsung berlari untuk menghampiri Sofia. Orang itu berusaha untuk menyadarkan Sofia, namun Sofia tetap saja tidak sadar. Kemudian pria itu membawa Sofia ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah, Pria itu menyuruh pembantunya untuk menggantikan baju Sofia yang basah. Dan pembantunya pun melakukan perintah pria itu. Setelah selesai pria itu menyentuh dahi Sofia yang panas.
__ADS_1
Kemudian pria itu mengompres dahi Sofia. Pria itu memandangi wajah Sofia yang begitu cantik. melihat wajah Sofia, pria itu teringat dengan kekasihnya yang telah lama, meninggal. Karena menurutnya Perempuan ini sangat mirip dengan almarhum kekasihnya.
Di pagi-pagi buta, Sofia sadar dari pingsannya. Sofia mendapati dirinya sedang ditungguin oleh seorang pria. Dan pria itu juga terbangun dari tidurnya, dia melihat Sofia sudah sadar. Pria itu sangat senang.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Kata pria itu dengan senang.
"Kamu siapa? Dan Aku dimana?" Tanya Sofia kebingungan.
"Kamu sedang ada di rumahku. Dan Aku menemukan kamu pingsan di jalan saat hujan deras. Lalu Aku bawa kamu kesini." Kata pria itu menjelaskan.
"Terimakasih tuan, sudah menolong saya." Kata Sofia kepada pria itu.
"Oh iya nama kamu siapa? Dan kamu tinggal dimana? Biar Aku antar kamu pulang." Tanya pria itu. Sofia hanya diam saja dan menunduk karena tidak tahu harus pergi kemana.
"Aku Sofia," Sofia pun kembali tertunduk, dan saat ditanya tinggal dimana, Sofia hanya menggelengkan kepala. Kemudian pria itu mengerti dan menyuruh Sofia untuk tinggal di rumahnya sementara waktu.
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal telfon Aku, atau kamu tinggal minta bantuan pembantu di rumah ini." Kata pria itu kepada Sofia.
"Terimakasih tuan," Kata Sofia dengan malu-malu.
"Jangan panggil saya tuan, panggil saja nama saya Rafa." Kata pria itu memperkenalkan diri. Kemudian Rafa berangkat ke kantornya. Di perjalanan menuju kantor, Rafa senyum-senyum sendiri karena teringat wajah Sofia yang mirip dengan almarhumah kekasihnya.
Sampai di kantor, Rafa menjadi pusat perhatian para kaum hawa di kantornya. Karena Rafa juga tidak kalah tampan. Rafa juga masih sendiri. Tetapi Rafa belum mengetahui bahwa Sofia sedang hamil.
__ADS_1
Sementara Sofia tidak enak jika berdiam di rumah sendirian. Apalagi ini bukanlah rumah Sofia. Kemudian ada pembantu Rafa yang mengantarkan makanan ke kamar Sofia. Sofia mengucapkan terimakasih kepada pembantu itu dengan memberi senyuman.
Sofia ingin sekali bekerja seperti dulu lagi, karena Sofia sadar bahwa Sofia sekarang bukanlah Sofia yang berada di rumah suaminya. Meskipun dalam keadaan hamil muda tetapi Sofia bukanlah perempuan yang manja. Sofia harus tetap semangat.