
"Sayang, baik-baik di dalam ya.. kamu dan mama harus sehat." Kata Arsya kepada calon bayinya.
Lalu Arsya mencium lagi kening Sofia, Sofia merasa bahagia akhirnya suaminya kembali ke pelukannya lagi. Sofia dan Arsya menghabiskan waktu mereka di rumah sakit dengan bermesraan.
Marsha datang ke rumah sakit ingin menjenguk Arsya, Marsha membawa bunga untuk Arsya. Dan niat Marsha untuk mencari perhatian dari Arsya. Marsha pun masuk ke ruang rawat Arsya. Setelah tiba di dalam, Marsha tidak mendapati Arsya. Marsha kebingungan mencari Arsya. Lalu Marsha bertanya kepada salah satu perawat.
"Eh Sus, mau tanya.. pasien yang ada di kamar ini kemana ya?" Marsha bingung.
"Oh.. Pasien itu, Dia lagi ada di ruang ICU." Jawab suster tersebut.
"Ruang ICU? Memangnya dia kenapa sus?" Tanya Marsha tidak percaya. Suster itu hanya tersenyum, lalu suster itu menjelaskan.
"Dia itu lagi menemani Istrinya. Mereka sedang berduaan. Coba lihat mereka so sweet banget.." Kata suster tersebut. Marsha mendengar itu langsung bergegas. Dan melihat mereka memang sedang berduaan.
Marsha merasa dirinya terancam. Kalau Arsya kembali baikan lagi, itu artinya Arsya sudah tahu kalau Sofia tidak bersalah. Marsha tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Marsha segera meninggalkan tempat itu.
Namun, hal itu dicegah oleh Albert dan Rafa. Marsha merasa sangat gugup melihat mereka berdua. Marsha ingin menghindari mereka namun, mereka dengan sigap menghalangi Marsha.
"Mau apa kalian? Jangan halangi jalan Aku." Kata Marsha panik.
"Pantasnya perempuan ular ini diapain ya Bro?" Tanya Albert kepada Rafa.
"Mending kita laporin saja langsung ke polisi." Kata Rafa dengan sedikit geram.
"Jangan macam-macam kalian." Ancam Marsha. Albert dan Rafa tertawa melihat gelagat Marsha yang ketakutan. Lalu Marsha berhasil lolos dari mereka. Mereka hanya menakut-nakuti Marsha.
Sementara Sofia, sudah boleh dipindahkan ke ruang rawat. Suster mulai memindahkan Sofia ke ruang rawat. Dan ditemani oleh Suaminya. Sofia masih terasa lemas dan seperti tidak punya tenaga.
__ADS_1
"Mas, disini ya.. Jangan kemana-mana.." Kata Sofia dengan manja. Arsya tersenyum senang, karena Arsya juga merindukan kemanjaan Sofia. Arsya dengan setia menemani Istrinya. Kali ini Arsya tidak ingin lagi kehilangan Istrinya.
Dari balik kaca, Rafa memperhatikan mereka berdua. Rafa merasa iri dengan hubungan mereka. Rafa juga ingin memiliki istri seperti Sofia. Albert juga memperhatikan tatapan Rafa kepada Sofia.
"Kamu suka sama Sofia?" Albert sambil menepuk pundak Rafa. Rafa hanya memberikan sedikit senyum.
"Apaan sih lo.." Kata Rafa mengelak.
"Sudah lah ngaku saja, Aku tahu kok.. Siapa sih, yang ga menyukai Sofia. Dia orang yang baik, lembut dan perhatian, cerdas juga cantik lagi. Sofia itu wanita yang sempurna." Albert menjelaskan tentang Sofia
"Kok kamu tahu tentang Sofia?" Tanya Rafa penasaran.
"Sofia itu adalah sahabat Aku dari kecil. Sofia itu sahabat Aku sejak Aku masih SMP. Jadi Aku tahu bagaimana Dia." Kata Albert. Rafa pun heran seakan tidak percaya.
Daripada Rafa melihat orang yang sedang B. U. C. I. N, Rafa kemudian mengajak Albert untuk keluar dari rumah sakit. Albert mengikuti Rafa.
"Makanannya ga enak ya sayang? Atau kamu mau makan apa? Aku pesankan ya sayang.." Kata Arsya khawatir dengan keadaan Sofia.
Sofia menggelengkan kepala.
"Ga usah Mas, Aku ga bisa makan mas.. lidahku ga enak.. Aku pengen mual.." Arsya memahami Istrinya, Arsya tidak memaksanya.
Namun, Arsya sangat khawatir terhadap kondisi istrinya.
Arsya menanyakan hal itu kepada Dokter, Dan dokter mengatakan kalau kondisi Sofia masih sama seperti kemarin tidak ada perkembangan sama sekali. Arsya semakin merasa panik terhadap Istrinya. Dan saran Dokter pun tetap sama, yaitu memilih antara bayi atau Ibunya.
Arsya merenung dan merasa bingung, Arsya tidak bisa memilih salah satu diantara mereka. Karena Anak dan istrinya adalah belahan jiwanya Arsya. Arsya menghampiri istrinya lagi. Arsya memandangi Istrinya yang sedang tidur. Dan Arsya mengelus perut istrinya yang semakin membesar.
__ADS_1
Arsya tersenyum saat merasakan tendangan dari calon buah hatinya. Arsya tersenyum ketika calon buah hatinya sangat aktif di dalam perut istrinya. Hingga Sofia yang tertidur pulas pun mengernyitkan dahi karena terasa tendangan itu. Arsya kemudian membisikkan ke calon buah hatinya.
"Sayang, mama sedang istirahat.. Jangan ganggu mama ya.. Baik-baik di sana." Arsya mencium perut istrinya, sambil mengelus perutnya. seperti orang yang sedang mengelus bayi yang baru lahir.
Arsya kembali memandangi wajah Istrinya yang pucat. Arsya berharap ada keajaiban yang bisa menyembuhkan istrinya dan calon anaknya selamat.
Sofia terbangun, dan mendapati suaminya sedang mengeluarkan air mata. Sofia menyeka air mata suaminya dengan lembut. Dan Sofia meminta suaminya agar tidak menangis.
Sofia akhirnya meminta pulang, karena merasa bosan di rumah sakit. Namun, Suaminya tidak mengijinkannya. Sofia tetap bersi keras untuk minta pulang.
"Aku pengen pulang, Aku kangen sama rumah.." Kata Sofia. Arsya menuruti keinginan istrinya itu. Dan Arsya meminta ijin dokter untuk membawa Sofia pulang. Sebenarnya Sofia belum boleh pulang, Namun, karena memaksa akhirnya Dokter menyetujui permintaan mereka.
Dokter mengingatkan agar mereka rajin kontrol dan rajin cek kandungan juga. Sofia mengangguk, Akhirnya Sofia keluar juga dari rumah sakit. Sesampainya di rumah, Arsya menemani Sofia istirahat di kamar.
"Sudah lama kita ga kayak gini.." Kata Arsya kepada istrinya dengan lembut.
Arsya memandangi istrinya dan menginginkan sesuatu, Arsya meminta istrinya untuk ****** Sofia pun mengerti apa maksud suaminya. Arsya dan Sofia pun mematikan lampu kamar.
Keesokan paginya, Arsya sedang memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Dan Arsya pun mencium kening istrinya dengan mesra. Sofia terbangun dan tersenyum kepada suaminya.
Kali ini, Sofia sedang ingin ditemani suaminya. Sofia melarang suaminya untuk pergi ke kantor. Arsya menuruti keinginan istrinya itu.
"Mas, disini ya.. Ga boleh kemana-mana, Aku pengen kamu disini, jangan keluar.." Arsya tersenyum melihat istrinya manja seperti ini.
"Kamu lagi ngidam ya sayang?" Sofia mengangguk dan Arsya tersenyum lalu kembali mengelus perut istrinya.
Dalam hati Sofia merasa sedih, Sofia ingin selamanya bersama suaminya. Namun, hal itu tidak mungkin bagi Sofia. Sofia ingin menghabiskan waktu bersama suaminya disisa terakhir hidupnya.
__ADS_1
Sofia menikmati pelukan suaminya. Dan bersandar di bahu suaminya. Seharian penuh mereka di dalam kamar. Karena hal tersebut memang keinginan Sofia. Dan Arsya tidak pernah bosan untuk terus mengelus perut istrinya. Kadang Arsya merasa gemas dengan calon buah hatinya.