PACARKU PRIA BERISTRI

PACARKU PRIA BERISTRI
Bab 24


__ADS_3

Albert atau Febri


Setiap kali Aku bertemu Ibu Sofia, entah kenapa Aku merasa sangat nyaman. Dan Aku juga merasa sangat dekat dengannya, Aku selalu bertanya-tanya sebenarnya siapa perempuan yang ada dalam bayangan itu? Kenapa Aku tidak bisa ingat apa-apa.


Semakin Aku berusaha untuk mengingat, kepalaku semakin terasa sakit. Lebih baik Aku pergi ke dokter saja, Aku pun langsung bergegas untuk ke rumah sakit.


Tiba-tiba Marsha memanggilku ketika Aku hendak pergi ke rumah sakit. Dan seketika langkahku terhenti.


"Febri, kamu mau kemana sayang?" Tanya Marsha kepadaku.


"Aku mau pergi cek up ke rumah sakit." Jawabku.


Dengan tidak sengaja Aku melihat cincin plastik yang melingkar di jari manis Marsha. Aku merasa terkejut dan mengingat kembali bayangan itu. Dan argh.. kepalaku mulai sakit lagi.

__ADS_1


"Sayang.. kamu kenapa? Aku kan sudah bilang sebaiknya istirahat dulu." Marsha merasa panik, lalu Marsha mendudukkan Aku dan memberikan Aku minum.


"Marsha, cincin itu?" Aku menunjuk cincin yang ada di jari manis Marsha.


"Jadi, kamu mulai ingat dengan cincin ini?" Marsha mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan dengan jelas cincin itu.


Aku menggelengkan kepala karena memang tidak ingat apa-apa.


"Kok Aku baru lihat kamu pakai cincin itu? kenapa selama ini kamu tidak memakainya?" Aku mengernyitkan dahi karena heran dan Aku memang sama sekali tidak pernah melihat Marsha menggunakan cincin itu, aneh.


Marsha kelihatannya seperti orang gugup dan seperti orang bingung ketika Aku bertanya. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Marsha, Aku pun memicingkan mataku.


"Sha.. kok kamu malah diem?" Aku membuyarkan lamunan Marsha, seketika Marsha langsung panik.

__ADS_1


"Oh... iya sayang, Aku memang sengaja tidak pakai cincin ini disaat Aku tahu kamu hilang ingatan. Aku takut jika kamu melihat cincin ini kepala kamu akan kambuh. Makanya Aku putusin untuk membukanya." Kali ini jawaban Marsha sangat tidak logis, apakah Marsha ini sedang berbohong ataukah sedang menutupi sesuatu.


"Terus, kenapa sekarang kamu malah memakainya?" Aku ingin tahu jawaban Marsha setelah ini. Dan kelihatannya Marsha semakin gugup begitu.


"Sayang, kenapa Aku memakai cincin ini. Karena kamu mulai ingat tentang cincin ini, makanya Aku pakai. Supaya kamu tambah mengingatnya." Sungguh alasan yang tidak masuk akal, sebenarnya apa yang telah disembunyikan oleh Marsha.


"Apakah benar apa yang kamu katakan itu Marsha? Bukankah kamu barusan bilang, kalau kamu takut kepalaku akan kambuh lagi jika Aku melihat cincin itu." Marsha kelihatan semakin gugup.


"Kenapa kamu gugup seperti itu Marsha?" Tanyaku lagi kepada Marsha. Lalu tiba-tiba Marsha menangis.


"Lalu kamu tidak percaya denganku Febri? Kamu jahat Febri. Hiks.. hiks.. selama ini kamu pikir Aku ini berbohong sama kamu? Selama ini Aku selalu berjuang untuk membantu kamu ingat semuanya, semua tentang kita. Hiks.. hiks.. hiks.. Tapi kamu malah mencurigai Aku seperti ini." Marsha menangis sesenggukan. Aku mencoba menenangkan Marsha namun Marsha menepis tanganku.


Aku pun memegang pundak Marsha dan membalikkannya ke arahku. Kemudian Aku menghapus air matanya yang mengalir di kedua pipinya.

__ADS_1


__ADS_2